in

Maestro Tari Yoyok Bambang Priyambodo Jelaskan Pentingnya Tembang Dolanan Jawa

SOLO (jatengtoday.com) – Pemerintah Kota Surakarta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggelar Workshop Tembang Dolanan di Hotel Amrani Surakarta, beberapa waktu lalu.

Gelaran yang dibuka Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Siti Khotimah ini untuk meningkatkan standarisasi dan sertifikasi sumber daya manusia melalui kesenian tradisional sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman.

Adapun narasumber yang dihadirkan yakni Dr Suyoto dari Institut Seni Indonesia Surakarta dan Yoyok Bambang Priyambodo dari Sanggar Greget Semarang.

Pada momen ini dilantunkan lagu Gundul Pacul karya RC Hardjo Soebrata. Bersama sama di tembangkan oleh peserta workshop.

Mereka berasal dari guru-guru SD perwakilan dari sekolah di Wilayah Kota Surakarta.

Menurut Mas Yok panggilan akrab Yoyok Bambang Priyambodo, tembang dolanan hanya sebuah kata-kata yang di lagukan. Tapi syair-syair tersebut Ngemu Suraos (memiliki maksud, makna dan mengandung tuntunan/ajakan yang baik).

Seperti halnya makna dalam tembang Gundul-Gundul Pacul.

“Kita sebagai manusia janganlah Gembelengan, dalam bahasa Indonesia yang berarti jangan besar kepala, congkak, angkuh dan sombong,” kata Yoyok.

Dia mengisahkan, ketika masih anak-anak atau di tahun 1970-an, tembang dolanan masih sering di dengarkan di Radio dan dilihat di Televisi. Bahkan ikut menembangkanya/menyanyikanya tatkala sore hari menjelang petang sambil bermain. Hal tersebut hampir tiap hari dilakukan oleh anak- anak. Tanpa disadari tembang ini mengandung makna yang begitu dalam.

“Maknanya memupuk dan menanamkan rasa kebersamaan, gotong royong, mawas diri serta merupakan kegiatan yang menyenangkan/rekreatif, disamping untuk mengisi waktu luang,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Mas Yok kembali mengajak peserta untuk melantunkan tembang karya dirinya sendiri. Yakni sebuah syair lagu kitira yang di tulis pada tahun 2015 dan sudah diwujudkan dalam Tari Kitiran dan ditayangkan di Chanel Youtube Sanggar Greget.

“Syair Tembang Kitiran ini mengandung tentang pengertian bahwa dunia ini berputar, kadang kita bisa berada di atas dan di bawah,” sebutnya.

Dia pun berharap, pemerintah agar dapat memberi ruang tempat bagi anak-anak untuk bermain sambil menyanyikan tembang dolanan. (*)

Ajie MH.