in

Dindikbud Bidang Budaya Ajari Siswa SD Cara Perawatan Arsip Kertas di Museum Glagah Wangi

Para siswa SD diberikan kesempatan untuk memperbaiki kertas yang sudah tidak layak dengan cara tertentu.

Siswa SD di Demak belajar memperbaiki arsip kertas yang tidak terpakai. (istimewa)

DEMAK (jatengtoday.com) – Terobosan menarik dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Pemkab Demak. Melalui Bidang Kebudayaan menggelar kegiatan kunjungan bagi para siswa ke Museum Gajah Wangi. Ini diperlukan untuk mengajari siswa agar mereka memahami fungsi pendidikan dengan sarana pemanfaatan keberadaan museum.

Secara definitif, museum adalah tempat atau gedung yang digunakan untuk pameran benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni, ilmu dan tempat penyimpanan barang kuno lainnya.

Kabid Pembinaan Kebudayaan Endra Faturahman melalui Staf kebudayaan, Widodo mengatakan, pihaknya sebelumnya telah menjadwalkan para siswa untuk kunjungan ke museum.

Kegiatan ke museum itu merupakan bagian dari edukasi wisata yang dulu pernah di tangani Dinas Pariwisata. Sekarang, sejak Bidang Kebudayaan bergabung dengan Dinas Pendidikan, maka urusan kebudayaan ditangani Dindikbud.

“Salah satu kegiatan kita adalah mengadakan kunjungan siswa ke museum. Tujuannya adalah untuk belajar bersama. Termasuk guru yang mengampu siswa juga tidak hanya mendampingi muridnya saja tapi ikut belajar juga. Ini penting agar mereka bisa mengajari siswa di kemudian hari. Inilah pentingnya belajar bersama di museum,” ujar Widodo.

Kunjungan itu bersifat sukarela. Kunjungan diberikan dan ditawarkan ke sekolah yang mau mengadakan acara tersebut. Untuk siswa SD, pihak museum mengajari bagaimana memperbaiki kertas arsip agar bisa dimanfaatkan lagi sebagai bahan sejarah yang memiliki nilai edukasi.

“Kalau mau belajar  ke museum kami mohon bisa mengajukan ke ke korwil dan MKKS sehingga bisa kami jadwalkan,” katanya.

Dalam kunjungan ke museum ini, materi pokok yang diajarkan adalah belajar bersama dengan siswa SD terkait dengan pemberian pengetahuan tentang tata cara perawatan kertas dan memperbaiki buku rusak.

Para siswa SD diberikan kesempatan untuk memperbaiki kertas yang sudah tidak layak dengan cara tertentu. Dengan demikian, kertas yang semula tidak memiliki nilai bisa menjadi bernilai. Seperti bagaimana tampilan cover depan bisa diperbaiki lagi agar tampil lebih kokoh dari sebelumnya.

“Biasanya, di sekolahan itu banyak sekali buku pelajaran dan di rumah ada buku diary yang kadang tidak diperhatikan terkait tingkat kerusakannya. Maka, perlu ada edukasi  dalam perawatan buku yang sudah usang tersebut,” katanya.

Perawatan buku memiliki ketertarikan tersendiri. Apalagi, buku sejarah yang berisi tentang pengetahuan masa lalu. Hal itu bisa menarik perhatian untuk selalu dijadikan pedoman dalam mencari pengetahuan masa lalu.

“Buku ada bagian dari sejarah masa lalu yang mesti dirawat. Ini supaya ada ketersambungan cerita tentang yang dulu dan tentang yang sekarang. Karena itu, perawatan buku sejarah ini dilakukan sebagai bagian dari kepedulian masa lalu agar sejarah itu tidak terputus,” ujarnya.

Buku-buku yang dimiliki siswa diminta dikumpulkan yang kemudian di tata kembali sedemikian rupa untuk diperbaiki dan dirawat. Ada buku Bahasa Indonesia dan buku lainnya. Semua buku diikat jadi satu mulai sejak kelas satu hingga kelas enam. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *