in

Ide Resolusi 2021 Terbaik Versi Saya

Resolusi bukan soal mengganti kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru. Resolusi itu persoalan membuat hidup lebih baik.

Sebelum Menetapkan Kebiasaan Baru

Tidak mudah memaksakan kebiasaan baru, sekalipun itu bagus. Saran untuk “mengubah kebiasaan”, apalagi secara total, jarang berhasil. Sebagus apapun suatu saran, entah terbukti riset, atau hasil pengalaman terbaik, orang lebih memilih “enjoy” dengan cara lama daripada ganti kebiasaan. Yang suka nongkrong di warung kopi lebih dari 2 jam sehari, tidak mudah menggantinya dengan belajar bahasa Inggris 2 jam sehari. Ini bisa kamu ubah dengan cara mudah.

Saya tidak setuju dengan ajakan “ubah kebiasaan”. Yang terpenting bukan apa kebiasaannya, tetapi, cara-pandang terhadap kebiasaan itu. “Bisakah kita tambahkan sesuatu di dalam kebiasaan ini?”. Bisa jadi, kebiasaan sekarang bisa membuat kamu menjadi lebih produktif.

Tawarkan penyelesaian kepada diri sendiri. Yang perlu kita ubah, isinya. Apakah acara nongkrong itu bisa saya beri muatan berbeda? Tidak ada salahnya, ngopi bukan sekadar nongkrong. Kebiasaan ini bisa menjadi media untuk belajar. Ubah kebiasaan itu menjadi lebih berkualitas, lebih produktif.

“Enjoy mengalahkan segalanya, namun cobalah mencari, mungkin ada cara pandang baru, yang bisa mengubahnya menjadi kekuatan!
Jangan-jangan, kebiasaan lama, yang dianggap tidak produktif itu, sebenarnya bisa dimanipulasi menjadi sangat produktif. Apa yang terjadi kalau ngopi 2 jam, di luar rumah, menjadi jam belajar yang menyenangkan?”
(Baca: “Sebelum Menetapkan Kebiasaan Baru“)

Sama halnya, kebiasaan menonton video di YouTube, kalau dituruti, nggak ada habisnya. Bisakah menonton video menjadi “metode” atau “kesempatan” untuk melakukan lebih dari sekadar menonton?

Masih banyak kebiasaan lama saya di tahun 2020 yang akan saya jalankan di 2021. Bedanya, ada muatan lebih berkualitas.

Apa yang Saya Hapus di Tahun 2021

“Menghapus” bagian dari tindakan untuk mencapai fokus. Fokus bisa terjadi dengan membuang yang nggak penting, memblokir gangguan, dan mengalihkan energi ke perhatian kamu “sekarang”.

Dasar penghapusan kebiasaan ini, karena:

  • Menghabiskan waktu,
  • Sudah tidak efektif bagi hidup saya,
  • Terdapat cara yang lebih baik,
  • Tidak menguntungkan secara finansial,
  • Menghambat project kreatif lain, dan
  • Saya masih ingin menjelajahi bidang lain.

Saya menghapus beberapa kebiasaan ini, karena “harus”.

Bug Hunter

Saya dulu suka mencari bug. Sama sekali bukan pekerjaan mudah. Mencari bug tidak sama dengan memanfaatkan bug hasil temuan orang lain, kemudian kamu eksploitasi. Bug finder benar-benar berburu hadiah dengan cara mencari kelemahan keamanan aplikasi, celah berbahaya, kemudian di-submit. Hasilnya, dapat duit. Saya berhenti karena sudah pernah 2 kali menemukan bug. Kegagalan pertama, saya kalah cepat (selisih 2 jam) dari orang lain. Yang kedua, bug yang saya temukan tidak diakui vendor sebagai bug, kemudian di-patch begitu saja.

Dunia desain web dan menjadi developer aplikasi, tidak kalah menantang dibandingkan dengan bugfinder. Saya berubah dari mencari lubang keamanan ke membuat sesuatu untuk orang banyak. (Photo: Unsplash)

Saya berhenti karena mau fokus untuk mendalami bidang lain. Setiap hari, saya masih mengikuti berita keamanan internet dan mengikuti perkembangan dunia hacking. Hanya saja, tidak lagi ikut dunia bugfinder.

Waktu untuk menjadi bugfinder akan saya pakai untuk lebih fokus di dunia desain web dan menjadi developer aplikasi.

Kalaupun saya menemukan bug, tidak akan saya submit ke vendor. Akan saya pakai sendiri. : )

Workshop Setiap Bulan

Tidak akan menjadi prioritas saya, tahun ini. Sebelumnya, saya mengadakan workshop setiap bulan: menulis kreatif, keteateran, videografi, dll. Alasan berhenti, pertama karena situasi COVID-19 belum menentu. Selain itu, saya kehilangan banyak waktu hanya untuk datang ke suatu kota, duduk, bicara, praktek bersama, semacam “pengulangan”, meskipun saya selalu memberikan materi ” baru”.

Saya tidak mau waktu saya terkikis untuk perjalanan, interaksi formal, hanya untuk.menuruti cara “tradisional” tatap muka, di mana kehadiran saya bisa terwakili oleh medium lain.

Beberapa hal, memang tidak bisa diajarkan hanya dengan pembicaraan. Empati, kecerdasan kinestetik, audio, teater dan seni, tidak bisa diajarkan melalui penyampaian materi.

Dunia workshop memakan waktu perjalananan. Saya akan ganti dengan video tutorial dan tulisan lebih banyak. (Photo: Unsplash)

Saya sering bilang, akibat paling berbahaya dari COVID-19 secara sosial itu hilangnya interaksi untuk merawat kecerdasan. Guru tidak bisa mengkoreksi “gerakan” (kinestetik), “detail warna” (visual), “suara” (audio), dll. karena internet hanya difungsikan secara minimalistis, sebagai alat-bantu. Bukan medium inspirasi bagi pengajar. Orang “bertahan hidup” secara sosial.

COVID-19 memaksa orang mengalami pembiasaan baru. Cara saya bekerja, tidak berubah. Saya mendapatkan promosi dan tanggung jawab tambahan untuk.mengelola rubrik ” Opini Pembaca”, namun di sisi lain, sekeliling saya berubah. Pekerjaan saya tidak merugi karena COVOD-19 namun saya ingin membatasi interaksi. Saya butuh audien lebih luas, secara jarak-jauh. Dan workshop bukan lagi prioritas saya.

Sebagai gantinya, saya akan lebih sering menulis. Bagi sebagian kawan-kawan, mungkin ini keputusan pahit, namun harus saya lakukan.

Kebanyakan orang yang tidak bisa “move-on”, terjadi karena tidak bisa memaafkan diri-sendiri yang pernah salah mengambil keputusan. Kalau waktu kamu semakin sedikit untuk mengoptimasi masa lalu, waktumu akan lebih banyak untuk melangkah ke depan. (Photo: Unsplash)

Mengoptimasi Masa Lalu

Sudah saya hentikan. Biarpun kamu perbaiki, selagi itu pelajaran dari masa lalu, sama saja berkubang di masa lalu. Contoh yang sering terjadi, orang berkata, “Ada pelajaran di balik semua ini”, karena tidak memiliki sistem pengambilan keputusan. Atau mendasari pekerjaan lebih banyak karena hasil evaluasi atas pekerjaan kemarin.

Menjalani petualangan baru, lebih menarik daripada mengoptimasi masa lalu.

Untuk apa selalu memperbaiki kalau yang kamu perbaiki hanya masa lalu?

https://jatengtoday.com/negative-self-talk-71411

Hindari “negative talk” terhadap diri-sendiri. Abaikan hal-hal yang nggak penting. Beralih ke sesuatu yang lebih produktif dan mengarah ke masa depan. Perluas jaringan. Yang membuatmu berkubang atau tinggal di dalam tempurung bernama zona-nyaman, tinggalkan saja. Perbincangan yang sudah “selesai” bagimu, jangan ulangi lagi. Waktu tidak pernah menunggu. Waktu sangat berharga.

Berkubang di Media Sosial

Media sosial itu bagus, asalkan tidak menjadi tempat berkubang. Pertanyaan pertama ketika akan mengabaikan media sosial, “Apakah hidup saya akan terguncang jika meninggalkan perbincangan di media sosial?”. Saya jawab di kesempatan berbeda, beberapa kali, ” Tidak. Sama sekali tidak.”.

Masih pakai media sosial, namun tidak akan seaktif dulu. (Photo: Unsplash)

Saya masih memakai media sosial, namun tidak lagi aktif. Hanya share link, menulis status.

Tidak lagi melihat Beranda (Home). Tidak harus membalas komentar. Saya ingin orang lain mencitrakan saya “begini”, tidak ada lagi dalam pendirian saya di medsos. Dunia pembentukan impresi, saya ganti dengan ekspresi.

Jawaban panjang di komentar, gagasan yang menurut saya bernilai bagi orang lain, akan saya ubah menjadi tulisan di web.

Saya masih nge-group di Sinau Nulis Jawa, Apresiasi dan Budaya Peeayangan, World Data Recovery Expert, dll.
Saya menganggap Facebook hanya layak diperlakukan dengan modus ” read only”. Saya masih memakai Instagram dan aktif di Twitter dengan “cara saya”.

Tujuan saya, agar bisa lebih banyak menulis. Hubungan saya dengan kawan-lawan di media sosial, masih baik.
Konflik apapun di media sosial, saya abaikan.

Tidak menjadi monster ketika melawan monster. Nietzsche berkata, “Jika kamu menatap jurang tanpa-dasar maka ia sebenarnya sedang menatapmu.”. Bertarung menjadi monster bukan berarti kamu harus menjadi monster.

Saya tidak harus membalas komentar. Tidak perlu menjelaskan “apa yang sebenarnya terjadi”, kepada publik, kecuali itu sangat penting. Biarkan orang yang mem-bully kamu menunjukkan kepada publik bahwa ia adalah pem-bully, tidak perlu kamu balas. Jangan takut disalahkan orang karena pilihan kamu.

Saya suka menonton serial dan film, hanya yang memenuhi standar saya. Tidak terpengaruh rating. 10 menit buruk, tidak saya teruskan menonton. (Photo: Unsplash)

Menonton Film Box Office

Suka menonton film, bukan berarti harus memburu film box office. Tidak ngaruh bagi hidup, pekerjaan, dan bangunan keilmuan saya, mau menonton box office atau tidak. Saya hanya akan menonton film dan serial yang menurut standar saya bagus. Saya tidak terpengaruh film baru yang dapat rating 5/5 atau 8/10, kalau saya tidak suka, tidak akan saya tonton.

Lebih baik menonton serial Netflix, Amazon Prime, editing video, atau mengikuti sertifikasi online untuk memperbaiki kualitas pekerjaan.

Tidak perlu saya tunjukkan kepada siapapun, apa yang sudah saya ikuti dan berhasil saya raih. Pengakuan dan validasi eksternal dari orang lain hanyalah membuang waktu. Menonton film, sebagaimana membaca buku, adalah kebutuhan wajib, namun saya akan pilih-pilih.

Ketemuan Hanya untuk Nongkrong

Saya tidak suka ketemuan hanya untuk nongkrong. Bahkan untuk meeting (rapat), saya tidak suka, kalau bisa diselesaikan secara remote (jarak-jauh). Tidak perlu setiap hari nongkrong, apalagi sampai rutin, atau pembicaraan yang segera terlupakan.

Stop! Ini yang Akan Saya Lakukan di Tahun 2021

Sebaliknya dan sebaiknya, saya akan lakukan ini di tahun 2021. Saya akan mengutamakan pekerjaan, belajar, dan petualangan yang lebih menyenangkan.

Tim Ferris menuliskan Tools of Titans, menguraikan apa yang membuat orang-orang sukses dan perangkat apa yang mereka pakai. Hampir semua narasumber mengaku, ada 3 hal yang bisa mengubah hidup orang: kebiasaan hidup sehat, perspektif yang berbeda dari orang lain, dan perangkat yang tepat.

Belajar terus-menerus, maka kamu akan mendapatkan keahlian. Ikut keahlian dulu, passion akan datang sendiri. Mengikuti passion, belum tentu membawa keuntungan, belum tentu itu dunia kamu.

Memperbanyak client dan mendalami keahlian baru, terkait pekerjaan. Saya percaya, keahlian yang kuat akan diikuti dengan sendirinya oleh passion. Bukan sebaliknya. “Expertise first, passion later”. Cal Newport pernah ulas ini. Memperbaiki cara kamu bekerja, sampai kamu temukan ” angsa hitam” (black swan) adalah separuh jaminan untuk hidup baik.

Pernahkah kamu bertanya, “Mengapa tidak setiap pembelajar berhasil menjadi orang pintar? Mengapa tidak semua pekerja keras menjadi orang makmur?”. Dalami keahlian, maka pekerjaanmu akan semakin baik. Client akan datang mencari kamu.

Ini yang akan saya lakukan di tahun 2021.

Menulis Catatan Harian

Setiap hari, saya tetap akan menulis catatan harian dan menulis artikel opini. Selain merawat kesehatan dengan olahraga ringan dan makanan sehat, saya merawat pikiran dengan menulis catatan harian setiap hari.

Menulis Catatan Harian Mulai Sekarang

Menulis catatan harian hanya membutuhkan waktu 15 menit sehari.

Memperluas Jaringan, Perbaiki Metode dan Perangkat

Saya lakukan ini sambil-jalan. Adaptasi, improvisasi. Saya menyukai kebaruan, tantangan, dan petualangan. Baru itu lebih baik daripada lama yang membusuk. Jaringan yang lebih luas berarti wajah baru, tempat baru, yang lebih baik.

Pelajari proses. Temukan perangkat yang tepat. (Photo: Unsplash)

Perbaiki metode dan peralatan yang kamu punya. Saya memakai prinsip Elon Musk untuk tidak berhenti pada sesuatu yang saya percaya bahwa itu sudah baik. Apakah ini bisa dioptimasi? Adakah alternatif yang lebih-baik? Apakah dapat saya perbarui?

Saya menuliskan “Daftar Aplikasi untuk Menulis” yang dapat memperlancar pekerjaan menulis. Lebih tepatnya, ini bisa mengatasi masalah kepenulisan.

Daftar Aplikasi untuk Menulis (Garansi: Tidak Ada Hambatan-Teknis Lagi)

Jangan heran kalau apa yang saya sarankan sekarang, akan berubah. Hidup selalu berubah. Dunia selalu update, masak kamu nggak mau update?

Browsing 30 Artikel Terpilih Setiap Hari

Sehari, rata-rata 30 artikel. Sistem literasi saya, hampir sepenuhnya digital. Termasuk ketika membuat bookmark, mencatat, dan menyimpan apa yang saya baca. Fokus membaca 5 artikel panjang dalam sehari, sudah setara dengan membaca 20.000 kata.

Pilih referensi terbaik untuk membangun pengetahuan kamu, secara rutin. Buat prioritas dalam membaca. (Photo: Unsplash)

Untuk membuka “berita jam ini”, saya memakai List Berita buatan saya di Twitter. yang bisa diakses sekalipun tidak punya akun Twitter.

Saya memakai Newspaper Pro (versi berbayar) untuk membaca publikasi online seluruh dunia. Tentu tidak semuanya saya baca. Tempat favorit saya adalah: Medium, Inc, Forbes, Huffington Post, Harvard Business Review, dll. Bisa menambahkan URL sendiri.

Browsing dan kumpulkan bahan dengan Research Notes (Beta), di mana saya bisa highlight teks, menyimpan url, menambahkan tags dan catatan. Baca, ambil yang bagus, gunakan. Untuk bookmark, saya memakai Prism, extension Chrome sekaligus website, yang mirip Pinterest namun untuk bookmark URL (bukan hanya gambar).

Untuk menulis cepat, saya memakai Telegraph, tidak saya simpan (sementara).

Pikiran saya kurang bisa bekerja kalau harus ada folder dan tags. Pikiran saya mirip Finder di MacBook atau Desktop di Windows 10, yang penuh file dan folder “sementara”. Sekarang, sudah ada MyMind di mana saya bisa menempatkan apa saja di situ. MyMind bukan media sosial. Semua yang ada di MyMind, tanpa iklan, tidak ada trackers, tidak perlu menuliskan tags, dan tanpa folder. Kamu bisa register di MyMind dengan invite.

Masih banyak perangkat yang saya pakai ketika bekerja, sesuai kebutuhan.

Seminggu Sekali Melengkapi Koleksi ebook dan Membaca 2 Buku

Tidak setiap hari. Hanya seminggu sekali. Setiap ada buku best sellers dari Good Reads, New York Times Bestsellers, dan Amazon, saya mencari dan membaca jika bagus. Saya fokus di buku-buku ilmiah, non-fiksi. Sampai sekarang, channel @tamanmerah di Telegram, masih aktif. Berisi buku-buku koleksi saya. Kalaupun nanti akan dihapus Telegram (anggap saja, ini kemungkinan buruk), saya sudah punya backup di Android dan cloud. Ada juga yang di dalam HDD eksternal. Senang rasanya memiliki 7K+ buku yang sudah saya tata rapi. Saya hanya punya 1 rak buku kertas. Saya lebih fokus di koleksi ebook digital.

Koleksi dan baca ebook, jauh lebih efisien daripada mengumpulkan buku kertas. Jangan lupa share apa yang kamu baca. (Photo: Unsplash)

Saya bisa membaca 2 buku dalam seminggu. Kuncinya bukan di motivasi. Kuncinya, kamu punya sistem: untuk fokus dan mengelola waktu. Zaman di mana saya harus fokus dan menyendiri ketika membaca buku, sudah lewat sekitar 17 tahun yang lalu. Sekarang, karena belum sepenuhnya punya waktu bebas membaca, saya melakukan akumulasi. Durasi 60 menit membaca adalah 10 menit sebanyak 6 kali. Sukar fokus, cobalah berlatih.

Tidak betah membaca di smartphone? Tergantung, kamu pakai format ebook apa. Saya bisa, karena semua buku yang saya baca berformat .epub, dalam Android. Format .pdf hanya buku-buku lama dan majalah baru. Saya membaca dengan Moon+ Reader Pro. Aplikasi ini benar-benar perpustakaan dalam genggaman tangan. Bisa menambahkan highlight, menyimpan ringkasan, membuat anotasi, melakukan referensi-silang, dan “baca nanti”. Kalau perlu, saya pakai text to speech. Mambaca bukan saja lebih mudah, namun juga lebih mudah mengingat.

Membagikan apa yang saya baca dan menuliskan anotasi, bisa membuat saya lebih memahami content buku. Apa artinya membaca kalau hanya untuk diri sendiri? Seperti komputer yang tidak terhubung internet.

Dunia bekerja dengan algoritma dan database. Setiap orang memiliki cara memahami dunianya. Setiap orang bisa memiliki database yang terus diperbarui. (Photo: Unsplash)

Memperbaiki Database

Dari sekian banyak file yang kamu punya, berapa yang benar-benar kamu buat sendiri?

Saya menyukai penelitian, menjawab pertanyaan setiap hari. “Bagaimana ini bisa terjadi?” Saya menerapkan ”seni mengamati”. Selama melakukan pengamatan, saya sering menteorikan proses (aktivitas ini tidak mudah), membuat daftar-periksa versi saya, kemudian memperbaiki database. Saya punya database yang tidak saya connect ke internet, karena ini aset yang sangat berharga bagi saya. Kamu bisa membuat database sendiri dengan Memento Database. Ada versi web dan aplikasi untuk Android. Daftar nama, bookmark, transkrip wawancara, penelitian “grounded theory”, adalah project pribadi saya yang dapat memperbaiki sistem pengetahuan dan tidak saya bagikan kepada siapa saja. Ini sangat berguna dalam pekerjaan saya.

Sekali lagi, kebiasaan lama (sejak 2013), yang saya anggap baik, hanya saya kembangkan.

Catatan ini hanya untuk memberikan inspirasi kepada kawan-kawan, bahwa tidak mungkin 2021 kita buat serba-baru, kebiasaan baru, dalam bentuk pemaksaan. Yang perlu kita lakukan hanya memberikan muatan berbeda, agar hidup kita menjadi lebih baik. Terutama dalam hal: belajar, bekerja, dan berinteraksi-sosial.

Dunia setiap orang berbeda-beda, resolusi masing-masing orang bisa jadi berlainan. Ini hanyalah update dari diri saya di versi 2021. Kamu bisa jauh lebih keren dari ini.

Apa ide resolusi 2021 terbaik versi kamu? [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.