in

Teater Tari Sang Begawan Jadi Harapan Pemimpin Indonesia Masa Depan

Mengambil kisah Sang Begawan, Yoyok juga berharap, ke depan Indonesia bisa dimpimpin oleh sosok Begawan Abiyasa dan Begawan Palasara.

SOLO (jatengtoday.com) – Sejumlah penari yang telah punya nama, menyuguhkan Teater Tari Sang Begawan di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), beberapa waktu lalu.

Mereka adalah maestro tari Yoyok Bambang Priyambodo, Pamardi, Daryono, Darmawan Dadijono, serta Anggono Kusumo Wibowo.

“Pukul, bunyikan gamelan carabalen Niscaya akan kudendang tembang syukur melalui gerak-gerak tubuhku Pukul, bunyikan kemanak yang berpasangan Suranya akan bergaung membubung tinggi mengantar gerak-gerak tubuhku bersenandung doa sampai akhir keberadaan Pukul, bunyikanlah gamelan gadhon lantunkan tembang Dandang Gula didalamnya aku tak akan pernah berhenti untuk bergerak bercerita tentang rahasia keabadian.”

Kalimat itu merupakan sebagian monolog yang ditulis dan dibacakan Djarot Budidarsono mengawali reportoar Teater Tari Sang Begawan.

Tembang dhandang gula menjadi ilustrasi gamelan susunan Canadian Mahendra didukung Tim Karawitan Sanggar Greget Semarang sebagai iringan tari Sang Begawan dalam menyajikan olah gerak dan rasa yang dibingkai pada Langen Mataya seni tradisi Gaya Surakarta, Yogyakarta, Pesisiran dan Nusantara serta belahan Dunia.

Yoyok menjelaskan, pementasan Teater Tari Sang Begawan merupakan refleksi budaya atas pengakuan sosok manusia yang dianggap telah mumpuni dalam sebuah bidang keilmuan tertentu, dalam hal ini telah sampai pada tingkatan tinggi bidang tari.

“Ini sekaligus merupakan sekapur sirih pada kegiatan Gelar Tari Jawa Tengah #4 yang diselenggarakan oleh Forum Silaturahmi Sanggar Tari Jawa Tengah,” ucapnya.

Lebih lanjut, sang maestro tari menjelaskan, begawan dalam seni pedalangan atau cerita wayang sebagai sosok yang ahli bidang ekonomi, sisial budaya, politikus dan ilmu pengetahuan serta strategi dalam mengatur pemerintahan dan berperang seperti tokoh Begawan Abiyasa atau Byasa.

“Begawan ini salah satu tokoh yang muncul dalam wiracarita Mahabharata yang memiliki watak bijaksana, adil dan penuh rasa kasih sayang. Dia adalan putra Begawan Palasara dan Dewi Satyawati, kakek dari para Pandawa dan Kurawa sekaligus guru olah kanuragan, kesaktian dan menggunakan ilmu kebatinan serta spiritual dalam mendekatkan diri pada Tuhan,” paparnya.

Selain Begawan Abiyasa juga ada Begawan Palasara adalah putra dari Begawan (Bambang) Sakri dari pertapaan Argacandi. Ibunya adalah Dewi Saiya, putri dari Prabu Partawijaya yang merupakan raja dari negara Tabelasuket. Setelah dilahirkan di istana, Palasara diboyong ke Gunung Saptaarga atas permintaan dari kakeknya sendiri.

“Nama Palasara diperoleh dari kakeknya, Resi Manumayasa, yang berarti senjata yang ampuh. Nama tersebut merupakan anugrah Sanghyang Jagadnata yang disampaikan oleh Sanghyang Narada,” terang Yoyok.

Mengambil cerita Sang Begawan, Yoyok juga berharap, ke depan Indonesia bisa dimpimpin oleh sosok Begawan Abiyasa dan Begawan Palasara.

Selain menyuguhkan pertunjukan yang diproduksi Sekar Arum, Annastasia, Veroma Bily, Darsono dan  Tim Panggung Tria Vita bersama kru TBJT ini, disuguhkan juga beberapa tarian dan kawaritan.

Seperti dari Sanggar Seka, Sakral Kabupaten Pemalang, Tari Manuk Wuk, Kuntul Sanggar Karnelis Budoyo Kabipaten Demak, Drama Tari Prasasti Ati Sanggar Kembang Lawu Kabupaten Karanganyar, Sendratari Boyo Kali Comal Sanggar Srimpi Kabupaten Pemalang.

Kemudoan Tari Simo Gringsing Sanggar Bergodo Alas Roban Kabupaten Batang, Tari Nyai Setomi Sanggar Langen Mataya Kota Surakarta, serta Kesenian Soreng Sanggar Warga Setuju Bandungrejo Kabupaten Magelang. (*)

Ajie MH.