in

Cerita di Balik Lahirnya Tari Khas Desa Wisata Kota Semarang

SEMARANG (jatengtoday.com) – Kini kampung-kampung wisata di Kota Semarang tidak hanya menawarkan wisata sejarah, spot foto, atau sajian kuliner saja.

Kampung wisata di Kota Semarang juga memiliki tarian khas yang bisa dipertunjukkan untuk menyambut wisatawan yang hadir.

Setidaknya sudah ada empat kampung wisata yang telah memiliki tarian, antara lain di wilayah Genuk, Gunung Brintik Kampung Pelangi, Kampung Melayu Semarang dan kini ‘Kampoeng Djadoel’ Kampung Batik Semarang.

Munculnya tarian-tarian tradisional khas desa wisata itu tak lepas dari peran Maestro Tari Kreasi Tradisional Indonesia, Yoyok Bambang Priyambodo.

Ia menyumbangkan tenaga dan pikirannya dengan menciptakan tarian yang dipersembahkan untuk kampung-kampung wisata di Kota Semarang.

“Semua kampung tersebut saya buatkan tarian dengan jenis dan warna yang berbeda. Tentu yang membedakan adalah adanya sejarah dan karakter yang berkembang di kampung tersebut,” ungkap Yoyok yang juga Pendiri dan Pembina Sanggar Tari Greget Semarang ini.

Diungkapkan lebih jauh, bahwa untuk menciptakan suatu karya, Yoyok mengawalinya dengan riset sejarah yang melatar belakangi kampung tersebut.

Salah satunya di Kampung Brintik yang kini dikenal sebagai Kampung Wisata Pelangi.

“Brintik ini punya legenda ‘Mbah Nyai Brintik’ sebagai pepunden Kota Semarang selain Ki Ageng Pandanaran selaku pendiri Kota Semarang. Dalam legenda, Mbah Nyai Brintik ini dikenal sakti dan temperamental bila terusik. Namun kala bertemu dengan Ki Ageng Pandanaran dan sempat beradu kesaktian, justru menjadi arif dan bijaksana. Oleh karena itu nilai-nilai kearifan inilah yang saya tuangkan menjadi tarian dalam membangun Kota Semarang,” paparnya.

Tak beda pula dengan Tarian Kembang Manggar Melayu yang dipersembahkan untuk warga Kampung Melayu Petek Semarang.

“Tarian Manggar ini juga hasil riset dari seni budaya melayu yang berkembang di Kota Semarang. Di Kampung Petek yang dikenal sebagai Kampung Melayu banyak masyarakat dari Banjar, Minang dan lainnya. Mereka tumbuh dan berkembang dengan masih memegang tadisi serta budaya Melayu. Lama kelamaan budaya mereka berbaur dengan budaya lokal hingga menjadi Budaya Semarangan. Kembang Manggar menjadi salah satu karya budaya pembauran tersebut, sehingga saya angkat menjadi tarian yang identik dengan produk budaya Melayu-Semarangan,” terang Yoyok.

Sedang ‘Tarian Batik Semarangan’ didedikasikan untuk warga Kampung Batik Semarang yang berada di kawasan Kota Lama Semarang.

Yoyok Bambang Priyambodo lama meriset sejarah dan perkembangan Batik Semarangan. Tak hanya itu, Yoyok juga mempelajari gestur membatik Semarangan.

“Ya kita tahu membatik itu sangat dipengaruhi oleh gestur atau karakter. Saya menemukan ada gaya yang bereda antara gestur Surakarta, Pekalongan hingga Semarangan. Intinya Pesisiran punya gaya sendiri, sehingga ini lah yang bisa menjadi inspirasi dalam sajian tarian. Iringan tarian pun juga akan disesuaikan dengan gaya Semarangan,” lanjut Yoyok.

Beberapa tarian yang dipersembahkan Yoyok ini tidak semata tarian yang menghibur. Melainkan juga bermuatan edukasi dan tuntunan.

“Harapan saya tarian yang saya ciptakan ini tidak sekadar tontonan, namun sarat akan tuntunan. Mereka yang melihat gerakannya akan mengerti maknanya. Jadi tidak sekadar indah karena gemulainya, akan tetapi akan paham atas setiap olah gerak dari kepala, badan, tangan hingga kaki,” terangnya.

Dalam menggarap tarian, Yoyok melibatkan semua anak didik Sanggar Tari Greget Semarang.

Mereka ikut serta melatih warga kampung yang hendak menerima hibah tarian. Seperti yang baru saja dilakukan di Kampung Batik Semarang.

Mereka yang awalnya merasa kaku karena tak pernah menari, justru merasa senang hati ikut menari. Kristin, salah satu warga merasa senang menerima pelatihan menari.

“Butuh kesabaran dan konsentrasi tinggi menghafal gerakan tari. Disamping itu kita harus benar-benar bisa mengaplikasikan gerakan dengan sehalus mungkin sesuai dengan musik yang mengiringi,” aku Kristin.

Yoyok membenarkan, bahwa menari itu pengaruhnya sangat besar pada kepribadian. Menari bisa membentuk karakter pribadi seseorang.

Oleh karena itu, dirinya selalu menggalakkan agar menari disukai banyak orang. Tak sekadar melihat, akan tetapi bisa ikut menari.

“Khususnya tarian Jawa, setiap gerak ada makna dan mengandung filosofi. Jadi tidak sekadar menyehatkan karena merupakan olah badan atau olah raga, akan tetapi akan mampu membangun konsentrasi yang membuahkan kesabaran dan kemantapan berpikir. Kita jadi sabar dan tidak grusa-grusu,” paparnya.

Keprihatinan

Yoyok merasa senang apabila banyak anak-anak menekuni tari secara benar. Dirinya prihatian, kecenderungan anak muda sekarang suka menari tapi tidak terstruktur dengan baik.

Contohnya banyak mereka yang memanfaatkan ‘TikTok’an’ dengan membuat konten tarian yang sekadar gerak. Menurutnya dari segi artistik harus diperhatikan, apalagi kalau mampu memasukkan unsur budaya kita, tentu akan mejadi beda.

Keprihatinan Yoyok lainnya adalah semakin sedikit generasi muda yang mau belajar menari. Hal ini dipicu karena tidak banyak anak muda yang menerima literasi menari melali muatan pelajaran di sekolah maupun di luar sekolah.

Selain itu juga di sekolah-sekolah sudah banyak yang tidak lagi menyediakan porsi pelatihan menari di kegiatan Ekstra Kurikuler. Sedikit peminat sering menjadi dasar meniadakan ekstra kurikuler menari.

Oleh karena itu, Sanggar Tari Greget yang dipimpinnya menggandeng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang untuk mengadakan Bakti Sosial Budaya yang kegiatannya adalah mencipta tarian dan menghibahkannya kepada Kampung-kampung Wisata di Kota Semarang.

Yoyok berharap dengan kegiatan ini akan menjadikan banyak kampung di Semarang memiliki tarian yang spesifik. Para penarinya pun juga warga setempat yang telah menerima pelatihan dari Sanggar Tari Greget.

“Kami ajarkan menari dari dasar hingga bisa di kampung-kampung setempat. Kira-kira 3 bulan sampai mereka bisa membawakannya. Setelah itu kami melakukan pendampingan dan persilahkan mereka melatih warga lainnya. Harapan kami bila ada acara di Kampung maupun Kota, mereka bisa membawakannya,” kata Yoyok.

Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu sangat mengapresiasi Sanggar Greget yang mampu menjadi mitra Pemerintah Kota Semarang dalam urusan Seni Budaya dan Kepariwisataan.

Kehadiran Sanggar Greget menjadikan Kota Semarang penuh Greget dalam Berkesenian dan Berkebudayaan. (*)

Ajie MH.