in

Belajarmu Gagal Jika Keyakinanmu Mengatur Pengetahuanmu

Refleksi atas cara saya sebelum belajar sesuatu.

(Credit: Pomomariova Maria)

Kawan saya kirim teks pesan. Dia tersinggung dengan pernyataan saya bahwa piknik tidak menyegarkan pikiranmu. Dia membenarkan, namun tersentak bahwa selama ini dia sering diarahkan oleh tujuan yang berasal dari luar (eksternal), seperti yang saya tuliskan itu. Sama ketika ia baru tersadar bahwa cara ibunya mengajak silaturahim ke paman dan bibi, merupakan piknik dan liburan untuk 15 tahun mendatang dalam hidupnya.

Mempertanyakan Tujuan

Tidak berhenti di situ, saya mendesak, “Bagaimana kalau apa yang kamu tahu tentang tujuan, selama ini, ternyata salah?

Tujuan itu gagasan yang aneh. Tujuan sebenarnya, bukan “sampai ke sana” tetapi menghadapi emosi dan pengalaman kita sendiri. Buku dan lukisan sama-sama ungkapan kekaguman pada estetika. Orang mengenal Wujud Wajib (yang mereka sebut Tuhan) dengan banyak cara, melalui banyak pintu. Mereka ingin ekspresikan diri. Seperti Steve Jobs bersama kawannya menciptakan Apple dan Van Gogh melukis dengan cara-melihat warna berbeda.

Singkatnya, hasrat kita adalah kualitas yang lebih baik. Kerja kita hari ini, lebih baik daripada kemarin; kita makan menu sama, mungkin bisa dengan pengalaman berbeda.

Tujuan memberikan makna. Bahan bakar bagi passion seseorang.

Tujuan tentang “surga” menciptakan pengkondisian kemanusiaan dan dunia yang lebih damai, membuat replika berdasarkan utopia bernama surga.

Berani Terbuka Mengakui Kesalahan

Ketika baca Quora, browsing di forum Blackhat, mendengar percakapan, melihat diskusi di YouTube, atau membaca artikel, saya sering menerima kenyataan pahit. Sebagian dari mereka, memakai informasi atau teori yang salah. Ukuran “salah” ini sangat mudah. Sudah ada update yang membatalkan teori itu. Jadi, itu kuncinya. Kalau kamu tidak update, dan memilih bermental “fixed“. Tidak mau tumbuh dengan pikiran terbuka dan tidak mau update, hasilnya: pengetahuan usang, tidak sesuai temuan terbaru.

Saya selalu bertanya kepada diri-sendiri, setiap mendengar penjelasan dan informasi apapun, “Bagaimana kalau ini salah? Apakah ini update terbaru yang bisa saya terima?”.

Beberapa pertanyaan bisa ubah orang menjadi pintar.

Insting (firasat) untuk “falsifikasi”, datang dari Popper. Disebut ilmiah kalau bisa disalahkan. Pengetahuan tidak sama dengan dogma yang tidak mau diuji dengan penalaran.

Kemampuan menguji validitas data, memperbarui pengetahuan, dan refleksi kritis atas apa yang selama ini kita yakini, merupakan kemampuan yang sangat dicari di zaman sekarang.

Update Pengetahuan, Bukan Hanya Update Informasi

Perhatikan, secepat apa pengetahuan ini berjalan. Bagi yang tidak suka permainan catur, menganggap perkembangan di dunia catur itu lambat. Catur memang memiliki dasar sama, cara jalan yang sama, pembukaan yang tidak terlalu baru, tetapi berbeda ketika sudah bicara mengenai varian dan kombinasi. Saya sering bertemu orang-orang berusia 50 ke atas yang tidak tahu apa yang terjadi pada dunia catur sekarang. Ingatan mereka masih di zaman kejuaraan dunia dekade 1980 dan 1990. Mereka ini tidak buka Lichess dan Chess, atau menonton Twitch ketika Hikaru Nakamura adu cepat selesaikan puzzle storm.

Teknologi web3 dengan crypto dan NFT juga berkembang sangat cepat. Orang lebih banyak kaitkan crypto dengan transaksi finansial, NFT dengan jual kartu gambar, padahal keduanya melakukan lebih banyak hal untuk kemajuan teknologi.

Sebaiknya, kamu selalu update pengetahuan. Bukan hanya update informasi. Mendengar harga BTC naik, itu informasi. Tahu kalau teknologi blockchain bisa untuk atasi kelaparan, itu pengetahuan.

Sayang sekali kalau pikiran sendiri sudah membuat pemblokir, tidak mau belajar. Sejak dulu percaya apa yang mereka terima “tidak boleh” berubah, akhirnya terkejut ketika tahu ada pengetahuan baru yang meralat apa yang selama ini mereka percaya.

Hambatan Update Pengetahuan: Waktu, Motivasi, dan Ego

Kalau Descartes, ketika menulis Meditations, mengalami “radical doubt” (keraguaan mendasar), mempertanyakan segala sesuatu, sekarang saya bertanya, “Mengapa orang sering bertanya? Mengapa mereka menuruti firasat, penasaran (curiousity)?”. Singkatnya, mereka ingin menjawab pertanyaan yang membuat mereka tidak bisa tidur.

Sekarang, kita balik pertanyaan ini, “Apa yang membuat orang ingin menghindar dari pertanyaan?”.

Apa yang menghambat seseorang untuk update pengetahuan? Waktu. Motivasi. Ego. Itulah penghambat terbesar untuk update pengetahuan.

Bicara waktu, bicara kesibukan. Kebanyakan orang bekerja (dan hidup) dengan kesibukan (hustle), mereka bekerja keras, akhirnya tidak punya waktu. Selain itu, mereka tidak termotivasi untuk terus belajar.Motivasi mereka hanya pada hal-hal yang relevan, instan, dan jangka-pendek. Mereka memilih mengejar “kebahagiaan” (tepatnya, yang mereka anggap “kebahagiaan”, padahal belum tentu), bukan untuk belajar yang penuh tantangan.

Ego lebih mirip penghancur. Ego menghalangi orang belajar, justru setelah dicap sebagai ahli, sudah punya “by line” di bawah namanya sebagai: budayawan, pemerhati masalah sosial, kandidat doktoral, ahli ilmu-ilmu sosial, peminat studi filsafat, dll.

Sebagian besar mereka, tidak lagi berdiskusi secara bebas dan terbuka tentang ide-ide baru, ketika label keahlian mereka dipertaruhkan. Mereka tidak mau bicara di luar keahlian.

Saya kenal beberapa doktor yang tidak anggap data pribadi sebagai aset berharga bagi semua orang, yang tidak bisa mempelajari subject baru di luar dunia keilmuan mereka. Tidak mau bicara Google Scholar, tidak punya akun ke jurnal, tidak membaca buku-buku baru di Amazon, dan mereka andalkan 1 tindakan ketika terhubung internet: browsing. Tidak subscribe ke situs ilmiah. Seperti itulah ego, di bawah gelar dan label keahlian.

Ego menghakimi motivasi. Ketika ada keinginan untuk belajar, “Jangan, itu bukan duniamu. Ah, paling begitu. Tinggalkan saja. Pencapaianmu sudah cukup. Ini bukan tugasmu.”.

Berubah Itu Pahit

2013. Saya tidak bisa menerima kenyataan, bahwa saya sangat bodoh, ketika ada suatu pengetahuan baru datang. Dan semuanya menghempaskan saya ke posisi tidak bisa melawan.

Kenyataan bahwa.. Apa yang saya tahu tentang Google ternyata salah. Cara saya bekerja salah. Apa yang saya prioritaskan selama ini juga salah. Saya sibuk “merekam” dan “mencatat” pengetahuan orang lain, sampai penyimpanan hampir penuh. Saya percaya aplikasi produktivitas. Saya bekerja demi uang. Saya percaya suatu kelompok bisa mengubah cara-pandang orang tentang budaya dan seni di sebuah kota. Saya mengidolakan orang lain. Ternyata semua itu salah.

Seperti kata Adam Curtis, “Atau mungkin aku hanya mengulangi pengetahuan umum, sedikit punya kemmapuan menulis di atas rata-rata, memadatkan itu menjadi beberapa poin kunci, lalu mendandani itu dengan narasi yang -memberdayakan-.”

Saya sering terapkan metode Socrates ketika berbincang-bincang dengan kawan-kawan, misalnya di warung kopi atau di chat WhatsApp. “Apa yang membuat kamu percaya sesuatu itu benar?” atau “Mengapa orang bekerja keras belum tentu kaya?”. Jangan terapkan pertanyaan seperti itu sembarangan, karena pertanyaan merupakan pengarah, membuat orang serius, dan bisa membubarkan lingkaran perbincangan.

Socrates menemukan metode bertanya seperti itu, 2500 tahun yang lalu.

Mereka kebanyakan menghindar. Atau membalik dengan pertanyaan, “Menurutmu, apa jawabannya?”. Ini semacam “resonansi” di mana mereka sebenarnya pernah bertanya itu tetapi tidak ketemu jawaban pas. Jadi, sekali

Mempertanyakan Apa yang Kamu Percaya

Betapa beratnya itu.

Masalahnya, bukan apa yang kamu tahu. Ini tentang apa yang kamu percaya. Inilah sebenarnya kunci di balik “mengetahui”. Kita sering campuradukkan antara “tahu” (to know) dan “percaya” (to believe). Apa yang membuat kita tidak mau update pengetahuan adalah cara kita percaya terhadap sesuatu.

Kebanyakan orang beragama akan berkata, kalau mereka beragama karena mereka percaya Tuhan, tetapi ketika saya berbincang-bincang dengan mereka, apa yang mereka katakan bukan apa yang mereka percaya tetapi apa yang mereka tahu.

Buktinya, sangat mudah. Ketika saya sampaikan cerita, informasi, yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, cara mereka percaya bisa berubah.

Ada seorang gadis, bernama Dian, ingin tahu banyak tentang sesuatu. Dina baca buku, ikut kelas perkuliahan, seminar, menonton Ted Talk, membuat summary, menuliskan di catatan, dengan durasi yang sangat panjang kalau dijabarkan. Dian sangat suka update pengetahuan. Apa yang dina konsumsi, diterima atau tidak, pas atau tidak untuk hidupnya, ditentukan dengan 1 filter: apa yang Dian percaya. Bukan lagi pengetahuan yang menulis-ulang pikiran Dian, tetapi kepercayaan Dian yang menulis ulang pengetahuan itu, dalam pikirannya.

Dian dalam dilema: belajar untuk berpikiran terbuka atau sebelum-dan-sesudah belajar pikirannya dibingkai oleh apa yang ia percaya?

Sekarang, mari pertanyakan apa yang kita percaya, tentang sesuatu di sekitar kita, sebelum kita tenggelam dalam referensi.

Dalam setiap membaca pemikiran seseorang, kita bisa mengajukan 3 pertanyaan “nilai”, berikut ini: (1) Menurut pemikiran ini, apa artinya “kebenaran” dan “pengetahuan”? (2) Bagaimana “manusia” menurut pemikiran ini? dan (3) Bagaimana “masyarakat” menurut pemikiran ini? Pertanyaan ini yang selalu saya pakai untuk menginspeksi suatu pemikiran.

Menguji Keyakinan

Sekarang, mari menguji “keyakinan” dan “pengetahuan” dengan mempertanyakan (dan membuat pilihan jawaban) atas apa yang ada di sekitar kita.

  • Apa yang kamu percaya tentang manusia lain? Mereka ini masalah, potensi, aset, atau sebatas angka.
  • Permainan apa yang terjadi ketika 2 pihak berkonflik atau bersaing? Zero sum game di mana pasti ada menang dan kalah, jika dijumlahkan hasilnya nol. Atau bisa kita cari win-win solution.
  • Kamu bekerja untuk apa? Cari uang. Aktualisasi diri. Membahagiakan anak-istri. Misi lain.
  • Seperti apa kamu percaya pada kekuatanmu? Tak-terbatas. Sangat terbatas. Tergantung keadaan dan tergantung bidang apa.
  • Kalau kamu masih mau belajar, untuk apa kamu belajar? Pengetahuan harus update. Agar pekerjaan saya lebih baik. Mendapatkan progress. Meraih kesempurnaan di bidang keahlian saya. Besok, dalam jangka panjang, ini akan sangat bernilai.
  • Sumber daya apa yang menurutmu sangat berharga dalam belajar? Uang. Fasilitas. Penalaran dan kemampuan berpikir. Bantuan dari mentor yang pintar.

Sebelum kamu menjawab, saya tidak peduli dengan jawabanmu. Saya hanya mengingatkan, sekali lagi: apa yang kamu yakin, ternyata sangat berpengaruh terhadap cara kamu mengetahui sesuatu.

Apa yang kamu percaya, bisa menjadi pemblokir, atau sebaliknya, membuat kamu mencapai hal yang tak-terbayangkan.

Saya berikan contoh. Jika saja kamu pilih “Diri saya sangat terbatas”, dengan segala macam perluasan arti pernyataan itu, maka tidak mungkin kamu bekerja keras. Jika saja kamu belajar yakin bahwa belajarmu demi tujuan instan, maka kecil sekali kemungkinan kamu akan sukses pada jangka panjang. Jadi, saya tidak perlu mengerti jawabanmu.

Tujuan saya bertanya untuk tunjukkan bahwa “kepercayaan kamu menentukan hasil”.

Itulah yang perlu kamu ubah, jika ingin berhasil belajar maupun bekerja. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.