in

Selain ‘Zahra’, Tayangan Mega Series Suara Hari Istri Banyak yang Mendiskriminasi Perempuan

SEMARANG (jatengtoday.com) – Tayangan Mega Series Suara Hati Istri yang tayang di Indosiar dinilai tak layak ditonton. Sebab, banyak alur cerita yang dinilai mendiskriminasi perempuan.

Belum lama ini, Suara Hati Istri: Zahra sebagai bagian dari Mega Series Suara Hati Istri dikecam karena mengampayekan pedofil lantaran sang pemeran istri ketiga, Zahra adalah artis yang masih di bawah umur. Belum lagi jalan ceritanya soal poligami.

Setelah banyak desakan, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pun bertindak dan menilai sinetron tersebut memiliki muatan yang berpotensi melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 & SPS) KPI 2012.

Namun perlu diketahui, Mega Series Suara Hati Istri terdiri dari banyak sub judul dan episode dengan tokoh yang berbeda-beda.

Di antaranya sinetron berjudul Aku Terjebak Pernikahan dengan Lelaki Arogan; Istri yang Selalu Dipandang sebelah Mata; Kuatkah Aku Bertahan dengan Suami yang Mempermainkan Pernikahan; dan masih banyak yang lainnya.

Merespon hal ini, Legal Resources Center untuk Keadilan Gender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) mendesak penghentian tayangan publik yang tak layak.

“Mega series sinetron tersebut seharusnya dihentikan karena banyak menayangkan scene-scene yang mendiskriminasi perempuan dan anak,” tegas Kepala Divisi informasi dan Dokumentasi LRC-KJHAM, Citra Ayu Kurniawati, Minggu (13/6/2021).

Pihaknya juga tidak puas terhadap KPI dalam menyikapi kasus sinetron Suara Hati istri: Zahra. Sebab, hingga sekarang mega series sinetron tersebut masih bisa lanjut.

Bahkan, katanya, tayangan tak senonoh Suara Hati istri: Zahra masih bisa diakses di berbagai kanal Youtube dan media sosial lainnya–meskipun di akun milik Indosiar sendiri sudah tidak ada.

“Sebenarnya pihak KPI bisa bekerja sama dengan Youtube buat menghapus video-video sinetron itu yang sudah telanjur di share,” saran Citra.

Di samping itu, secara umum LRC-KJHAM mendesak agar lembaga penyiaran dapat meningkatkan pengawasan terhadap seluruh program siaran.

“Juga memastikan program siaran bebas dari konten yang mendiskriminasi perempuan dan anak,” tegas Citra. (*)

 

editor: ricky fitriyanto 

 

Baihaqi Annizar