in

Compress Natural Gass Bikin Bus Enteng Tancap Gas, Tapi Lalu Lintas Sering Macet

SEMARANG (jatengtoday.com) – Adanya Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang cukup membantu masyarakat. Sayangnya, keberadaannya belum mampu mewujudkan pengelolaan sebagaimana diterapkan di Jakarta.

Tapi setidaknya Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terus berupaya melakukan pembenahan manajemen pengelolaan, penambahan armada, pelayanan, hingga inovasi.

Memang sudah seharusnya begitu. Melalui pengelolaan dana pajak dari rakyat, pemerintah memiliki tanggung jawab salah satunya menyediakan transportasi kota secara aman, murah dan nyaman.

Keluhan demi keluhan dari masyarakat memang belum sepenuhnya tertangani maksimal. Meski begitu, secara bertahap berusaha digarap. Meski terkesan lambat. Salah satunya mengenai keluhan polusi udara dari knalpot BRT yang kerap ngebul.

Saat ini, Pemkot Semarang sedang proses uji konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) solar ke Bahan Bakar Gas (BBG) Toyama City, Jepang. Hasil uji Compress Natural Gass (CNG), ternyata cukup baik. Penggunaan gas dipercaya membuat bus tidak ngebul, irit, dan ramah lingkungan. Selain itu, ‘tarikan’ bus juga lebih enteng.

Senin (24/7), armada BRT Trans Semarang dengan Nomor Polisi H-1419-BW, kode armada B05 menggunakan bahan bakar gas CNG. Hasilnya cukup menggembirakan.
Untuk uji coba hasil emisi gas buang dan tingkat kepekatan gas buang, yakni hasil uji emisi menggunakan bahan bakar solar dan hasil uji emisi menggunakan bahan bakar campur antara 70 persen CNG dengan 30 persen Solar.

“Kesimpulannya, setelah dilakukan pemasangan bahan bakar gas CNG, ada pengurangan emisi gas buang hampir 13.8 persen,” kata Plt Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang, Ade Bhakti, Selasa (24/7).

Sedangkan hasil uji emisi tingkat kepekatan emisi gas buang terhadap lingkungan hidup menunjukkan hal yang sama.
Yakni hasil dari uji emisi tingkat kepekatan gas buang untuk hasil HCC 7 ppm dari ambang batas maksimalnya 200 ppm. Sementara untuk Co2 dengan hasil 2,4 persen dari ambang maksimal 4,5 persen.

Sisa hasil pembakaran berupa air (H2O), gas CO atau disebut juga karbon monoksida yang beracun, CO2 atau disebut juga karbon dioksida yang merupakan gas rumah kaca, NOx senyawa nitrogen oksida, HC berupa senyawa Hidrat arang sebagai akibat ketidaksempurnaan proses pembakaran serta partikel lepas.

Uji coba pemakaian bahan bakar gas CNG telah dilakukan dengan menempuh jarak 16,5 Km dengan rute SPBU Tambak Aji – Jalan Pantura Semarang Kendal – Jalan Raya Mangkang – Terminal Mangkang – Jalan Raya Mangkang – Jalan Jenderal Urip Sumoharjo – Jalan Walisongo – ke SPBU Tambak Aji, mulai pukul 15.30 – 17.30.
“Hasil penghematan pemakaian bahan bakar solar kurang lebih 4,1 liter dari nilai everage standart 1:3 (1 liter : 3 km) dari 16,5 km. Ada substitusi yang tergantikan ke gas CNG 70 persen,” katanya.

Lebih lanjut, kata Ade, dari jarak tempuh yang dilakukan uji coba dengan jarak 16,5 km mengkonsumsi bahan bakar gas dan solar sebesar 1,480 liter bisa disimpulkan dengan nilai kompresi 1:11 (1 liter : 11 Km).
“Sedangkan apabila hanya menggunakan bahan bakar solar dengan menempuh jarak 16,5 km mengonsumsi bahan bakar sebesar 5.5 liter,” katanya.

Namun demikian, Ade mengakui untuk hasil uji coba masih terkendala traffic lalu-lintas yang padat atau kemacetan. “Apabila untuk traffic lancar, pemakaian gas dan solar akan berbeda,” katanya.

Menurutnya, hasil uji coba menunjukkan keunggulan dan keuntungan pemakaian bahan bakar Gas CNG, yakni tarikan bus lebih enteng, perawatan filter solar dan oli umurnya lebih panjang, perawatan mesin juga lebih mudah dan umur perawatan lebih lama.

“Selain itu, performance dan power tenaga mesin lebih meningkat, misi tingkat kepekatan gas buang lebih bagus sekitar 50 persen. Hal itu berdasarkan dari hasil uji emisi,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, tentu saja tingkat lingkungan hidup lebih aman dikarenakan untuk hasil Hcc 7 ppm dari ambang batas maksimal 200 ppm. Sedangkan Co2 yang dikeluarkan hanya 2,3 persen dari 4,5 persen.

“Biaya pemakaian bahan bakar solar lebih ada penghematan kurang lebih 29 persen dengan kondisi traffic lancar. Perbandingan bahan bakar solar 1 : 3 km sedangkan dengan perbandingan bahan bakar Gas CNG 1 : 11 km,” katanya.

Sehingga pemakaian bahan bakar gas CNG membuktikan kalkulasi secara kasar sudah terlampaui 60 persen apabila menggunakan average hitungan 1 : 3. Hal itu berdasar dari hasil survey jarak tempuh 16.5 km memerlukan 5.5 liter solar. Sedangkan menggunakan bahan bakar gas CNG dari jarak 16,5 km memerlukan 1,48 liter ada selisih 4,1 liter. Sehingga ada penghematan atau substitusi pemakaian bahan bakar solar sebesar 70-72 persen.

“Selisih 4,1 liter yang tergantikan tersebut menjadi bahan bakar gas yang terpakai, dari survey di Jakarta. Harga per liter bahan bakar gas Rp 3.100/liter,” katanya. (abdul mughis)

editor: ricky fitriyanto