in

8 Bias Berpikir yang Bikin Orang Gagal Bisnis

Kamu tidak ditipu orang. Kamu tidak periksa bias kognitif ketika berpikir. Bonus: poster “Bias Cognitive Codex”.

(Credit: Nuthowut Samsuk)

Bias berpikir menjadi sumber kesalahan sehari-hari jauh sebelum orang bertindak. Bias berpikir itu membentuk pengetahuan keliru, seringnya tanpa sadar, karena karena tidak pernah mempertanyakan cara kita berpikir.

Jika dalam hidup terjadi tipuan, gagal bisnis, atau kemunduran, salah-interpretasi, miskalkukasi, dll. semua itu berawal dari bias berpikir. Ada lebih dari 100 bias berpikir.

Apakah orang bisa sepenuhnya terbebas dari bias kognitif? Tidak bisa dan tidak mungkin. Setidaknya, bisa menghindari bias kognitif yang utama, yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dan tindakan “menentukan” dalam hidup.

Cognitive Bias Codex

Daftar terlengkap dari bias cognitive yang bisa kamu cetak dan pasang di ruang kerja.

cognitive bias codex
(Credit: Wikimedia)

8 Bias Berpikir yang Bikin Orang Gagal dalam Bisnis

Berikut ini, 8 bias berpikir yang sering terjadi dan membuat orang gagal dalam bisnis:

1. Efek Gema Ruang (Echo Chamber)

Orang yang hampir sama pemikirannya, mengembangkan pandangan “terowongan”.

Pendapat mereka terus-menerus bergema, suara mereka kembali ke dirinya sendiri, akhirnya memperkuat sistem kepercayaan masing-masing karena penurunan pendapat orang lain.

Misalnya, kamu masuk di group yang berisi crypto-bull dan web3-maximalis di Twitter, Discord, atau Telegram. Terjadi pengulangan tentang penjelasan yang mengarah ke satu titik melulu, apapun itu. Akhirnya, pengulangan ini menjadi seperti “benar”.

Cara mengatasi efek ruang gema (echo chamber): Dengarkan pendapat yang skeptis dan kritis. Dengarkan suara lain.

2. Efek Bumerang

Mengabaikan suara berbeda, tidak mau mendengarkan atau mempertimbangkan argumen lain.

Kita sering mencari data pembanding atau suara lain, hanya untuk membuktikan pikiran kita benar. Ketika bertemu suara sama, kita optimis. Akhirnya, perjalanan mencari “kebenaran” berubah menjadi mencari “rasa kebenaran”. Setelah merasa benar, berhenti.

Cara mengatasi efek bumerang: sadari bahwa kamu sedang mencari kebenaran, mempertanyakan asumsi. Tanyakan kepada diri sendiri, “Apa argumen alternatif yang pantas?” dan “Bagaimana jika saya salah?”.

3. Efek Halo

Terpesona pada kepribadian atau pamor seseorang, sehingga mempengaruhi persepsi kita tentang keadaan sebenarnya.

Kurangi prasangka. Tentukan sistem pengukuran keberhasilan atau kinerja yang penting, lakukan evaluasi, dan nilai sesuatu secara obyektif.

4. Efek IKEA

IKEA itu nama brand pembuat furniture. Orang bersedia bayar 63% lebih banyak, jika mereka boleh merakit furnitur mereka sendiri.

Efek IKEA membuat orang merasa benar, sudah melakukan sesuai manual (perakitan furniture sendiri), menjadi hiperdefensif dan gagal melihat kekurangan dalam project yang sedang dikerjakan. Para pemirsa channel YouTube sering kena efek ini, mereka bilang, “Saya tahu sendiri dan pernah coba..”.

Tidak ada rencana bisnis yang bertahan dari kontak pertama dengan pelanggan.

Pasar yang akan menilai. Itu furnitur kamu sendiri, boleh kamu rakit dengan cara apapun, tetapi bukan berarti kamu ahli di perakitan furniture, hanya karena kamu bisa merakit 1 furnitur.

5. Hukum Bias Instrumen

Tergantung secara berlebihan pada alat, aplikasi, atau metode, yang sudah dikenal, sehingga mengabaikan atau meremehkan pendenkatan alternatif.

Jika yang kamu miliki palu, maka masalah akan terlihat seperti paku.

Mengatasi bias instrumen: Temukan manfaat dari suatu penyelesaian masalah, dari masa lalu, bandingkan dengan solusi kamu sekarang, apakah benar-benar lebih baik?

6. Bias Normal

Menolak untuk merencanakan, atau bereaksi terhadap masalah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Tidak siap. Maunya normal selalu. Seperti memakai kacamata canggih, sehingga melihat apapun tampak menyenangkan.

Cara mengatasi Bias Normal: coba lepas kacamata itu, ganti cara pandangmu dengan “tanpa” kacamata, kemudian naikkan dan perbanyak kemungkinan.

7. Bias Optimisme

Terlalu optimis dan melebih-lebihkan gambaran hasil yang lebih menguntungkan dan menyenangkan.

Antusias ketika pertama membayangkan — keberhasilan. Terpesona pada simulasi, angka penghasilan, dan cerita dari orang lain, sampai terpupuk imajinasi bahwa peluang berhasilnya hampir 100%. Tertarik mendengar, “Bekerja dari rumah. Tanpa susah-payah, uang datang sendiri. Tidak perlu bekerja, bisa kaya. Luar biasa!”.

Cara mengatasi Bias Optimisme: Sadari bahwa optimisme tidak menentukan hasil, secara langsung. Melihat masalah secara apa adanya, eksperimen, berlatih, dan bekerja dengan cerdas, itulah yang lebih menentukan keberhasilan.

8. Surrogation

Terobsesi pada pengukuran, sampai melupakan aktivitas atau inti masalah sebenarnya.

Misalnya, seorang manager terobsesi ingin melihat pendapat konsumen yang puas dengan layanan mereka, kemudian menerapkan survei kepuasan pelanggan di aplikasi mereka. Ingin selalu melihat rating, angka, hasil, dan sibuk mendorong karyawan untuk mewujudkan angka itu, tetapi lupa pada masalah dan aktivitas inti: Ada apa di balik kepuasan pelanggan? Benarkah mereka puas? Adakah cara lain untuk melihat ini? [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.