in

Cara Jual Keahlian di Web Kamu

Salah jual, keahlian tak-terlihat dan pekerjaan melayang. Hindari skema para penipu receh.

(Credit: makyzz)

Banyak orang (mengaku) ahli di bidang tertentu, namun sedikit yang bisa menjual keahlian itu.

Ada cara untuk jual keahlian.

6 Pertanyaan Sebelum Jual Keahlian

Awali dengan menjawab 6 pertanyaan ini.

1. Apa 1 topik keahlian yang jadi fokus kamu?

Setelah itu, isi kalimat ini:

“Saya punya keahlian ___ untuk selesaikan masalah ___.”.

Coba spesifik. Ahli “digital marketing” tidak spesifik. “Bisa datangkan traffic organik 400% untuk web dari para pemakai Facebook” itu spesifik.

2. Apa bedanya kamu dari ahli lain?

Tunjukkan 3-5 hal yang bedakan keahlian kamu dari ahli lain.

Keahlian kamu tidak akan dianggap sempurna setiap orang, tetapi sempurna bagi “seseorang” yang mewakili “persona” konsumen kamu.

3. Siapa yang butuh keahlian kamu?

Ini pertanyaan jebakan. Mungkin kamu punya 99 kalimat untuk jelaskan siapa saja yang butuh keahlianmu. Bukan itu. Pertanyaan ini sebenarnya, “Siapa yang secara aktif membutuhkan keahlian kamu?”.

Lebih mudah menjual produk ke orang yang cari solusi daripada menjual produk ke orang yang tidak tahu bahwa mereka punya masalah.

Intinya, pikirkan: “Keahlian kamu merupakan solusi untuk orang-orang yang punya masalah apa?”

4. Bagaimana keahlian kamu akan ubah hidup seseorang?

Menjual berarti membuka kemungkinan.

Hidup orang bisa berubah. Memungkinan “transformasi”, dari A ke B. Dari sakit ke sehat, dari “tidak mungkin” menjadi “bisa”.

Coba isi kalimat ini:

“Keahlian saya bisa ubah orang dari keadaan ___ menjadi ___.”.

Kalau saya terapkan dalam keahlian saya, menjadi begini:

“Saya bisa ubah ide dan produk kamu menjadi 52 jenis website.”

Saya perlu waktu 3 tahun hanya untuk sampai pada kalimat di atas. Tidak sekali jadi. Melewati puluhan kali revisi, sampai akhirnya jadi kalimat itu.

5. Bagaimana cara kamu kirimkan keahlian?

Maksudnya, dalam bentuk atau kemasan apa?

Bisa berupa pelatihan pribadi, konsultasi, ebook, video course, membership, dll.

Bisa jadi, semuanya berpeluang berhasil, namun perlu kamu pilih mana yang paling pas untukmu, paling efektif hasilnya.

6. Apa tujuan kamu monetize keahlian?

Ini pertanyaan tentang “mengapa”.

Mengapa kamu cari duit dari keahlianmu? Ini primer atau sekunder? Berapa yang ingin kamu hasilkan untuk habiskan waktu dan upaya ini? Seberapa cepat kamu ke sana?

Monetize kamu tidak akan berhenti jika kamu perlakukan orang lain sebagai manusia. Bukan viewer, bukan clicker, bukan konsumen, bukan client. Ingat: manusia. Manusia yang bernama Shinta, Tomy, Ronald, atau Ahmad.

Ingat selalu, ini tidak akan terjadi dalam semalam.

Setelah jawab 6 pertanyaan itu, kamu akan tahu jalan mana untuk mencapainya.

Motivasi Orang Membuka Halaman “Tentang Saya”

Saya suka lihat website kawan-kawan saya, terutama desainer, freelancer, dan pewarta. Mereka tampilkan “skill” (kemampuan) yang mereka bisa, lupa cantumkan apa yang berhasil mereka selesaikan. Keduanya punya efek berbeda bagi pembaca atau orang yang akan “hire” mereka di pekerjaan berikutnya.

Ketika berposisi sebagai pembaca, ketika ingin lihat “pengalaman” orang lain, saya cari 3 hal ini: (1) Siapa orang ini? (2) Dia bisa selesaikan masalah apa? (3) Apa yang ia lakukan di “masa lalu”. Yang nomor 3 ini bagian paling menyedihkan. Kebanyakan orang, suka bercerita, “Saya pernah lakukan ini..”.

Berapa Kali Halaman “Tentang Saya” Dibuka Orang?

“Tentang Saya” adalah halaman profile kamu, yang menjelaskan nama, alamat, email, nomor yang bisa dihubungi, dan ini: keahlian dan apa yang kamu kerjakan. Halaman ini semacam portofolio, curriculum vitae, dan biodata singkat kamu.

Saya harus tahu, berapa kali halaman “Tentang Saya” dibuka orang.

Di website, kalau kamu install Google Analytics, kamu bisa lihat berapa kali halaman “Tentang Saya” dibuka orang.

Kawan-kawan melarang saya bikin curriculum vitae (CV). Saya tidak pernah buat lamaran pekerjaan. Halaman “Tentang Saya”, hanya untuk mereka yang mau lihat, beberapa milestone yang pernah saya lakukan. Masalah muncul: saya terlalu serius dalam banyak hal.

Halaman “Studi Kasus”

Halaman yang seharusnya ada, kalau ingin orang lain melihat skill saya, sebenarnya halaman “Studi Kasus” (Case Study).

Prinsipnya, “Orang mencari pekerja yang bisa selesaikan masalah mereka; bukan orang yang punya kemampuan tertentu.”.

Skill yang ada sekarang, memakai bahasa yang publik sering kurang mengerti. Misalnya? Content strategist, UX designer, Social networker, dll. Berbeda ketika mereka menuliskan “kalimat deskriptif” yang mengatakan “masalah apa yang bisa saya selesaikan”. Kamu perlu temukan itu. Sebaris kalimat yang killer, dicari orang, terkait dengan kemampuan kamu. Kalau kemampuan saya dituliskan, bisa sangat panjang.

Orang tidak cari kemampuan saya, mereka cari solusi.

Akhirnya saya tulis sebaris kalimat: “Saya bisa ubah ide dan produk kamu menjadi 52 jenis website”.

Ketika saya ujikan sebagai signature di Gmail, atau di WhatsApp, lawan-chat saya “meragukan”, ingin bukti. Mereka bertanya, “Bisakah kamu buat ### ini? Adakah sample yang bisa saya lihat?”. Ini menjadi perbincangan yang bagus, mengarah ke pekerjaan berikutnya.

Menyelesaikan masalah, lebih akurat jika kamu punya studi kasus.

Ambil 1 atau 3 studi kasus yang menceritakan bagaimana kamu atasi masalah secara berbeda, tidak seperti cara orang lain. Misalnya, kamu punya skill “menulis”. Sebenarnya kemampuan “menulis” itu terlalu luas. Buatlah keyword panjang. Menulis teks iklan? Menulis script film? Menulis company profile? Nah, untuk melihat penerapan kemampuan ini, paling pas dengan menunjukkan “studi kasus”.

Saya ambilkan beberapa contoh. Kamu punya kemampuan mendatangkan traffic web dari Facebook, kamu bisa tuliskan studi kasus, “Bagaimana saya menaikkan traffic organic (bukan fake) Web X sampai 400% dari pemakai Facebook”.

Studi kasus itu tentang bagaimana “kenyataan yang terjadi” ketika seseorang atau suatu lembaga meng-hire kamu untuk selesaikan masalah mereka. Proven, terbukti. Logo mereka mau dicantumkan di “studi kasus” kamu. Unik. Memperlihatkan kemampuanmu, solusi versi kamu. Jejak yang bisa dilihat orang lain.

Kalau kamu ingin bekerja dengan orang lain, tunjukkan “studi kasus”. Sudah tidak zaman lagi bekerja untuk orang lain dengan menampilkan, “Pernah menjadi Kepala Bagian X yang bertanggung jawab mengelola sekian ratus orang.”. Buatlah “pernah” itu terlihat dan tunjukkan bagaimana skill kamu di lapangan. Itulah yang dicari orang.

Tipologi “Barbershop” atau “Salon Novi”?

Orang buka web karena ingin menilai kamu dengan cepat.

Jangan posisikan dirimu sebagai “barbershop” (yang pasif, menunggu orang datang, dan mengandalkan skill), kalau kamu bisa bekerja lebih aktif. Saya menuliskan perbedaan ini dalam “Barbershop dan Salon Novi“. Kesalahan kebanyakan pekerja, mereka tidak seperti “Salon Novi”.

Halaman “Now”

Buat halaman “Now” (Sekarang). Ini seperti “Status” kamu sekarang. Tunjukkan apa yang sedang kamu kerjakan. Personal web yang profesional, perlu bercerita, “Saya sedang apa” kepada pengunjung. Perbolehkan mereka tahu apa yang sedang kamu kerjakan “sekarang”.

Di Twitter, saya buat 1 twit, yang saya “pinned”, selalu terlihat di profile saya, agar orang tahu apa yang “sedang” saya lakukan. Twit ini sering saya ganti, tergantung keadaan.

Halaman “Now” sudah berbicara-sendiri ketika orang bertanya, “Kamu sekarang sibuk apa? Kapan kamu ada waktu luang? Bisakah kita bekerja bersama?”.

Halaman “Now” juga bisa kamu pakai untuk menampilkan pekerjaan “in-progress”, yang sedang kamu lakukan (namun belum selesai). Juga bisa kamu tambahkan project sampingan (pribadi) yang sedang kamu lakukan. Bagaimanapun, kepribadian seseorang bisa dilihat dari cara mereka mengisi waktu dan apa hobi mereka.

Bersihkan Web dari Skema Para Penipu

Jangan membuat perangkap iming-iming “menjadi ahli” dan “sukses”.

Sering ada penawaran di email. Bukan spam. Penawar melakukan pitching, minta izin kirim email, kemudian saya periksa. Yang saya lihat: simulasi, angka, screenshot, dan kutipan penelitian. Banyak cerita pembenaran, testimonial, dan bujukan pemasaran, yang intinya “ajak saya bekerja sama”.

Tidak. Saya tidak pernah mendaftar pekerjaan, namun saya mengerti segala macam trik yang mereka pakai.

Tampilan tampak berwibawa, tampilan formal mirip zaman kartu nama, daftar peran yang penuh uang — menurut mereka sendiri.

Harry Frankfurt menyebut ini sebagai “omong kosong”. Mereka menipu. Kata Harry, “Tidak penting bagi Si Penipu, seperti apa dunia ini sebenarnya, yang terpenting adalah bagaimana ia mewakili dirinya sendiri.”.

Mereka tidak punya pengalaman orisinal, tidak riset tentang apa yang mereka katakan. Mereka andalkan kutipan dari orang lain yang mengutip orang lain lagi.

Mereka tidak tahu apa artinya “studi kasus”, itu yang bikin saya berani bilang, mereka tidak melakukan penelitian sendiri. Melakukan roam research saja tidak. Itu sebabnya, yang mereka ceritakan adalah Apple, Microsoft, bahkan mereka tidak tahu kalau “good artists copy great artists steal” itu bukan ucapan Steve Job, apalagi kalau kamu bertanya dari mana awalnya istilah itu populer.

Ketika saya bertanya, “Bisa tampilkan quote?”. Pertanyaan itu menakutkan bagi para penipu. Mereka kirim screenshot, simulasi, dan “Dapatkan segera! Discount 35%”.

Kalau kamu belajar bisnis sungguhan, mereka tidak menawarkan hal yang bernilai untuk mengatasi masalah orang lain, namun demi bangun profil mereka sendiri.

Tujuan mereka profit, kebanggaan pribadi, dan mengejar rekor melampaui orang lain. Bukan berbagi nilai, bukan menyelesaikan masalah orang lain.

Orang yang menulis dengan riset sungguhan, membangun ide dan pendapat, menantang apa yang dianggap “work” namun sebenarnya tidak (atau sebaliknya) karena mereka mencoba dengan pengalaman dan empati. Mereka ini berada di neraka, bergelut dengan pikiran, mendengarkan pembaca mereka. Mereka ini percaya-diri, gagasan mereka akan menolong orang yang bermasalah. Mereka ingin ciptakan dunia yang lebih baik.

Orang yang copy-edit apa yang mereka anggap bagus, berpikir bagaimana tumbuh dan populer secepat mungkin, mengakali mesin pencari, sibuk dengan metrik dan pengukuran, pamer

Kelompok lain, barisan orang-orang yang “luar biasa” (katanya), menyebarkan rahasia sukses seolah-olah dari tangan pertama, prestasi mereka lebih terlihat (karena dipampang sendiri di mana-mana, mencari anak-anak muda, yang ingin meraih impian.

Bias berpikir menjadi akar masalah mengapa seseorang tertarik pada tipuan dan menganggap tipuan sebagai impkan.

Dalam permainan tipuan ini, ada teknologi yang “work” sesaat namun “expired” dengan cepat, seperti trik dari forum blackhat. Aplikasi dan layanan berbayar, sebagus apapun, tidak bisa sulap ranking kamu dalam sekejap. Otomatidasi dan pengukuran, dengan cepat merampas nilai-nilai content.

Yang dianggap sukses kalau orang viral, dapat viewer dan klik iklan. Mereka ini bintang reality show di televisi yang mereka ciptakan sendiri.

Alasan utama mengapa banyak orang terbujuk oleh “penampilan” dan “kata-kata” mereka adalah karena dalam pikiran orang-orang yang tertipu, terjadi bias narasi, yang bikin cerita di pikiran bahwa mereka ini hebat.

Mereka tidak membangun bisnis, yang mereka bangun adalah prototype yang dianggap berhasil, milik orang lain. Mereka tidak membangun bisnis, yang mereka bangun adalah audien. Mendapatkan audien sebayak mungkin.

Mungkin kamu pernah lihat pola seperti ini: Ada buku bagus tentang produktivitas kerja dan bagaimana membangun backlink. Kemudian seorang penipu yang cerdas mengemas-ulang materi itu menjadi kursus dengan “senilai” $500 dengan janji-janji bombastis. Utas dan link tersebar di mana-mana, bikin kesan materi penipu tadi memang viral.

Kita berhadapan dengan content copy-edit dan kurasi. Semua orang berteriak, “Ciptakan audien. Cari audien.” Saya tambahkan, “Hisap darah audien. Hitung kepala mereka sebagai dolar. Jadilah orang kaya dengan cara saya.”.

Banyak orang tiba-tiba jatuh dengan pola seperti ini.

Kamu bisa menulis, tahu SEO, mengerti cara mendatangkan traffic, melakukan eksperimen sepanjang waktu, membuktikan suatu cara (biasanya blackhat) bisa work atau tidak, yang seolah-olah itu kemajuan. Tidak.

Jangan salah mengerti. Produktivitas kerja terjadi justru jika suatu cara semakin efisien dan efektif.

Apakah mereka yang mengikuti arus tipuan ini pebisnis? Tidak. Mereka menerapkan metode orang lain, dan pandangan hidup orang lain, tentang konversi hitungan “kepala menjadi dolar” dan sibuk membangun audien. Apakah setelah pintar menjalankan mekanisme posting, mengerti on-page dan off-page SEO memperbaiki kualitas konten mereka? Secara signifikan, tidak. Orientasi mereka angka, bukan membagikan nilai. Mereka ingin kaya dengan cara memanfaatkan klik.

Pebisnis sejak dari pikiran, tidak mau buang-buang waktu. Mereka mempelajari keahlian, menuju “expertise”, bukan “sekadar bisa”. Pebisnis memiliki bahan marketing terbaik berupa “produk yang berkualitas tinggi”.

Audiens berkualitas tinggi adalah sumber peluang yang tak ada habisnya. Ingat: yang berkualitas. Sedangkan audien berkualitas rendah adalah makanan dan berada di piramida terbawah sekam Ponzi.

Sekarang, tanyakan kembali ke diri sendiri. Apakah waktu saya sepadan untuk skill seperti ini? Apakah saya punya ukuran kualitas berupa wawasan mendalam, di dalam content saya, dan tidak termasuk bagaimana SEO friendly? Apakah saya melihat “mereka” yang membaca tulisan saya sebagai “manusia” ataukah saya lebih suka memakai istilah: viewer, user, konsumen, clicker, dll.?

Membagikan nilai. Menyelesaikan masalah. Dengan cara yang lebih efisien dan efektif. Menuliskan pengalaman “saya”. Tidak sibuk dengan kemasan. Itulah tujuan menulis yang sebenarnya.

Inilah yang perlu kita tunjukkan di website, agar orang tahu “untuk apa” kita bekerja dan “dengan siapa” kita mau bekerja.

Spot Kekuatan Kamu Ada di Mana?

Buat “spot” di mana orang melihat kekuatan utama dari pekerjaan kamu. Jadilah seorang ahli, jangan seolah-olah ahli, jangan hanya terkesan sebagai ahli. Kita hidup di zaman keahlian ditenggelamkan dalam citraan. Kita melihat orang-orang memakai setelan pakaian rapi dan keren, hanya agar ada kesan mereka ini entrepreneur, profesional, dll. tetapi sebenarnya jaringan yang kosong. Nol besar.

Kemampuan yang ingin saya sorot, merupakan irisan antara “keahlian” dan apa yang saya “enjoy”. Ahli memperbaiki mesin, kalau tidak suka bekerja di pabrik yang butuh ahli mesin, berarti perlu penegasan bahwa kamu tidak suka bekerja di pabrik (karena tidak enjoy). Dengan cepat, orang yang baca halaman kamu, akan buat keputusan, “Saya mau bekerja dengan orang ini..” atau tidak.

Pada halaman keahlian, kamu bisa sebutkan apa yang kamu kuasai, yang senang kamu lakukan, dan apa yang bisa kamu tunjukkan kepada publik.

Scanning, Skimming

Pastikan, secara visual halaman kamu menarik. Ada banyak tool visual dan plugin yang bisa kamu terapkan agar halaman kamu cantik dan menarik.

Kalau saya tilik halaman orang-orang pintar dan bekerja dengan perusahaan ternama, mereka tidak perlu pernik-pernik yang rumit. Mereka andalkan content. Apa yang mereka lakukan, bagaimana gagasan mereka, membuat orang fokus pada content. Secara penampilan, mereka tidak formal, tidak pamer brand, tidak pamer gaji. Mereka berani bilang tidak suka pada tempat mereka bekerja karena alasan ingin lebih kreatif. Mereka menantang status quo, dan sering berubah sudut-pandang karena pemahaman mereka berkembang. Mereka tidak segan merevisi gagasan mereka sendiri.

Ketika orang membaca halaman yang kamu buat, mereka ingin scanning. “Apakah orang ini punya keahlian yang saya cari? Apakah ia mau bekerja dengan saya? Tentu berdasarkan tarik-menarik antara berapa kira-kira gaji yang ia minta dan apakah ia mau. Dan bagaimana cara saya menghubungi orang ini?”.

Gunakan gambar, statistik, infografis, video, seperlunya. Hanya jika diperlukan.

Skimming berarti membaca teliti. Kamu perlu antisipasi, apa yang terjadi ketika pembaca melakukan skimming.

Kamu perlu membuat tautan, sekali lagi jika diperlukan, agar orang bisa memeriksa sendiri.

Skimming juga berarti mereka mencari kesalahanmu. Jangan sampai ada kesalahan. Jangan membuat kata-kata yang tidak jelas. Apalagi dengan style orang yang mau bekerja untuk orang lain, seperti, “Siapa ditempatkan di mana saja”, “Disiplin tinggi dan bertanggung jawab”.

Buatlah halaman kamu “menunjukkan” keahlian kamu dan masalah apa yang bisa kamu selesaikan.

Ketika kamu sudah mempublikasikan diri, kamu harus siap diuji dan dibuktikan. Dan kebanyakan dari mereka, yang sedang mencari kamu, menguji secara diam-diam. Mereka bisa mundur tanpa pemberitahuan, mencari lebih banyak tentang kamu tanpa kamu tahu, atau menandai kamu sebagai mitra berikutnya.

Bangun keahlian. Tentukan bagaimana kamu mau bekerja. Buat halaman sebagus mungkin. Orang akan mengajakmu bekerja, tanpa kamu minta. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.