in

Perempuan di Jateng jadi Korban Kekerasan, Dipaksa Kawin hingga Budak Seks

Pelaku kekerasan tidak memandang latar belakang pekerjaan.

Seorang perempuan membentangkan poster saat melakukan aksi unjuk rasa menyuarakan kesetaraan gender, perlawanan atas kekerasan seksual terhadap perempuan. (antara foto/hafidz mubarak)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Banyak perempuan di Jawa Tengah yang menjadi korban kekerasan. Berdasarkan data LRC-KJHAM, jenis kekerasannya pun bermacam-macam.

“Ada 95 kasus kekerasan terhadap perempuan. Itu baru kasus yang kami dampingi tahun 2021, belum ditambah dengan yang tahun 2022,” ujar Kepala Divisi Informasi dan Dokumentasi LRC-KJHAM Citra Ayu Kurniawati, Rabu (29/6/2022).

Baca Juga: Mengenal Gaslighting, Kekerasan Psikis dalam Hubungan Tak Sehat

Dari jumlah tersebut, ada satu kasus pemaksaan perkawinan, 18 kasus kekerasan dalam pacaran, 13 kasus pelecehan seksual, 31 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Ada juga kasus eksploitasi seksual dan perbudakan seksual,” jelas Citra.

Sementara itu, dilihat dari sisi pelaku ternyata berasal dari berbagai latar belakang. Mulai dari dokter, ASN, dosen, pengacara, TNI, bahkan guru ngaji dan pengasuh pondok. Ada pula yang pelakunya buruh pabrik, supir, pedagang.

“Siapapun bisa menjadi pelaku kekerasan, jadi memang tidak memandang latar belakang pekerjaan,” imbuhnya.

Kata Citra, dari puluhan kasus yang didampingi LRC-KJHAM ada yang diselesaikan melalui jalur litigasi maupun non litigasi.

Banyak faktor yang membuat korban akhirnya tidak mau kasusnya diproses hukum. Salah satunya karena masih kuatnya stigma dari aparat penegak hukum yang akhirnya menimbulkan ketakutan.

Di sisi lain ada kasus yang sedang diproses tetapi di tengah perjalanan kasusnya mandek.

“Biasanya mandek karena kurangnya alat bukti dan korban diminta untuk mencari alat bukti sendiri. Padahal banyak korban yang mengalami keterbatasan,” ucapnya. (*)

editor : tri wuryono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *