in

Perlunya Dukungan dan Perlindungan terhadap Perempuan Pembela HAM

Harus ada komitmen negara atas perlindungan keamanan dan hak ekonomi, sosial, dan budaya PPHAM.

Narasumber sedang paparan dalam acara Temu Nasional PPHAM Pendamping Perempuan Korban Kekerasan, Diskriminasi, dan Eksploitasi. (istimewa)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Perempuan pembela hak asasi manusia atau PPHAM mempunyai risiko kerja yang berat. PPHAM perlu mendapatkan dukungan dan perlindungan.

PPHAM dari LRC-KJHAM Semarang Witi Muntari mengakui beratnya pekerjaan yang digeluti selama ini. Ia harus mendampingi korban kekerasan berbasis gender, diskriminasi, hingga korban eksploitasi.

Setiap ada korban berarti ada pelaku. Pelaku inilah yang kadang menghambat kerja pendampingan yang dilakukan Witi Muntari dan timnya.

“Pernah mendapat risiko kerja, misalnya ancaman dari pelaku, teror, dibuntuti pelaku, atau tiba-tiba pelaku datang ke kantor,” cerita Witi Muntari.

Menurutnya, harus ada komitmen negara atas perlindungan keamanan dan hak ekonomi, sosial, dan budaya PPHAM.

Upaya perlindungan dan pemenuhan hak PPHAM ini menjadi salah satu pembahasan dalam acara Temu Nasional PPHAM Pendamping Perempuan Korban Kekerasan, Diskriminasi, dan Eksploitasi di Soreang, Kabupaten Bandung pada 12–14 Februari 2023.

Acara tersebut diinisiasi Indonesia Protection for Women Human Rights Defenders (IPROTECNOW), sebuah jaringan organisasi masyarakat sipil yang memiliki fokus kerja untuk pemajuan pelindungan dan pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya PPHAM Indonesia.

Salah satu narasumber Temu Nasional PPHAM, Indriyati Suparno menjabarkan situasi kerentanan PPHAM yang bekerja secara individu maupun berkelompok atau bergabung dalam organisasi pengada layanan untuk korban kekerasan berbasis gender.

Sering kali, katanya, mereka mendapat berbagai bentuk ancaman, kekerasan, dan balas dendam dari pelaku.

Bahkan ada PPHAM yang mengalami pelecehan dan kekerasan seksual, mengalami tekanan psikologis, mendapatkan KDRT dari keluarga, hingga mengalami stroke saat bekerja.

Koordinator IPROTECTNOW Yunita Tan mengaku prihatin atas apa yang dialami PPHAM. Dalam acara itu ia menjabarkan program yang sedang dijalankan untuk mewujudkan cita-cita PPHAM sejahtera dan terlindungi.

“Selama satu setengah tahun program IPROTECTNOW berjalan, sudah banyak PPHAM yang sadar bahwa ia memiliki hak asasi untuk diperjuangkan, juga sudah banyak cerita perubahan individu yang kami dokumentasikan,” ujarnya. (*)

editor : tri wuryono 

Baihaqi Annizar