in

Pesan Moral di Balik “Bagong Rabi”

Memahami wayang orang dari pementasan “Bagong Rabi” di Festival Kota Lama Semarang.

Tarian dalam pertunjukan wayang wong ramaikan pengunjung di Oudetrap Open Thater di kegiata Festival Kota Lama Semarang. (Foto: Della)

Wayang adalah satu satu kesenian budaya yang menjadi warisan bangsa.  Mengapa demikian? Wayang merupakan salah satu aspek terpenting dalam perkembangan sejarah bangsa Indonesia. Melalui sejarah perwayangan, diketahui bahwa wayang telah menjadi salah satu media penyebaran agama islam dari pulau ke pulau yang dilakukan oleh para wali. Untuk mempopularitaskan perwayangan di Indonesia, para seniman menuangkan sebuah ide atau gagasannya dengan melahirkan pertunjukan kesenian wayang wong.

Sejarahnya, wayang wong pertama kali diperkenalkan oleh Mangkunegara I beliau merupakan raja pertama mangkunegara. Awal mulanya, pertunjukan kesenian wayang orang hanya ditampilkan pada acara – acara tertentu seperti acara di istana, acara ulang tahun di istana, acara penobatan raja dan lain sebagainya. Lambat laun, kesenian wayang wong mulai diperbolehkan ditampilkan dan dinikmati oleh masyarakat sebagai sebuah hiburan.

Wayang wong telah menjadi kesenian tradisional yang masih aktif hingga saat ini diperkenalkan ke mancanegara. Tidak hanya itu, sudah beragam kalangan masyarakat yang bisa menikmati pertunjukan wayang wong dan kebanyakan dari mereka menyaksikan penampilang wayang wong memegang antusias yang begitu besar terhadap nilai – nilai yang terkandung dalam sebuah pementasan wayang wong.

Wayang wong tidak hanya dianggap sebagai sebuah sarana hiburan untuk masyarakat melepaskan penat. Melalui pementasan wayang wong, masyarakat dapat mengambil nilai dan moral yang disampaikan melalui pesan – pesan dalam setiap pementasan yang dibawakan oleh para lakon dalam pementasan wayang wong. Sehingga, masyarakat sangat menikmati pementasan wayang wong dikarenakan nilai – nilai yang disampaikan tidak diajarkan berdasarkan sebuah kalimat yang konkret melainkan melalui pembawaan para tokoh yang ditampilkan dalam pertunjukan wayang wong.

Wayang Wong di Festival Kota Lama Semarang

Siapa sangka bahwa penampilan wayang wong mampu meramaikan jalanan kota lama di Semarang? Hingga saat ini, Wayang wong tetap tidak kehilangan popularitasnya dikarenakan kreativitas seniman yang terus melestarikan kesenian wayang wong untuk dipertunjukan pada setiap kalangan masyarakat. Pada bulan September, Saya sempat menyaksikan sebuah penampilang Wayang wong yang diselenggarakan oleh Pemerintahan Kota Semrang yang berlokasi di Kota Lama Semarang. Pada sebuah Festival Kota Lama Semarang yang bertajuk Heritage in Harmoni ini mewarnai sudut Kota Lama Semarang mengusung sebuah nilai budaya yang tinggi seperti diselenggarakannya kegiatan kuliner nostalgia pasar sentiling, 1000 milenial berkebaya, wayang on the street dan kegiatan lainnya yang mampu membawa keragaman budaya yang ada di Semarang. Pada rangkaian Festival Kota Lama Semarang yang menjadi pusat perhatian Saya adalah sebuah pertunjukan seni yang ditampilkan tanggal 19 September 2023 pada malam hari pukul 19.00 hingga 22.00 yaitu pertunjukan Wayang Orang on the Street.

Saat itu, suasana di Oudetrap Open Theater diramaikan oleh semua kalangan masyarakat bahkan diawal acara disemarakkan oleh penampilan anak – anak kecil yang menampilkan sebuah tarian dolanan. Dibuat bangga dan terharu dalam satu malam menyimpan beragam nilai – nilai budaya. Dimana penonton diikutsertakan untuk berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai bentuk cinta tanah air, kemudian dilanjut dengan penampilan anak – anak kecil yang berasal dari sanggar Ngesti Pandowo menampilkan sebuah tarian dolanan.

Setelah itu, berlanjut dengan kegiatan flasmob budaya yang membawakan tarian dan memperkenalkan musik daerah berjudul Gugur Gunung diartikan sebagai sebuah ajakan serta dorongan untuk bergotong royong dan bersinergi untuk membangun bangsa.

Pada malam itu, memasuki acara inti dengan menampilkan pertunjukan kesenian wayang wong on the street yang dibawakan oleh sanggar Ngesti Pandowo bertema Bagong Rabi telah berhasil memukau puluhan penonton dengan suara tertawa dan tepuk tangan yang meriah. Pertunjukan seni tersebut telah berhasil membuat suasana di Oudetrap Open Theater menjadi ramai dengan suara tertawa dikarenakan pertunjukan Wayang Orang diselimuti dengan gaya bahasa yang mampu menggelitikan perut penonton.

“Wayang Orang bertajuk Bagong Rabi ini menceritakan bahwa cinta itu ternyata tidak mengenal pangkat dan kedudukan, siapapun pasti akan mengalami jatuh cinta. Dengan menghadirkan sosok Bagong yang berasal dari rakyat kecil merasakan jatuh cinta kepada Dewi Mayangsari yang merupakan putri dari sebuah kerajaan. Perjuangan dan ikhtiar terus dilakukan oleh Bagong untuk memperjuangkan cintanya. Tentu saja perjuangan cinta Bagong ini tidak terlepas dari takdir sang dewata.” tutur MC

Tidak dapat dipungkiri bahwa pertunjukan tersebut mampu menarik banyak perhatian dan mempersatukan para pengungjung dari berbagai daerah seperti Cilacap, Bandung, Cirebon, dan lain sebagainya. Selama pertunjukan, telah menarik antusias penonton salah satunya seorang mahasiswa asal Banten bernama Salva (21) yang mengkosongkan waktunya untuk menikmati pertunjukan wayang wong bersama ketiga temannya.

“Pertunjukan Wayang Orang ini harus dan wajib banget dilestarikan, bahkan kalau bisa sampai ke mancanegara. Karena sedari awal budaya adalah jantung dari kehidupan manusia.” Ungkap Salva yang tidak selalu lupa untuk mendokumentasikan setiap penampilan pada malam hari itu. Ia juga mengaku senang dan bangga telah menyaksikan kesenian dengan ragam budaya ini.

Salva menyampaikan pendapatnya bahwa pertunjukan Wayang Orang ini merupakan salah satu bagian dari budaya Indonesia terkhusus Jawa.

“Pertunjukan Wayang Orang ini jangan sampai punah, karena jika punah  layaknya hidup tanpa jiwa dan sejatinya budaya, manusia dan kehidupan tidak akan pernah dipisahkan,” pesannya

Pementasan kesenian Wayang Orang yang berasal dari Ngesti Pandowo akan terus dilestarikan dan dipertunjukan setiap hari Sabtu malam pukul 20.00 WIB yang berlokasi di Gedung Ki Narto Sabdo, Semarang.

Melalui tokoh – tokoh yang dipentaskan terkandung sebuah nilai – nilai sosial yang berkembang di masyarakat seperti tokok Petruk yang bernilai kesopanan, memiliki hati yang baik dan selalu berupaya untuk mewujudkan kerukunan. Lalu, tokoh Gareng salah satu tokoh yang berkarakter benci dengan kejahatan dan selalu berhati – hati. Tokoh Semar yang memegang karakter sabar, selalu mengalah dan mencintai sesame manusia. Selanjutnya, tokoh Bagong memiliki karakter yang jika berbicara suke bercanda dan selalu bersikap lancang.

Wayang wong hadir tidak semata – mata untuk memanjakan mata masyarakat dengan balutan komedi di dalamnya. Melainkan, pementasan wayang wong telah meluaskan nilai – nilai yang berdampingan dengan kehidupan berbangsan dan bernegara. Sehingga, wayang wong  telah menjadi salah satu sumber pendidikan bagi masyarakat untuk lebih peduli dan bersinergi membangun budaya bangsa. Selain itu, melalui penampilan wayang wong menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam melestarikan kesenian tradisional yang sudah menjadi warisan bangsa Indonesia. [del]

Della Nur Fauziah Syadiyah. Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) Jurusan Pendidikan Sejarah, semester 7, asal Cirebon yang suka menulis tentang seni, sejarah, dan fotografi.

Della Nur Fauziah Syadiyah