in

Minat Asuransi untuk Cover Gagal Panen Masih Rendah

SEMARANG (jatengtoday.com) – Minat petani untuk mengikuti program Asuransi Usaha Tani Pada (AUTP) di Jateng tergolong sangat rendah. Padahal, AUTP mampu menjamin petani tetap untung meski mengalami gagal panen.

Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Jateng, Herawati Prarastyani menjelaskan, menjelang musim kemarau ini, petani diimbau untuk ikut program AUTP. Pasalnya, melihat dari tahun sebelumnya, banyak lahan petani yang gagal panen karena kekeringan.

Tahun ini, puncak kemarau diprediksi terjadi mulai Agustus-September. Di Jateng, ada 33 kabupaten/kota di Jateng yang berpotensi mengalami kekeringan.

“Artinya, mulai tahun ini, petani harus sadar AUTP,” ucapnya, Senin (15/7/2019).

Dari datanya, pemerintah pusat lewat APBN menyediakan subsidi untuk 207 ribu hektare pertanian yang masuk AUTP. Tapi hingga Mei 2019 lalu, realisasinya baru 4.235 hektare, atau 2,05 persen.

Hal yang sama terjadi dari program yang sama yang dialokasikan oleh Pemprov Jateng melalui APBD. Dari alokasi 45 ribu hektare namun realisasi baru mencapai 15 ribu hektare.

“Biaya premi asuransi itu Rp 180 ribu per hektare tapi disubsidi pemerintah sehingga menjadi Rp 36 ribu saja. Jika mengalami bencana maka per hektarenya petani memperoleh Rp 6 juta,” paparnya.

Subsidi dari APBD dari Pemprov Jateng hanya dipetuntukkan bagi petani yang berada di zona merah kemiskinan dengan kepemilikan lahan maksimal 0,3 hektare.

Meski murah dan menguntungkan, tapi program ini tidak diminati. Alasannya, kata Herawati, sikap petani yang menganggap kurang pentingnya asuransi. Padahal, lanjutnya, premi yang dibayar murah karena sudah disubsidi oleh pemerintah.

“Mereka merasa tak mengalami kerugian. Padahal, kalau terjadi bencana seperti kekeringan atau kebanjiran, maka bisa di klaim dan memperoleh pengganti yang cukup besar,” terangnya.

Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Jateng Messy Widiastuti menjelaskan, upaya masif sudah dilakukan oleh Dinas Pertanian termasuk sosialisasi melalui penyuluh pertanian di semua daerah. (*)

editor : ricky fitriyanto