in

Kawanku Bekerja untuk Sekte Sesat

Mungkin juga terjadi di kantormu. *) Refleksi atas cara kita bekerja dan jalan menjadi pekerja determinan.

(Credit: thewet)

Kawan saya kirim pesan teks, “Saya ingin keluar dari pekerjaan ini. Rasanya, saya sudah masuk sekte sesat.”.

Belum saya jawab, ia kirimkan foto-foto “biasa”. Orang yang sedang bekerja, kejar deadline, pakai setelan pebisnis, di kantor yang mewah dan penuh kertas. Bandwith tinggi. Irama bekerja yang monoton dan membosankan.

“Ini kantorku, tempat sekte sesat itu. Ada banyak yang seperti ini, kan? Waktu saya habis, hidup saya untuk kerja melulu dan nyaris tidak punya waktu kreatif lagi.”. Saya tidak menjawab pesan itu. Ia sudah tahu, pesan itu sudah terbaca.

Waktu yang Hilang

Waktunya bukan untuknya sendiri. Waktunya untuk film, podcast, janji-temu dengan klien. Waktunya menjadi episode film (dia merasa, hidupnya fiktif) dengan setting jam 10 malam ketika orang meminta jawaban. Dalam keadaan apapun, ia harus jawab itu.

Tenggelam dalam Taktik

Ini terjadi karena strategi yang ia terapkan dalam bekerja hanya 1. Menunggu gaji bulanan dan mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin. Setidaknya, itu tuntutan pribadi dan keluarganya. Ia tidak pernah ubah strategi itu, dan tenggelam dalam kesibukan menjalankan taktik. Tenggelam dalam taktik. Masuk dalam pusaran rutinitas harian tanpa-henti.

Tanpa pernah memikirkan adakah strategi lain untuk “smart working” (bekerja pintar).

Sangat banyak orang yang bekerja dalam kelelahan seperti ini. Bayangkan, dalam 40 jam seminggu, rutinitas dan ritual mereka sama, tujuan mereka sama, dan mereka kelelahan.

Obsesi mengakali pertumbuhan agar perusahaan lebih banyak untung. Keputusan sepihak dari pimpinan. Kejar tayang. Kejar target. Ego yang dominan. Nyaris tidak ada lagi insting (firasat). Kerja seperti ini, dirayakan 42 jam dalam seminggu.

Sekte Sesat di Kantor

Pekerjaan sibuk, kalau dikumpulkan, memiliki kepercayaan hampir sama. Tentang pertumbuhan, keuntungan, produktivitas, manajemen waktu, dan mungkin 1 tambahan lagi: stoicism.

Mungkin bekerja sibuk adalah ritual sekte sesat yang tidak mau menyatakan diri mereka memiliki 1 sistem-kepercayaan sama. Mereka memiliki gedung (atau sewa?) untuk bekerja, dengan dukungan mobil, sistem informasi, dll. Sekte sesat ini berbiaya miliaran dalam 1 kota. Belum lagi kalau kita hitung berapa waktu yang mereka persembahkan untuk pekerjaan mereka.

Tanpa memilah menjadi hitam-putih, kita sering melihat orang sibuk bekerja seperti kawanku itu.

Krisis di malam hari, janji yang tidak mungkin, tidak bisa piknik sampai 2 bulan depan, kolaborasi berlebihan, pergantian awktu yang sangat cepat, pengulangan pekerjaan, project yang sepertinya tidak perbah berakhir. Citraan kepada orang lain bahwa dia eksekutif, pebisnis, yang ia tunjukkan di foto. Kecemasan sistemik dari sekte sesat ini terus berlangsung.

Bekerja dengan Cara Lain

Coba pikirkan untuk tidak bekerja dengan cara seperti itu. Kamu bisa rintis sejak sekarang. Investasikan waktu. Buat rencana. Bekerja tidak harus sibuk dan menegangkan seperti itu.

Mengapa kekacauan dianggap sebagai hal alami di tempat kerja? Mengapa meeting, presentasi power point, yang sebenarnya penyimpangan produktivitas, dianggap sebagai momen yang tidak boleh terlewatkan?

Kamu perlu tenang. Kamu tenang, dapat profitabilitas. Melindungi waktu kamu dan perhatian orang. Tenang itu harapan yang masuk akal. Tenang bisa bekerja kurang dari 40 jam seminggu. Istirahat yang cukup. Perusahaan kecil yang menjamin dan lebih baik. Komunikasi kontekstual. Lebih mandiri, ketergantungan rendah. Jangka panjang.

Mulailah bekerja di wilayah kreatif. Jangan jalani profesi yang sudah menjadi milik orang lain. Jadikan waktumu kembali menjadi waktumu.

Pekerja Determinan

Ketika mendiskusikan buku Fooled by Randomness, saya bertanya kepada kawan-kawan:

“Mengapa orang rajin belajar belum tentu pintar? Mengapa orang bekerja keras belum tentu kaya?”.

Kebanyakan orang, dibodohi oleh keacakan, menganggapnya selalu ada pola. Kebanyakan mereka menjawab, berkaitan dengan gagasan fatalistik bahwa semua rejeki sudah diatur Tuhan.

Orang cenderung mengatakan dirinya tidak beruntung, padahal sebenarnya itu persoalan kemampuan (skill). Orang menganggap bahwa akses ke informasi yang lebih baik, berarti peluang keberhasilan lebih tinggi. Yang membuat orang menjadi kaya bukanlah kerja keras sendirian tetapi “dosis keberuntungan” dan “keahlian”.

Ketika ada kepingan teka-teki hilang, orang cenderung membayangkan, bahwa yang hilang itu akan mengubah keadaan menjadi kebaikan. Itu sama dengan membodohi diri-sendiri.

Karakter Pekerja Determinan

Determinasi berarti “tidak berhenti”, bebas, berdaulat, mau bertindak apa, punya kontribusi signifikan.

Pekerja determinan memiliki beberapa karakter berikut:

Komitmen

Mereka menghormati komitmen mereka sendiri.

“Saya sudah berkomitmen, akan membesarkan anak saya, tidak peduli bapaknya peduli atau tidak. Saya lakukan apapun yang terbaik, agar anak saya dapat kesehatan, pendidikan, dan masa depan cerah.”. Komitmen adalah tanggung jawab kepada diri-sendiri, berwujud tindakan nyata. Komitmen bukan pengabdian, bukan penyerahan-diri, bukan sekadar kata-kata.

Orang yang punya komitmen, tahu batas mimpinya. Dia tidak buta karena tujuan. Dia memiliki langkah-langkah.

Menghargai Pengalaman

“Pengalaman adalah guru terbaik bagi orang bodoh.”. Saya setuju. Asalkan proverb itu tidak diterapkan pada masalah baru. Pengalaman tidak cocok untuk menyingkat waktu. Kita tidak bisa belajar JavaScript dan bahasa pemrograman dengan andalkan pengalaman. Pemain catur yang belajar dari buku, hasilnya berbeda dengan pemain yang andalkan pengalaman.

Pengalaman bukan replikasi dari tindakan dan fragmen hidiup, sekalipun terbaik, versi orang lain. Pemgalaman adalah kebaruan, yang unik, eksperimen berani, melawan normalitas.

Orang sering melupakan pengalaman, ketika pengalaman terjadi tanpa-sadar. Orang yang tidak menyadari pengalaman sebagai faktor determinan, menganggap pengalaman dirinya biasa-biasa saja. “Saya sangat biasa, hidup saya tidak punya pengalaman yang bisa saya ceritakan.”.

Pikiran sering lupa, bisa salah dalam mengingat pengalaman, namun ini bisa kita atasi dengan melatih ingatan dan menuliskan hidup kita sendiri, setiap hari.

Pada tanggal dan bulan yang sama seperti sekarang, apa yang terjadi padamu setahun yang lalu?

Anggap saja, ada seorang manusia yang berumur 75 tahun. Itu sekitar total 657.000 jam. Kalau sehari ia tidur 7 jam, berarti seumur hidupnya ia tidur selama 200.000 jam. Dia dalam kondisi melek 457.000 jam. Sekitar 46% waktu melek itu, sekitar 215.000 jam, terpakai untuk memikirkan hal-hal yang tidak ia lakukan saat itu. Jadi secara efektif hanya tersisa 242.000 jam. Atau hanya sekitar 28 tahun yang sesungguhnya, ia pakai untuk hidup. Apakah ia mengingat seperti apa hidupnya? Seringnya, tidak. Bahkan ingatannya sering salah, kalau tidak merekam atau menuliskan hidupnya sendiri. Kalau kamu malas belajar, membaca, atau tidak mau menulis, bertanyalah ke diri sendiri, “Kamu ingin dikenang dirimu sendiri, besok, dalam keadaan seperti apa?”.

Kebanyakan manusia, seperti itu. Berapa waktu yang kamu lupakan, jika tidak menulis catatan harian mulai sekarang?

Apa fokus energi kamu hari ini? Apa yang ingin kamu kerjakan untuk membuat harimu berbeda dari kemarin?

Kita menulis-ulang pengalaman dengan tindakan, dan mengingat kembali dengan melihat catatan harian.

Prioritas Tanpa Penawaran

Orang sering terlambat mengenal akibat buruk merencanakan tindakan tanpa prioritas.

Lawan dari “prioritas” adalah.. Sembarang. Asal-asalan. Mendahulukan secara serentak. Minimalis. Pasifis. Sesukanya. Begini sudah cukup.

Saya punya contoh-contoh yang sering terjadi di sekitar kita. Seorang pemuka agama berkata, “Mari manfaatkan waktu untuk belajar, dengan memanfaatkan fasilitas teknologi. Sekarang kita bisa belajar banyak dari internet.”. Itu nasehat tanpa prioritas. Hasilnya, kaum pasifis, minimalis. “Yang penting sudah melakukan, yang penting jenis tindakan saya baik.”.
Mereka akan berhenti ketika saya bertanya, “Apa yang pertama kali ingin kamu pelajari? Mengapa kamu pilih itu?”.

Orang determinan punya prioritas. Tanpa prioritas, semua hal dianggap penting. semua layak, masuk.. dan meledak di dalam.

Beberapa hal, tidak bisa dinegosiasikan, jika berkaitan dengan prioritas tinggi. Bisa berlainan. Ada vegan yang tidak mau makan daging sapi, ada orang yang harus berolahraga setiap hari, ada yang memilih mengisi 2 jam sehari untuk menulis, dst.

Kotak Aman

Orang determinan memiliki kotak-aman dalam hidupnya. Mereka punya kawan, cinta, keluarga, dan ranah privat yang membuatnya bebas. Mereka bebas kreatif, bebas melakukan “kesalahan”, nilai foleransi tinggi sekalipun melakukan 100 kali bias kognitif dalam sehari.

Mereka punya ruang untuk eksperimen, untuk mengakui kesalahan, untuk melihat kebodohan diri sendiri.

Orang determinan bukan single fighter. Tidak selalu “bertarung” di medan kehidupan secara terbuka.

Mereka tahu “boleh salah di sini”. Mereka tahu di sana ada jalan. Mereka mengerti musuh besar namun selalu punya kotak aman untuk tetap hidup.

Itu sebabnya mereka tidak mem-publish wilayah privat untuk semua orang.

Sekali waktu, renungkan kembali, bagaimana kita memandang pekerjaan dan bongkar-ulang cara kita bekerja, menjadi lebih baik. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.