in

Musim Hujan, Puluhan Lampu di Kota Lama Semarang Mendadak jadi ‘Akuarium’

SEMARANG (jatengtoday.com) – Pemandangan tak wajar terlihat mencolok di sepanjang jalan kawasan Kota Lama Semarang. Beberapa lampu kaca yang tergantung mendadak seperti akuarium karena terisi air hujan.

Kondisi semacam itu bisa terlihat jelas sesaat setelah memasuki Kota Lama melalui Jembatan Berok. Di pertigaan Jalan Empu Tantular dan Kampung Sleko ada dua lampu yang sudah terisi air hingga hampir penuh.

Hal serupa bisa dijumpai di sepanjang Jalan Empu Tantular hingga dekat Stasiun Tawang Semarang. Terhitung ada sekitar 16 lampu yang sudah berisi air.

Tak berhenti di situ, lampu berair juga terlihat di sepanjang Jalan Merak atau arah Polder Tawang menuju kedai Filosofi Kopi. Ada sekitar 8 lampu yang terisi air. Lampu-lampu di Jalan Kepodang juga demikian.

Jika ditotal, berdasarkan pengamatan pada Jumat (27/12/2019) sore, ada puluhan lampu yang menjadi ‘akuarium’.

Rahman (41), salah satu warga Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara yang kerap melewati jalan di Kota Lama mengaku tak heran mendapati pemandangan semacam itu. Sebab,, lampu berair sudah terjadi sejak awal musim penghujan tahun ini.

“Udah dari lama itu. Pokoknya kalau habis hujan biasanya langsung ngendung (terisi air). Cuma kalau pas panas kan menguap,” ujarnya.

Supeno (51), warga Kampung Sleko, Bandarharjo juga mengamini perkataan Rahman. “Ini mending karena seharian (hari Jumat) nggak hujan. Coba kalau hujan, pasti tambah banyak, malah bisa ada yang sampe penuh airnya,” celetuknya.

Sementara itu wisatawan asal Kabupaten Kudus, Nyamat Widodo (29) mengaku sedikit menyayangkan kondisi tersebut. Apalagi revitalisasi kawasan Kota Lama Semarang juga belum sepenuhnya rampung.

“Padahal baru kemarin dikabari kalau Kota Lama sudah bagus, ini tak sempetin ke sini. Makanya kaget juga kalau ternyata sudah ada bagian yang rusak,” ucap Nyamat bersama rekannya.

Alumni kampus Unissula Semarang tersebut menerka ada kesalahan dalam pemilihan lampu penerangan jalan. “Mungkin harusnya jangan model kaya gitu kali ya. Atau bisa jadi kualitas dari lampunya itu yang kurang baik. Tapi nggak tau sih,” ujarnya.

Dilihat dari jenisnya, penerangan jalan di Kota Lama sebenarnya cukup beragam. Ada yang model tergantung di tiang, ada juga yang ditopang di atas tiang. Kaca (wadah) lampunya juga beda-beda. Ada yang lonjong, bulat, hingga variasi dari itu.

Penerangan di sepanjang Jalan Letjen Suprapto yang merupakan jalan utama di Kota Lama, cukup aman, tidak ada yang dipenuhi air. Pasalnya lampu kacanya diberi tudung yang cukup rapat, sehingga air tidak bisa masuk.

Penerangan di Jalan Merak (seberang Polder Tawang) juga aman. Sebab, meskipun menggunakan jenis kaca lampu yang menggantung tetapi bagian bawah kaca berlubang, sehingga air tidak menggenang.

Perjalanan Revitalisasi Kota Lama

Revitalisasi kawasan Kota Lama Semarang dilakukan secara bertahap. Untuk revitalisasi tahap pertama dengan total anggaran Rp 183 miliar sudah diklaim selesai oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Tahap ini mencakup pengerjaan jalan pedestrian menggunakan paving block dilengkapi pembatas. Kemudian dibuat jaringan utilitas berupa kabel listrik, fiber optic, telepon, pipa PDAM bawah tanah, jaringan drainase, dan pembangunan dua kolam retensi untuk mengurangi risiko genangan.

Proyek ini ditangani langsung Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya. Secara teknis, pengerjaan dilakukan kontraktor PT Brantas Abipraya, sejak Desember 2017 hingga Juni 2019.

Dalam perjalanannya, revitalisasi tahap pertama banyak menuai polemik. Pasalnya pihak pemerintah sempat mengulur-ulur target penyelesaian proyek. Bahkan, revitalisasi tahap awal ini sebenarnya ditargetkan selesai Desember 2018.

Simak beberapa berita seputar kemoloran proyek yang telah dicover jatengtoday.com:

Selain soal kemoloran, revitalisasi tahap pertama juga mendapat sorotan karena beberapa hal yang sudah dikerjakan ternyata hasilnya kurang memuaskan. Simak berita berikut ini:

Sementara itu, untuk revitalisasi tahap dua dimulai pada Oktober 2019 dan ditargetkan rampung pada April 2020. Alokasi anggaran yang dikucurkan sekitar Rp 60-70 miliar.

Hal tersebut sebagaimana diungkapkan Wakil Wali Kota Semarang sekaligus Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu kepada awak media.

Dia pernah menjelaskan, pembangunan tahap dua akan menjangkau bagian luar Kota Lama. Karena memang pembangunan tahap pertama fokus membenahi bagian dalam. Termasuk menjangkau Polder Bubakan dan Sungai Berok sebagai kolam retensi yang belum sepenuhnya kelar di tahap pertama.

Akankah revitalisasi tahap dua tepat waktu? Mungkinkah hasilnya lebih memuaskan? (*)

 

editor : ricky fitriyanto