in

Masalah Kartu Tani, Petani Harus Mudeng

Memang masalah pupuk sangat klasik, karena sejak dari dulu sampai sekarang masih menjadi hambatan bagi para petani untuk memperolehnya.

Muthi Kholil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Demak saat menjelaskan mengenai kartu tani dan masalah pertanian lainnya. (istimewa)

DEMAK (jatengtoday.com) – Semakin ke sini kita semakin bangga dengan Dinas Pertanian dan Tanaman Kabupaten Demak,  karena kita sama-sama tahu supportnya terhadap pertanian Demak ke teman-teman petani kelompok tani itu semakin bagus.  Bantuan alat-alat pertanian bantuan bibit pertanian ini ada terus setiap tahun.

Demikian diceritakan Muthi Kholil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Demak, saat melakukan Dialog Interaktif dengan Petani Kabupaten Demak dalam rangka Peningkatan Kapasitas bagi Kelompok Tani di ballroom Gedung wakil  bupati, beberapa waktu lalu.

Menurut lelaki penggemar olahraga sepeda ini, cuma memang masalah pupuk ini adalah masalah yang sangat klasik, karena sejak dari dulu sampai sekarang masih menjadi hambatan bagi para petani untuk memperolehnya.

“Kenapa demikian, karena memang dari pusat sudah dicata pak, ada kuota dan yang sering terjadi. Bahkan seperti kata pak Agus (Plt Kadinas Dinpertan) saat melakukan jual beli atau sewa sewa lahan pertanian, kadang-kadang kartu tani yang digunakan untuk mengambil pupuk subsidi masih dipegang sama pemilik lama, sehingga pemilik baru kesulitan memperroleh pupuk subsidi,” jelasnya.

“Nah teman-teman petani, setelah pulang dari sini bisa saling memberi kabar kepada tetangganya tangan kiri keluarganya family supaya kalau jual beli itu kartu tani wajib ditanyakan. Hal ini perlu dilakukan supaya persoalan Pupuk ini tidak menjadi persoalan yang tiap tahun terjadi,” tegasnya.

Selain masalah pupuk menurut Muthi adalah harga gabah setelah panen raya tiba, menurutnya banyak kejadian dimana harga gabah anjlok saat panen raya tiba, hal ini tentu saja sangat merugikan para petani yang sudah bersusah payah menanam padi mulai dari nol dan dengan biaya yang tidak sedikit.

“Saya ingin ada andil dari pemerintahan kabupaten Demak agar dapat membantu para petani saat panen raya, supaya harga gabah itu tidak terlalu rendah di lapangan. Ini kan problematika petani pak,  satu persoalan pupuk, kedua persoalan harga panen raya, dan yang ketiga sekarang ini adalah semakin tingginya air rob yang menggenangi areal persawahan milik para petani di Sayung, Karangtengah, Bonang, hingga Wedung,” ujarnya

“Bahkan di tempat kelahiran saya di Bonang, dimana dulu merupakan areal persawahan yang paling maju sekarang perlahan mulai hilang tenggelam karena rob, untuk itu perlu ada campur tangan Pangeran itulah pentingnya kita selain ikhtiar kita juga harus selalu berdoa bahkan kita jangan sampai lepas dari soa, ” terang Muthi.

Lebih lanjut Muthi mengatakan, bahwa buat dirinya petani adalah panglima negeri, petani adalah pahlawan bangsa. Karena kalau tidak ada petani kita repot tidak ada nasi, apalagi orang Jawa dan orang Indonesia pada umumnya masih sangat membutuhkan nasi sebagai makanan pokok.

Untuk itu dirinya mengajak para petani untuk mendukung program-program Dinas Pertanian, dan men-support keberhasilan pangan di kabupaten Demak. Agar Demak bisa menjadi lumbung padi nasional, karena di Jawa Tengah saja Demak ada di peringkat tiga. (*)

Ajie MH.