in

Wakil Ketua DPRD Jateng: Perlu Langkah Bersama Jaga Budaya Jawa

pemahaman dan kecintaan terhadap budaya bangsa harus terus ditanamkan kepada masyarakat.

TEMANGGUNG (jatengtoday.com) – Kemajuan zaman yang ditandai dengan pesatnya arus globalisasi dan teknologi informasi.

Hal ini menjadi tantangan sekaligus ancaman terhadap eksistensi kebudayaan lokal, yang memiliki keberagaman tinggi..

Tidak terkecuali kebudayaan lokal yang ada di Jawa Tengah (Jateng). Di mana tersimpan berbagai tradisi dan kearifan lokal yang beragam. Mulai dari bahasa, pakaian adat, makanan khas, dan kesenian daerah.

Melihat hal ini, Wakil Ketua DPRD Jateng Heri Pudyatmoko mendorong adanya penguatan budaya lokal. Dibutuhkan upaya dan langkah bersama agar kearifan lokal di Jateng tidak tergerus oleh arus zaman.

“Kemajuan zaman jangan sampai mengikis budaya lokal yang ada di Jateng. Peninggalan nenek moyang dan para pendahulu kita harus tetap dipertahankan,” kata Heri Pudyatmoko.

Dalam Sosialisasi Non Perda dengan tema “Menangkal Pelemahan Pemahaman Budaya Bangsa” yang digelar pada 2 November 2022, Heri mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi dan kearifan lokal di Jateng.

“Kita lihat sekarang banyak budaya-budaya luar yang masuk ke tanah air, dari Korea, Jepang, Timur Tengah. Hal ini dipicu dari internet dan media sosial. Maka penting untuk membentengi diri agar tidak terpengaruh,” lanjutnya

Heri mengatakan, pemahaman dan kecintaan terhadap budaya bangsa harus terus ditanamkan kepada masyarakat. Sehingga, dengan adanya budaya asing, misalnya Korean Wave, tidak serta merta melupakan masyarakat akan budayanya sendiri.

Ia menyebutkan sejumlah budaya, khususnya kesenian lokal di Jateng yang masih lestari sampai sekarang dan harus dipertahankan. Di antaranya Kuda Lumping dari Temanggumg, Tari Lengger dari Wonosobo, dan Tari Ndolalak dari Purworejo.

Menurut Heri, kesenian tersebut harus tetap dilestarikan dengan cara menggelarnya secara rutin dan mengenalkannya kepada generasi muda. Tidak hanya dalam bentuk pegelaran saja, tetapi masyarakat juga harus mengetahui sejarah dan filosofi yang ada di dalamnya.

“Budaya tersebut menunjukkan identitas yang dimiliki masing-masing daerah. Maka seyogyanya sudah harus dikenalkan kepada generasi muda. Supaya mereka tidak menjadi generasi yang lupa dengan nenek moyang yang telah melahirkannya,” tegas politisi Partai Gerindra tersebut.

Sementara itu, Agus Wandono, salah satu pemuda penggerak budaya dari Temanggung setuju dengan paparan dari Heri Pudyatmoko. Ia menilai, kemajuan teknologi dan gaya hidup modern menjadi tantangan yang harus diantisipasi.

“Terutama anak-anak muda yang mulai menggemari budaya asing. Ini menjadi tugas kita bersama bagaimana caranya mereka tidak melupakan identitas dan budayanya sendiri meskipun hidup di zaman modern,” kata Agus. (*)

Ajie MH.