in

Menyingkap Bisnis Narkoba dari Balik Penjara

Sepanjang 2021 ada 15 kasus penyelundupan narkorba dengan modus serupa, baru tetangkap 1 pelaku.

Petugas Lapas Semarang bersama aparat kepolisian saat membuka paksa bola tenis yang berisi paket narkoba. (istimewa)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Upaya pemberantasan narkoba di negara ini perlu kerja ekstra. Peredaran barang terlarang itu masih banyak ditemukan, termasuk di lembaga pemasyarakatan (lapas). Narapidana masih bisa menjalankan bisnis narkoba dari balik penjara.

Salah satu lapas yang terbilang darurat penyelundupan narkoba adalah Lapas Kelas I Semarang atau Lapas Kedungpane.

Sepanjang tahun 2021, tercatat ada 15 kasus upaya penyelundupan dengan modus melempar paket narkoba dari luar tembok lapas. Paket yang dilempar ada yang dibungkus dalam plastik hingga dimasukkan dalam bola tenis.

Baca Juga: Petugas Lapas Kedungpane Gagalkan Penyelundupan Ratusan Butir Psikotropika

Sebanyak 15 kasus itu adalah upaya penyelundupan yang berhasil digagalkan petugas sebelum paket narkoba sampai ke tangan narapidana.

Selain itu ada penyelundupan dengan modus berbeda, seperti memasukkan paket narkoba ke dalam barang titipan napi. Namun, modus semacam ini sedikit ditemukan karena skrining bagian depan lapas kini sangat ketat.

Petugas yang berhasil menggagalkan atau tepatnya menemukan paket narkoba di area lapas akan mendapat apresiasi.

Pada 30 Oktober 2021, ada 7 petugas Lapas Semarang yang diberi penghargaan dari Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Jawa Tengah. Tujuh petugas itu bernama Suparno, Eko Wasito, Djoko Umbaryanto, Mochamad Roem, Sri Junianto, Galang Permadi, dan Muhammad Nur Ariawan.

Sebagai catatan, penghargaan yang lebih tinggi harus diberikan kepada petugas yang tak hanya menemukan paket narkoba, melainkan ia yang mampu menangkap pelaku yang terlibat dalam jaringan penyelundupan ini.

Antisipasi Lapas

Selama ini, terdapat beberapa upaya yang dilakukan Lapas Semarang untuk mengantisipasi peredaran narkoba. Antara lain memperkuat pengawasan, mengoptimalkan kontrol keliling secara berkala di semua area lapas.

Sekarang juga telah dipasang tembok pagar tambahan di luar lapas. Sehingga jika ada kejadian serupa, paket narkoba yang dilempar dari luar lapas diklaim tidak akan sampai karena jarak ke blok hunian terlalu jauh.

Selain itu, Lapas memperkuat pengamanan dengan menambah kamera pengawas atau CCTV. Informasi terakhir, ada 60 kamera yang sudah terpasang di berbagai titik.

Sebanyak 5 CCTV terpasang di samping utara lapas yang berbatasan dengan jalan raya. Serta 5 CCTV mengintai area branggang belakang lapas yang berbatasan dengan lahan kosong milik warga. Kedua area ini kerap menjadi titik penyelundupan narkoba.

Namun, jumlah CCTV itu masih belum cukup untuk memantau aktivitas peredaran narkoba. Pasalnya tidak semua pelaku pelemparan narkoba terekam kamera.

Selain itu harus dipilih kamera pengawas yang berkualitas tinggi dengan hasil rekaman yang memuaskan. Dengan begitu, diharapkan dapat mempermudah upaya penangkapan pelaku.

Satu Pelaku Tertangkap

Kasubnit I Unit 3 Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Semarang, Handri Kristanto pada 5 Oktober 2021 menegaskan bakal mengerahkan personel untuk membantu pengawasan di luar tembok Lapas Semarang.

Berdasarkan penelusuran, komitmen Polrestabes itu nyatanya tidak membuat pelaku takut. Tercatat setelah itu ada upaya penyelundupan narkoba pada 18 Oktober dan 26 Oktober 2021 yang pelakunya misterius.

Sinergi lapas dan aparat kepolisian baru membuahkan hasil pada 29 Oktober 2021. Mereka berhasil menangkap pelaku yang berusaha melempar paket narkoba dari jalan belakang yang berbatasan dengan lapas.

Namun, temuan itu belum bisa membuat petugas bernapas lega. Pengamanan masih perlu dievaluasi dan ditingkatkan. Karena faktanya, masih ada saja pelaku yang berani beraksi pascakejadian penangkapan itu.

Sesuai penelusuran, upaya penyelundupan kembali terjadi pada 26 November dan 15 Desember 2021. Saat itu, petugas hanya berhasil menemukan barang bukti berupa sabu-sabu, tetapi pelaku berhasil tak terdeteksi.

Baca Juga: Lagi, Paket Sabu Dilempar dari Luar Tembok Lapas Semarang

Kasus serupa kembali terulang pada 1 Januari 2022. Lagi-lagi, petugas hanya menemukan paket narkoba dan pelakunya lepas dari pengawasan.

Kini, Sat Narkoba Polrestabes Semarang kembali menegaskan bakal membantu lapas dalam pengawasan branggang tembok terluar untuk berperang melawan narkoba.

“Kami lakukan patroli secara berkala pada sekitaran lapas untuk menekan upaya pelemparan narkoba ke dalam lapas,” ucap Aipda Handoyo sebagaimana keterangan rilis pada 1 Januari 2022.

Terus Terulang

Terulangnya upaya penyelundupan narkoba di Lapas Semarang benar-benar menjadi PR besar. Sebab, pengamanan yang dilakukan selama ini belum bisa membuat pelaku takut.

CCTV yang berjumlah puluhan belum mampu merekam semua kejadian pelemparan paket narkoba. Artinya, masih ada area yang belum terjangkau CCTV.

Baca Juga: Bola Tenis Dilempar ke Lapas, Ternyata Isinya Sabu

Petugas kontrol keliling lapas seringnya hanya menemukan paket narkoba hasil lemparan dari luar lapas.

Petugas lapas bersama aparat kepolisian yang siaga di area luar tembok lapas juga kerap kecolongan, baru mampu memergoki dan meringkus satu pelaku dari sekian banyak kasus.

Adanya tembok pagar tambahan yang diklaim mampu menahan paket dari luar lapas ke blok hunian, juga patut dipertanyakan. Jika benar, harusnya tak ada pelaku yang nekat karena ia tahu pasti sia-sia.

Apakah pelaku pelemparan narkoba selama ini tidak membaca informasi tentang ketatnya pengawasan di Lapas Semarang? Atau jangan-jangan memang masih ada celah?

Blok Risiko Tinggi

Selain memperketat pengawasan di lingkungan lapas, upaya memutus peredaran narkoba bisa dilakukan dengan mengoptimalkan fungsi Blok Resiko Tinggi di Lapas Semarang.

Blok khusus yang berkapasitas 100 orang ini merupakan program kerja unggulan dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika (P4GN).

Pengamanan dan pengawasan di blok ini berbeda dengan blok biasa. Ada pengawasan ekstra, interaksi dengan napi blok lain dibatasi, hingga dipasang metal detector untuk mendeteksi telepon genggam.

Kepala Lapas Semarang Supriyanto pernah berkata, penentuan napi di Blok Risiko Tinggi didasarkan pada assessment yang melibatkan anggota tim pengamat pemasyarakatan (TPP).

Kata dia, Blok Risiko Tinggi mayoritas dihuni napi kasus narkoba karena dipandang cukup berbahaya, terlebih banyaknya temuan kasus penyelundupan narkoba dalam lapas.

Peran Napi

Diduga kuat, selama ini upaya penyelundupan narkoba di Lapas Semarang melibatkan napi. Sebab, tidak mungkin kurir narkoba mengirim paket cuma-cuma tanpa ada yang dituju.

Hal itu terbukti dari tertangkapnya salah satu pelaku yang melempar paket narkoba dari luar lapas pada 29 Oktober 2021 lalu. Pelaku itu bernama Resa Erlangga.

Baca Juga: Dibantu Pacar, Napi Ini Kendalikan Peredaran Narkoba dari Penjara Selama 4 Tahun

Setelah dicecar pertanyaan, Resa mengaku hanya disuruh oleh seorang napi bernama Hendri Sanjaya. Katanya, Resa sudah dua kali melempar narkoba dari luar lapas.

Kasi Humas Polrestabes Semarang AKP Faizal Lisa dalam rilisnya mengungkapkan, saat Resa dikonfrontasi, napi Hendri pun tidak bisa mengelak. Hendri bahkan mengaku masih menyimpan narkoba tersebut.

Hendri menyimpan narkoba di bawah rak piring di dalam kamarnya di Blok H No. 15 Lapas Semarang. Saat digeledah, petugas menemukan bola tenis dalam kondisi sobek dan 4 klip sabu di bungkus rokok.

Dari keterangan ini kita tahu bahwa ternyata ada upaya pelemparan narkoba dari luar tembok yang berhasil sampai ke napi Lapas Semarang.

Peran Resa sebagai kurir suruhan napi Hendri tak hanya itu. Resa beberapa kali disuruh Hendri untuk mengambil sabu di suatu tempat, kemudian membagi-bagi sabu ke dalam paket-paket kecil dan meletakkan lagi ke suatu tempat.

Setelah misi selesai, Resa akan melapor, memfoto peletakan lokasi sabu serta memberi alamat secara lengkap kepada Hendri.

Dari sini kita juga tahu bahwa napi ternyata masih bisa intens berkomunikasi dengan pihak luar lapas, bahkan mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji.

Bandar di Lapas

Baru-baru ini Ditresnarkoba Polda Jateng mengungkap tindak pidana pencucian uang (TPPU) dengan tersangka seorang napi berinisial JW. Ia diduga melakukan pencucian uang dari hasil bisnis narkoba.

JW yang sedang menjalani hukuman 11 tahun penjara akibat kasus narkoba ternyata makin menjadi. Pada kurun waktu 2017–2021 ia mampu mengendalikan bisnis narkoba dari salah satu lapas di Jateng.

Dalam kasus ini, polisi berhasil mengamankan barang bukti uang tunai sebesar Rp1 miliar, 4 unit mobil, 3 sepeda motor, serta 1 unit rumah yang diduga sebagai hasil kejahatan. Total nilai barang bukti lebih dari Rp4 miliar.

Kasus tersebut menjadi gambaran betapa rentannya lapas atas ancaman narkoba. Empat tahun tentu bukan waktu singkat. Namun, JW bisa leluasa menjadi bandar narkoba.

Plt Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Jateng Supriyanto mengungkapkan, sepanjang 2021 ada 18 kasus upaya penyelundupan narkoba di Jateng yang berhasil digagalkan.

Sekali lagi perlu digarisbawahi, jumlah itu hanya yang mampu digagalkan petugas. (*)

editor : tri wuryono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.