in

Rahasia Memahami Masalah

Agar tidak salah memahami masalah, pilih jenis masalah yang akan kamu selesaikan.

Mana yang kamu pilih? Pertama, mempunyai banyak masalah, lalu bisa kamu atasi dengan 1 solusi.Kedua, mempunyai 1 masalah besar, lalu bisa menemukan banyak solusi dan masalah lain, di sekitar masalah itu.

Saya pernah menanyakan kedua pilihan itu, kepada 30 orang kawan, rata-rata mereka menjatuhkan pilihan ke nomor 1. Padahal, mereka tidak tahu, seperti apa contohnya. Mereka ingin, banyak masalah dalam hidupnya, bisa diselesaikan cukup dengan 1 solusi.

Spoiler: Tidak ada 1 solusi untuk banyak masalah, jika kamu benar-benar memgerti apa masalahnya, dan jika ada, solusi itu tidak terlalu ampuh.

Seperti apa, bentuknya? Saya berikan contoh.

Punya Banyak Masalah dengan 1 Solusi

Pilihan masalah pertama: punya banyak masalah, dengan 1 solusi. Contohnya? Kamu ingin membuka dokumen, memotret, menandai koordinat GPS “tempat ini”, berbicara dengan klien, membaca berita terbaru, dst. Mungkin ada 50-100 masalah. Semua itu bisa diatasi dengan 1 solusi, bernama smartphone Android.

Hampir semua orang punya, namun tidak menyadari kesaktian smartphone dalam genggaman. Bukan hanya smartphone. Sebuah buku bagus, atau seorang pacar, atau kafe, jika kita menyadari fungsinya, dapat menjadi “1 solusi atas banyak masalah”.

Sadari fungsinya, naikkan fungsinya. Lebih penting dari itu adalah membatasi masalah. Kalau tepat merumuskan masalah, solusi ada di sana. Kalau tahu pertanyaannya, di sana tersimpan jawabannya.

Ada sebuah adegan, di film “My Girlfriend is an Agent” yang menceritakan bagaimana merumuskan masalah.

Agen Senior, menantang Agen Baru. Siapa yang bisa mengambil pistol duluan di atas meja, dinyatakan menang. Agen Baru sangat fokus pada pistol. Ia menghitung jarak antara dirinya dengan pistol itu, bahkan memperkirakan gerakan “tanpa hambatan” agar ia bisa meraih pistol itu, lebih cepat daripada Agen Senior.

Ternyata, Agen Senior tidak berpikir demikian. Agen Senior justru mengawasi ekspresi wajah Agen Baru.

Ketika ada aba-aba “Mulai!”, keduanya bergerak cepat. Agen Baru meraih pistol itu. Gagal. Agen Senior lebih pintar. Begitu mendengar aba-aba “Mulai!”, Agen Senior memukul wajah Agen Baru sampai terjengkang dan kesakitan. Lalu dengan mudah, Agen Senior mengambil pistol yang masih di atas meja, membuka kunci pengamannya, dan siap menembak, “Kamu mati!”.

Agen Senior tahu, di mana masalahnya. Cari sumber masalahnya, atasi. Lawan hanya satu, lumpuhkan dulu, maka pistol itu bisa ia raih dengan mudah.

Masih di film yang sama, dengan adegan dan masalah sama, terjadu solusi berbeda. Agen Senior tidak memukul wajah Agen Baru, tetapi, menendang meja tempat pistol itu, sehingga mengenai Agen Baru, dengan akibat yang lebih parah daripada memukul wajah.

Kalau.kamu tahu di mana masalahnya, ada lebih dari 1 pemecahan masalah. Ternyata, masalahnya bukan siapa yang mengambil senjata paling cepat, melainkan siapa yang mengalahkan manusia yang ingin mengendalikan senjata itu.

Kalau masalahnya berbicara secara intim, mungkin tidak harus selalu bergantung pada 1 solusi bernama smartphone Android. Bisa dengan berbicara secara langsung.

Memahami 1 Masalah, Menemukan Banyak Solusi

Berikutnya, yang lebih sering terjadi: menyelesaikan 1 masalah besar, lalu menemukan masalah dan solusi lain.

Contohnya: saya ingin bisa menulis artikel. Itu “masalah besar” untuk saya. Inginnya, bisa keren seperti para penulis idola saya, namun, tidak semudah yang saya bayangkan.

Problem bernama “menulis artikel”, dalam hal ini, membutuhkan banyak piranti, jembatan, keterkaitan, dengan kumpulan “masalah lain”, seperti: referensi, membaca berita, membuat outline, merumuskan masalah, komposisi dan argumentasi, bagaimana caranya fokus menulis, sampai memilih quote yang menarik.

Satu masalah besar (bernama “bagaimana cara menulis artikel yang menarik”) ternyata dikelilingi oleh kumpulan masalah lain.

Seseorang perlu mengerti bagaimana membaca referensi, sehingga akan membawanya kepada solusi “membaca cepat” dan mengklasifikasi sumber. Ua harus belajar bagaimana mengatasi gangguan, dst.

Banyak “masalah besar” yang bisa membawa seseorang kepada petualangan, temuan mengejutkan, serendipity, penjelajahan. Tersesat yang sangat menyenangkan.

Banyak hal sederhana yang jika dimasuki lebih mendalam, bisa menjadi “masalah besar”, menjadi pintu dari kebosanan menjadi petualangan.

Menghadapi anak yang tidak mau memperhatikan pelajaran, justru mengantar orang untuk mengerti apa itu ADHD dan betapa banyak orang jenius yang mengidap ADHD. Belajar menulis berita, justru membuat seseorang dapat kenalan dan jaringan yang tidak pernah ia bayangkan.

Besar kecilnya masalah, bergantung kepada seberapa passion seseorang dalam membuka-diri.

Apa saja masalah yang ada di sekitarnya? Di antara sekian banyak hal yang merepotkan di sekitar masalah besar ini, seberapa cepat saya bisa menyelesaikan?

Jadi, jika ada 2 pilihan, seperti yang tertulis di awal, keduanya bisa sama-sama menyenangkan.

Actionable:

Jangan menganggap masalah yang sedang kamu hadapi, sama seperti masalah yang pernah dihadapi orang lain. Pahami masalah, maka akan ada banyak “masalah lain” yang menghasilkan lebih banyak solusi.

[dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.