in

Peninggalan Sejarah Terbengkalai, Wali Kota Semarang Dikirimi Surat

SEMARANG (jatengtoday.com) – Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Semarang, Theodorus Yosep Parera mengirimkan dua surat rekomendasi kepada Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Keduanya untuk merawat peninggalan sejarah. Yakni Gedung Marabunta di Kawasan Kota Lama, dan Monumen Ketenangan Jiwa di Pantai Baruna, Semarang Utara.

Beberapa waktu lalu, tim Rumah Pancasila sudah meninjau lokasi tersebut. Menurut Yosep, keduanya tampak mangkrak tak terawat. Banyak rumput liar tumbuh subur di lingkungan Monumen Ketenangan Jiwa. Bangunan di Marabunta pun tampak kuyu.

Dijelaskan, Monumen Ketenangan Jiwa menyimpan peristiwa pertempuran pemuda Semarang melawan Jepang, 15-19 Oktober 1945 silam.

“Ceritanya, sekitar 150 tentara sipil Jepang yang jalan kaki dari Weleri, Kendal, menuju pusat tentara di Jatingaleh dihadang pemuda Semarang di sana. Akhirnya terjadi peperangan. Mayat-mayat orang Jepang dan pemuda Semarang, dilarung (dihanyutkan) di sungai itu,” tuturnya.

Yang menarik, lanjutnya, ada orang Jepang yang menuliskan ‘Hidup kemerdekaan Indonesia’ dengan bahasa Jepang, menggunakan darahnya sendiri.

“Ini sejarah yang tidak boleh dilupakan. Karena itu, kami mengirimkan surat rekomendasi kepada wali kota agar Monumen Ketenangan Jiwa dipugar. Dan peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang tidak hanya di Tugu Muda saja, tapi juga di sana,” bebernya.

Jika Pemkot Semarang tidak menanggapi, Yosep berencana bakal mengumpulkan warga Semarang untuk bersih-bersih Monumen Ketenangan Jiwa. Tidak mentup kemungkinan, juga menggelar acara saat peringatan pertempuran lima hari.

“Surat rekomendasi juga kami tembuskan ke presiden, DPR RI, dan Gubernur Jateng. Agar menjadi perhatian, karena tempat ini juga berpotensi untuk kawasan wisata, terutama untuk turis dari Jepang. Selain itu, juga membuka lapangan kerja baru,” harapnya.

Ajie MH.