in

Revitalisasi Kota Lama Molor, Pengusaha Kuliner Merugi dan Terpaksa Tutup Sementara

“Sambil nunggu proyek selesai lah. Kalau masih seperti ini, dibuka pun, siapa yang mau mampir,”

SEMARANG (jatengtoday.com) – Peluang usaha di kawasan destinasi wisata terbilang menjanjikan. Namun, beberapa pengusaha di kawasan Kota Lama Semarang terpaksa memilih untuk menutup usahanya sementara, hingga proyek revitalisasi benar-benar selesai.

Nur Hidayat selaku pemilik kedai sekaligus owner Bakso Malang mengungkapkan, molornya revitalisasi Kota Lama sangat berdampak bagi usaha kuliner yang dijalaninya. Sebab, jika tetap dipaksa untuk buka pun pelanggannya tidak bisa maksimal.

“Lama banget (proyek revitalisasinya). Masa udah setahun lebih nggak jadi-jadi. Rugi banget jadinya,” ujar Hidayat saat ditemui, Kamis (14/3/2019).

Ia menjelaskan, penurunan omset sudah dirasakan sejak revitalisasi kawasan tersebut dimulai. Karena itu, Hidayat memilih untuk menutup sementara usaha kulinernya yang berada di Jalan Letjen Suprapto nomor 57 tersebut. Bahkan hingga sekarang.

“Ini (Bakso Malang) ya tutup terus, soalnya kan aksesnya juga sering ditutup. Ini jadi kan baru kemarin. Itu pun pengunjung belum ramai, percuma kalau buka,” keluhnya.

Menurut Hidayat, sebelum proyek revitalisasi dilakukan, dalam sehari Bakso Malang yang dijualnya bisa laku 150 porsi. “Kemarin coba tak buka sebentar, ternyata ancur, sehari paling laku 10 porsi. Daripada rugi gitu, mending tak tutup lagi sampai proyek benar-benar selesai,” bebernya.

Nantinya, kata Hidayat, jika Kota Lama sudah bagus, ia akan kembali membuka bisnisnya. Bahkan, ia akan menawarkan konsep dan branding baru. Jika sebelumnya adalah Bakso Malang dengan konsep retro, kelak akan diganti menjadi kedai Soto Seger Surakarta dengan konsep khas Kota Lama.

Menurutnya, peminat soto dipandang lebih potensial dan menjanjikan jika dibanding dengan bakso.

Hidayat mengaku ingin mengambil segmen wisatawan di Kota Lama. Apalagi, pengunjung semakin banyak seiring maraknya kafe-kafe di kawasan itu. Ia ingin berkolaborasi dan berbagi peran, meskipun tidak secara langsung.

“Biasanya kalau orang-orang ingin ke kafe kan tidak makan. Nah bisa makan di sini dulu baru masuk kafe,” harapnya.

Rencananya, kata Hidayat, usahanya bakal dibuka akhir bulan April atau awal Mei nanti. Sembari menunggu revitalisasi benar-benar selesai. “Sambil nunggu proyek selesai lah. Kalau masih seperti ini, dibuka pun, siapa yang mau mampir,” tandasnya. (*)

editor : ricky fitriyanto

Baihaqi Annizar