in

Seni Mencatat yang Membuatmu Produktif

Kamu sudah mencatat, masih belum juga produktif dan kreatif? Cara kamu mencatat dan memperlakukan catatan perlu kamu perbaiki.

Saya berikan contoh “yang dianggap catatan” namun sering bikin orang tidak produktif: transkrip, notulensi, screenshot, dan catatan kuliah. Saya akan jelaskan apa sebabnya kamu tidak produktif padahal sudah rajin mencatat.

Yang pertama, karena cara kamu memahami catatan. Kebanyakan orang, menganggap catatan sebagai hasil berfikir. Guru di sekolah sering bertanya, “Mana catatan kamu kemarin?”.

Ubah cara berpikir seperti itu, menjadi begini:

Catatan bukanlah hasil berpikir. Catatan adalah media di mana pemikiran terjadi.

Kamu memulai menulis, ketika “sedang” membaca, mencatat, dan melakukan perbincangan. Bukan ketika duduk dan mengetik.

Buatlah catatan. Untuk mengerti apa itu “catatan” yang saya maksudkan, bacalah paragraf ini.

Catatan adalah.. Produk sampingan ketika membaca. Keterlibatan dengan teks. Untuk mengembangkan teori besar. Mengatur pikiran untuk melacak informasi. Membangun sumber daya publikasi. Media eksternal untuk elaborasi — dengan cara: menyalin, menerjemahkan, menulis ulang, membandingkan, membedakan, dan menggambarkan ide baru dalam istilah kita sendiri. Melihat ide dari beberapa perspektif. Menulis untuk mempertanyakan, mempertajam, dan memperluas apa yang kamu baca.

Tidak ada pengetahuan pribadi di dunia akademis. Ide yang dirahasiakan sama bagusnya dengan yang tidak pernah kamu miliki.

Kreativitas tidak dimulai dari nol. Bukan dari halaman kosong. Kamu tidak bisa memutuskan topik menarik untuk kamu tuliskan, jika belum membaca referensi. Semua kerja pra-penelitian, melibatkan aktivitas “menulis”.

Ajakan brainstorming akan kacau kalau peserta tidak memiliki catatan. Dengan kemampuan mencatat, kamu bisa lepaskan-diri dari jalur penulisan tradisional linier. Kamu bisa ekstrak informasi dari sumber linier, menemukan pola. Ketika kamu ada tuntutan menulis, kamu sudah punya bahan-baku, dari catatan kamu.

Kamu tidak butuh aplikasi bagus dengan fitur terlalu banyak.

Saya berani jamin, aplikasi seperti Notion, Microsoft Word, dll. hanya cocok untuk presentasi dan penugasan. Terlalu banyak fitur tidak membuat pemakai lebih produktif. Pikirkan alat yang lebih simple.

Alat dan teknik kita, sama berharganya dengan alur kerja. Semua bagian dalam proses mencatat, mengarah pada perspektif holistik. Sistem yang baik tidak menambahkan opsi dan fitur; mereka menghilangkan kerumitan dan gangguan dari pekerjaan utama, yaitu: berpikir.

Singkatnya, carilah aplikasi yang membuat pikiranmu bersih, membuatmu suka membuka-kembali apa yang sudah kamu tulis, kemudian mendorong kamu melakukan perbaikan.

Standardisasi memungkinkan kreativitas. Kamu perlu sistem yang sejalan dengan kreativitas kamu.

Kebanyakan orang.. Membuat highlight, menggaris-bawahi kalimat, menyimpan -sebagai- quote, bookmark, menulis di kertas, dll. di tempat berbeda-beda. Susah diakses ketika butuh, susah mencari hubungan antar-catatan.

Membuat catatan, seperti mengemas barang ke dalam peti-kemas (container box), yang siap-kirim.

Buatlah catatan kamu seperti Lego. Bahan yang tetap, bentuk yang berbeda-beda. Siap kirim.

Setiap kegiatan yang membentuk “menulis” – membaca, merefleksikan, memiliki ide, membuat koneksi, membedakan istilah, menemukan kata yang tepat, menyusun, mengatur, mengedit, mengoreksi, dan menulis ulang – membutuhkan perhatian berbeda. Metodenya berbeda-beda. Membuat slip-box (catatan) adalah wadah di balik semua metode itu.

Kamu berperan sebagai pencipta sekaligus kriitikus.

Kualitas mencatat ditentukan oleh: umpan balik berkualitas tinggi. Buatlah target. Kamu mencatat apa? Seberapa banyak? Untuk apa?

Kerjakan beberapa proyek secara bersamaan. Fokus memang penting, namun kamu tidak tahu, kapan suatu ide akan menjadi ide terbaik: relevan dan kuat. Lebih baik membuat catatan dalam kondisi apapun.

Atur catatan berdasarkan konteks, bukan topik.

Pertanyaan, “Dalam konteks apa, saya akan membutuhkan catatan ini lagi?”.

Jangan membuat klasifikasi berdasarkan “dari mana” referensi ini berasal, tetapi bayangkan “mau di kirim ke mana” barang ini. Kamu bukan pustakawan. Kamu penulis.

Penulis tidak memikirkan satu lokasi yang “benar” untuk sebuah informasi. Mereka berurusan dengan “memo” yang sering dapat digunakan kembali dan digunakan kembali di tempat lain. Saya berikan 1 contoh. Pada suatu hari, saya menyadari bahwa saya tidak tahu, apa istilah untuk “bau tanah yang terkena hujan pertama”. Akhirnya saya tahu istilahnya, saya tuliskan pengertiannya, dst. Ini saya taruh dalam “catatan” yang bisa saya pakai untuk apa saja.

Produk sampingan yang dibuang dari satu tulisan dapat menjadi pilar penting dari yang berikutnya.

Slip-box adalah alat berpikir, bukan ensiklopedia, jadi kelengkapan tidak penting.

Satu-satunya celah yang perlu kita perhatikan adalah celah dalam naskah akhir yang sedang kita kerjakan.

Ikuti jalan yang paling menarik. Buat hubungan pribadi antara kamu dan catatan kamu. Lihat makna, hubungkan dengan tujuan pribadi, kendalikan studi kamu secara mandiri, dengan cara kamu sendiri.

Kita disuruh “membuat rencana” di muka dan secara rinci. Kesuksesan kemudian diukur dengan seberapa dekat kita berpegang pada rencana ini. Minat dan motivasi kita yang berubah harus diabaikan atau ditekan jika mereka mengganggu rencana.

Simpan ide-ide kontradiktif.

Ketika kamu fokus pada koneksi terbuka, data yang diskonfirmasi atau kontradiktif tiba-tiba menjadi sangat berharga. Ini sering menimbulkan pertanyaan baru dan membuka jalur penyelidikan baru. Pengalaman memiliki satu bagian data yang benar-benar mengubah perspektif kamu.

Kita perlu menemukan cara untuk melawan bias konfirmasi – kecenderungan kita untuk mempertimbangkan hanya informasi yang menegaskan apa yang sudah kita yakini. Kita perlu secara teratur menghadapi kesalahan, kegagalan, dan kesalahpahaman kita.

Apa yang kamu catat harus jelas: ini pertanyaan atau fakta? Ini akan saya pakai untuk apa? Bisakah secara ilmiah saya pakai? Jangan hanya merasa lebih pintar. Jadilah lebih pintar.

Pada akhirnya, belajar tidak boleh tentang menimbun tumpukan pengetahuan seperti koin emas. Ini tentang menjadi orang yang berbeda dengan cara berpikir yang berbeda.

Saya mengalami evolusi bersama catatan saya.

  • Catatan Singkat. Catatan informal. Gagasan sekilas dalam pikiran. Tidak detail. Sebagai reminder. Kamu bisa buang nanti.
  • Catatan Literatur. Selektif sebelum menyimpan. Singkat. Gunakan kata-kata kamu sendiri. Tuliskan rincian bibliografi pada sumbernya.
  • Catatan Permanen. Mengumpulkan ide dan mengembangkan argumen. Lihat topik yang kamu tulis di slip-box. Seolah-olah, catatan permanen ini untuk orang lain. Apa hubungan informasi ini dengan informasi yang sudah saya ketahui? Bisakah terjadi ide baru? Pertanyaan apa yang dipicu oleh ide-ide baru ini?

Masukkan catatan permanen ke slip box. Kembangkan pertanyaan dari slip box.

Kembangkan topik, pertanyaan, dan proyek penelitian kamu dari bawah ke atas. Buat pertanyaan, cari celah, berikan pandanganmu.

Kadang kamu tidak tahu, slip-box yang ini mau masuk ke topik apa?

Catatan bisa menjadi dratf kasar. Edit dan koreksi catatan kamu, sampai benar-benar fungsional.

Untuk mengarsipkan content yang kamu khawatir akan lenyap dari internet, kamu bisa pakai wayback machine.

Mencatat dengan cara di atas, membuat kamu memiliki tumpukan slip-box yang kelak bisa kamu pakai sebagai alat berpikir. Slip box bisa kamu tempelkan, kamu ubah susunannya, untuk gagasan yang lebih besar.

Cara kamu memperlakukan catatan akan mengubah cara kamu berpikir. Ingat sekali lagi: kamu tidak sebatas merekam. Kamu berpikir selama mencatat (bukan menyalin) dan akan pakai catatan itu untuk berpikir. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *