in

Caramu Bicara dengan Orang Asing Akan Ubah Hidup Kamu

Konflik dan gagal-bisnis sering terjadi karena ada yang sangat salah dengan cara dan perangkat yang kita pakai untuk bicara dengan orang asing.

bicara dengan orang asing
Bicara dengan orang asing, sebenarnya, kamulah orang asingnya. Perlu strategi khusus agar berhasil. (Credit: Nataliya Komarova

Peluang besar dan perubahan hidup, sering terjadi setelah kita berhasil berbicara dengan orang asing. Lihatlah kawan SMA, orang di sekitar pekerjaan kita, kebanyakan kita tidak kenal mereka sebelumnya. Para pembelajar, penjual, pelobi, penjelajah, dan penjajah yang kejam sekalipun, mereka punya strategi berbicara dengan orang asing. Itu sebabnya, bicara dengan orang asing memerlukan strategi yang tepat.

Malcolm Gladwell jelaskan ini dalam buku Talking to Strangers (Berbicara dengan Orang Asing).

Buku ini dicari dan menjadi pegangan para pembelajar, pelobi, pemasar, dan mereka yang ingin menjelajahi peluang baru dalam hidup.

cover buku talking to strangers malcolm gladwell
Buku Talking to Strangers Malcolm Gladwell mengajak orang mengetahui apa yang perlu diketahui ketika bicara dengan orang tak-dikenal. (Credit: Amazon)

Interaksi dengan orang yang membutuhkan introspeksi serta parameter pertimbangan tertentu untuk keselamatan kita sendiri dan mereka.

Strategi interaksi kita dengan orang asing sangat cacat:

  • Cenderung menilai orang lain berdasarkan standar yang tidak akan kita tujukan pada diri kita sendiri. Misalnya, orang menganggap orang lain melakukan cara makan yang aneh, jika tidak sama dengan cara makan di tempatnya.
  • Mengandalkan ekspresi wajah, untuk memperhatikan kepribadian orang, tanpa memperhatikan konteks. *) Bahasa tubuh sangat menipu dan mudah dimanipulasi, belum tentu dari batin.

Konteks adalah segalanya! Kamu perlu akurat dalam melihat konteks. Dari mana asal mereka?  Apa keyakinan mereka?  Apa bahasa komunikasi yang mereka sukai?

Tidak dalam waktu singkat.

Orang Menilai Berdasarkan Dirinya Sendiri

Orang cenderung menilai berdasarkan dirinya sendiri, mengungkapkan secara “default” pada kebenaran, mengabaikan semua penanda yang menunjukkan bahwa seseorang berbohong kepada kita.

Mereka yang terlatih dalam pengawasan senior kebohongan, agen rahasia,  tidak lebih baik dalam mengawasi kebohongan.

Bahaya Mempercayai Orang Lain

Cenderung mempercayai orang lain,membentuk asumsi salah.

Contohnya, alkohol. “Dalam anggur, ada kebenaran”. Iklan gaya-hidup, film, dan orang-orang yang suka mengkonsumsi alkohol, menceritakan manfaat alkohol dalam minuman. Sebagian pendapat membenarkan hal itu. Apakah kamu percaya?

Penelitian menunjukkan: alkohol bukan agen wahyu. Alkohol itu  agen transformasi.  Efeknya pada jaringan otak membuat kita melakukan hal tak-biasa. Setelah tersadar, malu kemudian.

Ini cerita selingan tentang cara kawan saya bebas dari kecanduan alkohol 15 tahun. Minuman beralkohol itu penuh mitos. Nggak ada sehatnya. “Berhenti” adalah cara paling murah.

Jelajahi Pembatas Saya dan Orang Asing

Malcolm Gladwell mengeksplorasi aspek-aspek dinding-pembatas antara kita dengan orang asing, daerah yang terabaikan, dan  membantu mengoreksi anomali ini.

Terkadang percakapan terbaik antara orang asing memungkinkan orang asing tetap menjadi orang asing.

Jarang terjadi permusuhan, dalam sebagian besar sejarah manusia, di antara orang asing. Orang yang kamu temui, lebih sering orang yang percaya pada Tuhan yang sama, membangun gedung, dan mengatur kota seperti kamu. Konflik paling berdarah abad ke-16 tidak cocok dengan pola-pola itu.

Mari perhatikan cerita ini:

Penakluk Spanyol, Hernán Cortés, bertemu penguasa Aztec Montezuma II, sama-sama tidak saling-kenal. Mereka mengandalkan beberapa lapisan terjemahan yang menyebabkan kesalahpahaman besar. Cortés membunuh Montezuma II.

Bagaimana seorang mata-mata bisa berada bertahun-tahun di level tertinggi Pentagon tanpa terdeteksi? Bagaimana Sylvia Plath bunuh-diri?

Dalam semua kasus ini, pihak yang terlibat mengandalkan seperangkat strategi untuk menerjemahkan kata-kata dan niat satu sama lain. Ada yang tidak beres.

  • Apa strategi ini?
  • Dari mana asalnya?
  • Bagaimana kita memperbaikinya?

Ilusi “Wawasan Asimetris”

Ilusi “wawasan asimetris” membuat orang yakin dirinya mengenal orang lebih baik daripada mereka mengenal kita dan kita dianggap kurang mengenal mereka. meyakinkan diri kita sendiri bahwa kita mengenal orang lain lebih baik daripada mereka mengenal kita.

Emily Pronin, memberikan pelatihan tentang tugas menyelesaikan kata. Para peserta diminta mengisi titik-titik kosong. Setelah menjawab, mereka diberi pertanyaan, tentang bagaimana gambaran diri kamu berdasarkan pilihan kata yang kamu isikan di jawaban itu?

Responden mengambil posisi sama. Mereka percaya itu hanya kata-kata dan bukan penentu kepribadian mereka.

Pronin memberikan kata-kata orang lain, untuk kelompok ini. Orang asing yang sempurna.

Pronin mengajukan pertanyaan sama. Orang-orang yang sama, yang mengklaim bahwa latihan itu tidak berarti, ternyata sekarang menghakimi orang berdasarkan latihan penyelesaian kata ini.

Mereka terjebak pada perangkap dalam kontradiksi.

Inilah yang disebut “ilusi wawasan asimetris”.

Fidel Castro Menghabisi CIA di Kuba

Florentino Aspillaga, semula mata-mata Kuba yang kecewa terhadap Fidel Castro. Tahun 1986 di Bratislava (ibukota Slovakia) ia memutuskan membelot. Aspillaga bercerita kepada CIA, mengungkapkan daftar agen rahasa CIA yang bekerja untuk Havana. Orang-orang CIA tidak tahu kalau informasi ini sengaja diciptakan Castro untuk menghabisi CIA di Havana.

Hitler Menipu Chamberlain dalam Pertemuan Langsung

Pada tahun 1930-an, ketika Hitler menyulut Perang Dunia, para pemimpin dunia belum pernah bertemu dengannya secara langsung. Joseph Stalin dari Soviet, Winston Curchill dari Inggris, dan Franklin Roosevelt dari Amerika, belum pernah bertemu Hitler.

Neville Chamberlain, pendahulu Churchill, bertemu Hitler berulang kali dalam periode yang mengarah ke perang dengan 1 tujuan: menghindari perang. Terlepas dari bukti mengejutkan yang menatap kembali ke Chamberlain, ternyata Curchill memilih untuk percaya bahwa Hitler telah menyetujui perdamaian.

Negosiasi Chamberlain dengan Hitler secara luas dianggap sebagai salah satu kebodohan besar dalam Perang Dunia II.

Melalui interaksi pribadi, Chamberlain tidak melihat Hitler lebih jelas.

  • Mengapa kita tidak tahu ketika orang asing di depan kita berbohong di depan kita?
  • Bagaimana mungkin, bertemu dengan orang asing terkadang bisa membuat kita lebih buruk dalam memahami orang itu daripada tidak bertemu mereka?

Kita memanfaatkan waktu dan kesempatan untuk melihat orang asing, tetapi gagal melihat diri sendiri. Kita lebih bernuansa dan rumit, dan penuh teka-teki.

Kita merasa, orang asing itu mudah. Ingat, orang asing itu tidak mudah.

Mata-mata paling berbahaya, jarang sekali jahat. Masalah dengan mata-mata bukanlah bahwa ada sesuatu yang brilian tentang mereka. Ada yang salah dengan kita.

Pandangan Default tentang Kebenaran

Kami memiliki pandangan default untuk kebenaran bahwa sesuatu yang tidak dapat disangkal benar harus terjadi agar kami mengubah posisi atau pandangan kami.

Tim Levine membuat kuis trivia kepada 44 orang. Hasilnya: 22 pembohong, 22 pendongeng, dan 56% pembohong. Jawaban Levine disebut “Truth-Default Theory” (TDT).

Cara Keluar dari Kebohongan

Untuk keluar dari mode kebenaran-default membutuhkan apa yang Levine sebut sebagai “pemicu.”

Pemicu tidak sama dengan kecurigaan atau bagian pertama dari keraguan.
Kita bisa keluar dari mode kebenaran-default hanya ketika kasus terhadap asumsi kami menjadi pasti. Orang lebih suka memulai dengan “percaya”. Bukan membuktikan kebenaran seperti ilmuwan.

Kita berhenti percaya hanya ketika ragu. Dan keraguan meningkat ke titik di mana kita tidak bisa lagi menjelaskannya.

Bagian dari mengenal seseorang adalah memahami betapa idiosinkratik ekspresi emosional mereka.

Seperti mengenal orang cacat, kita perlukan strategi melihat keistimewaan orang asing ini, secara sosial.

Paradoks “Bicara dengan Orang Asing”

Kita butuh sistem peradilan pidana, sistem perekrutan, dan memilih babysitter, untuk menjadi manusia. Persyaratan kemanusiaan berarti kita harus mentoleransi kesalahan yang sangat besar. Itulah paradoks berbicara dengan orang asing. Kita perlu bicara dengan mereka tetapi kita buruk dalam hal itu.

Kita sering menilai kejujuran berdasarkan sikap. Kita menilai rasa percaya-diri dari cara berjabat-tangan dan keramahan. Yang menarik, kita percaya. Tidak berani menatap ketika berbicara, sering dianggap sebagai “tidak bisa dipercaya”.

Pembohong tidak berpaling.

Orang yang kita anggap benar itu orang-orang yang cocok — kejujuran sesuai penampilan. Singkatnya, kita pendeteksi kebohongan yang buruk dalam situasi di mana kita menilai kejujuran dan dapat dipercaya, berdasarkan kecocokan.

Banyak dari mereka yang mempelajari alkohol sekarang menganggapnya sebagai agen miopia (rabun jauh) daripada agen disinhibisi (ketidakmampuan mengendalikan perilaku, pikiran, dan perasaan).

Efek Miopia

Claude Steele dan Robert Josephs menemukan miopia: efek utama alkohol adalah mempersempit bidang penglihatan emosional dan mental kita. Alkohol membuat latar-belakang menjadi lebih blur, orang bisa lebih fokus.

Membuat pertimbangan jangka pendek tampak besar, dan lebih menuntut secara kognitif, pertimbangan jangka panjang memudar.

Banyak orang minum ketika sedang sedih, untuk melupakan kesedihan. Terkadang alkohol menghibur, namun bisa membuat orang lebih cemas. Menurut teori miopia, efek alkohol tergantung pada apa yang dilakukan peminumnya. Minum di tengah sesama penggemar 1 klub bola, bisa meningkatkan kegembiraan, namun bisa menambah kecemasan ketika kamu minum sendirian di kafe.

Minum membuat kamu bergantung pada lingkungan kamu.

Ada pepatah kuno, “in vino veritas“, di dalam anggur (ada) kebenaran. Ini sangat kuno. Memang, ketika mabuk orang mendapati karakter dirinya yang sebenarnya.

Faktanya, kita membangun kepribadian dengan menyeimbangkan keputusan.

Kepribadian terbentuk ketika kita menjadi etis, produktif, atau bertanggung jawab. Menjadi orang tua yang baik, tidak boleh egois. Orang tua yang baik, mempertimbangkan keadaan jangka panjang.

Cara berbicara dengan orang asing: hati-hati dan rendah hati.

Apa yang ingin kamu lakukan dari orang lain itu hal yang sangat rapuh.

Mengapa Kamu Percaya Pengakuan Orang Itu?

Inti interogasi adalah membuat subject mau berbicara dan kita bisa mengakses informasi yang ia ingat.

Seorang yang mendapatkan intimidasi dalam interogasi, bisa berubah sikap menjadi lunak dan mengaku, namun ada pertanyaan lain: Apa yang membuat kita percaya kepada apa yang ia katakan?

Analogi “Kejahatan” dan “Bunuh Diri”

Bunuh diri merupakan pasangan antara depresi dan cara mematikan. Ketika memikirkan opsi untuk berpindah-cara, orang sulit diblokir. Dalam keadaan depresi, memblokir satu opsi tidak akan membuat banyak perbedaan. Bunuh diri, ternyata memiliki banyak cara, karena bukan fokus hanya kepada cara mematikan.

Kejahatan, seperti bunuh diri. Perpaduan antara tempat dan konteks yang spesifik.
Kesalahan pertama yang kita buat terhadap orang asing — standar kebenaran dan ilusi transparansi — berkaitan dengan ketidakmampuan kita memahami orang asing sebagai individu. Kita sering tidak memahami konteks di mana orang asing itu beroperasi.

Kesimpulan

  • Berbicara dengan orang asing butuh kebijaksanaan dan introspeksi. Kebijaksanaan untuk menerapkan apa yang benar. Introspeksi untuk menghilangkan sentimen dan prasangka terhadap orang asing.
  • Penilaian bisa salah karena belum mempertimbangkan semua parameter secara akurat tentang situasi tersebut.
  • Konteks adalah bahan utama lain, dalam menghadapi orang asing. Menilai orang mabuk, perlu melihat konteks ia mabuk. Menahan kejahatan dan membendung gelombang bunuh-diri juga butuh perubahan konteks.
  • Semakin sedikit akses ke cara mematikan, kejahatan dan bunuh diri bisa kamu tekan.
  • Tinggalkan “kesan pertama”. Perdalam dan selami. Kamu akan menemukan hal baru yang mungkin berbeda daripada anggapan awal. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.