in

Pakar Lingkungan: Normalisasi Sungai dan Perbaikan Drainase Tak Cukup Atasi Banjir Semarang

SEMARANG (jatengtoday.com) – Persoalan banjir di Kota Semarang tidak cukup jika hanya diselesaikan dengan cara normalisasi sungai dan perbaikan drainase. Pemkot Semarang harus mengatasi sumber utama penyebab banjir itu sendiri.

Menurut pakar lingkungan hidup Prof Sudharto P Hadi, proyek normalisasi dan pembangunan drainase yang sekarang sedang dikerjakan Pemkot hanya menjadi solusi sementara. Skalanya hanya jangka pendek, bukan jangka panjang untuk benar-benar menyelesaikan persoalan banjir.

“Jangka panjangnya harus ke sumber masalahnya, yakni soal alih fungsi lahan. Itu harus dikendalikan,” ujar mantan Rektor Universitas Diponegoro (Undip) tersebut.

Bentuk pengendalian alih fungsi lahan, katanya, bisa dilakukan dalam aturan tata ruang.

Dia mencontohkannya dengan tata ruang zaman dahulu. Wilayah Kecamatan Mijen pada tahun 1975 – 2000 rencana tata ruangnya untuk perkebunan, pertanian, dan peternakan. Tapi lambat laun tidak terkontrol.

“Mijen itu perkembangannya pesat, tahun 1980-an banyak perumahan bermunculan. Ada alih fungsi lahan di situ,” imbuhnya.

Alih fungsi ruang terbuka hijau menjadi perumahan tersebut membuat proses penyerapan air tidak maksimal. Akhirnya, air yang tidak terserap itu menjadi air larian yang mengalir dari hulu menuju hilir, hingga menyebabkan wilayah Semarang bawah selalu banjir.

“Perubahan alih fungsi lahan itu membawa serta air larian yang besar masuk ke Sungai Beringin. Kemudian yang menerima pasokan air di hilir adalah Mangunharjo dan Mangkang Wetan. Makanya setiap tahun disana kebanjiran,” jelasnya.

Dia menyarankan agar pemerintah melakukan mapping secara serius. Berapa persen lahan yang harus dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau dan mana yang boleh dimanfaatkan untuk dibangun perumahan.

Selain itu, imbuh Dharto, perumahan-perumahan harus diwajibkan mempunyai embung, sumur resapan, danau buatan, dan biopori, sehingga air hujan itu bisa meresap ke dalam tanah. “Ditahan di situ. Biar tidak menjadi air larian yang menuju hilir,” sarannya. (*)

editor : ricky fitriyanto