in

Petani Selalu Merugi saat Panen, Sebut Biaya Tanam Sangat Tinggi

Para petani merasa merugi meski hasil panen optimal, karena biaya tanam yang tinggi. (pixabay)

SEMARANG (jatengtoday.com) – Petani masih mengeluhkan harga hasil panen. Pasalnya, petani selalu merugi meski hasil panen sudah optimal.

Hal itu diungkapkan Sektretaris Komisi B DPRD Jateng, Mihammad Ngainirrichadl, Senin (13/12/2021). Dikatakan, kerugian panen tersebut terjadi karena harga komoditas tidak sebanding dengan biaya tanam.

Persoalan pupuk menjadi salah satu permasalahan para petani. Karena, di musim tanam justru terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi.

“Mereka (petani) berharap pemerintah bisa melakukan pengawasan terhadap distributor dan agen agar tidak terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi di saat petani membutuhkannya. Bahkan, Kartu Tani juga tidak efektif karena saat digunakan tidak bisa akibat terjadi kelangkaan,” ucapnya.

Kondisi itu semakin sulit saat petani terpaksa membeli pupuk nonsubsidi dengan harga mahal. Karena itu, pemerintah juga diharapkan menambah alokasi pupuk bersubsidi agar tidak terjadi kelangkaan dan para petani tetap produktif.

“Untuk sementara, saya menyarankan agar petani menggunakan pupuk organik dari kotoran hewan karena sebagian besar petani juga beternak. Itu salah satu solusi atas mahalnya harga pupuk non subsidi. Rata-rata, pertanian di Temanggung dan Wonosobo tersebut menanam tembakau, kopi, dan palawija,” jelasnya.

Legislator PPP ini pun meminta Pemprov Jateng ikut mengawal para petani. Dari awal tanam, hingga paskapanen. Dengan adanya campur tangan pemerintah itu, diharapkan nasib petani bisa menjadi lebih baik.

“Nah, mereka minta ada perlindungan dari pemerintah. Dalam hal ini, ada kepastian hasil panen tani,” tandasnya. (*)

editor : tri wuryono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.