in

Maestro Tari Yoyok Bambang Priyambodo Bimbing Penari Sanggar Tari Brahmastra Salatiga

SALATIGA (jatengtoday.com) – Maestro Tari, Yoyok Bambang Priyambodo membimbing 65 penari dari Sanggar Tari Brahmastra Salatiga dalam hal gerak dasar tari tradisional, Minggu (18/2/2024).

Pelatihan yang digelar digelar di Pendopo Kelurahan Kutowinangum Lor Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga ini mengundang antusias seluruh murid Sanggar Tari Brahmastra dan juga para pegiat tari yang diantaranya dari Sanggar Tari Sekar Langit Klaten, Forum Silaturahmi Sanggar Tari Klaten dan Sanggar Tari Sakuntala Salatiga.

Yoyok yang juga pengasuh Sanggar Greget Semarang mengaku memberikan apresiasi Sanggar Tari Brahmastra yang berdiri sejak tahun 2019 dan telah memiliki murid hingga 200 orang, terdiri dari anak-anak hingga remaja di Kota Salatiga.

“Karya yang telah disajikan juga cukup banyak dan dari sisi eksistensi kami nilai cukup baik karena juga sudah berani menampilkannya di kanal youtube. Namun demikian masih banyak kami jumpai gerakan-gerakan dasar tari yang butuh disempurnakan agar sesuai dengan gerakan dasar pakemnya. Oleh karena itu sudah menjadi tugas kami untuk berbagi pengalaman dan ilmu guna menyempurnakan,” ungkap Yoyok yang hadir bersama asistennya Maria Benita dan Adinda Salsabila.

Di hadapan 65 murid Sanggar Tari Brahmastra, Yoyok mengungkapkan bahwa tari tradisional pasti punya ‘kiblat’ gerakan dasar.

“Kalau kita ini di Jawa Tengah, maka kiblat budaya kita umumnya adalah Surakarta. Surakarta sendiri ada Mangkunegaran dan Kasunanan. Keduanya memiliki ciri khas tersendiri dalam hal gerakan tari. Maka dari itu, kita harus paham dan mendalami hal-hal ini,” terangnya.

Menari, lanjut Yoyok, tidak sekadar menerapkan gerak, akan tetapi harus paham lebih dalam tentang makna gerak.

“Cara gerakan manembah saja berbeda-beda, maka kalau yang paham pasti bisa menilai oh ini Surakarta Mangkunegaran, oh ini Kasunanan. Jadi gerakan itu sudah bisa menentukan gaya .Akan tetapi kalau kita mau membuat gaya tersendiri, misalnya gaya Salatiga ya boleh-boleh saja. Namun harus digali dari akar budaya yang berkembang dan ada di Salatiga. Jadi maksudnya bukan sekadar gerakan yang tak bisa dijelaskan makna apalagi filosofinya,” jelas Yoyok.

Belajar menari menurut Yoyok lebih baik diawali dengan pengenalan gerakan dasar menari. Jadi sebelum bisa menari, siswa-siswi harus hapal gerakan dasar tari yang terdiri dari gerakan kepala dan leher, gerakan badan, gerakan tangan dan gerakan kaki.

“Setiap gerakan dasar ini pun banyak bentuk gerak yang antara lain pada gerakan tangan dikenal ukel (memutar pergelangan tangan), ngepel, nyempurit, nyekithing dan ngrayung atau ngruji. Hal yang bisa dilihat bahwa penari itu piawai adalah dalam hal melakukan seblak sampur atau menyingkapkan selendang atau sampur ke belakang dengan tangannya,” terang Yoyok.

Dalam pembelajaran ini, Yoyok pun menyaksikan para murid Sanggar Tari Brahmastra membawakan beberapa tarian antara lain, ‘Rukun Ing Makarya’ dan ‘Kidung Sesaji’.

Dalam sajian tari ‘Rukun Ing Makarya’, Yoyok mengoreksi cara penari memegang sapu yang salah. Selain itu juga saat adegan makaryo membersihkan lingkungan, banyak keranjang yang dibawa penari justru dibalik.

“Kalau kita menggunakan media sapu untuk menari, maka kita harus benar cara memagang sapu dan menggunakannya, sehingga tidak terlihat aneh. Memegang sapu tidak lah sama dengan memegang dayung, ini contoh saja. Demikian pula ketika menggunakan keranjang sebagai media yang digunakan untuk menempatkan sesuatu dalam ilustrasi tarian, maka bila begitu saa dibalikkan logikanya apa yang ada di dalamnya akan tumpah. Jadi hal-hal kecil ini patus menjadi perhatian,” ungkap Yoyok.

Sebagai komparasi, Yoyok mengajarkan satu materi tarian karyanya yang diciptakan tahun 2005  ‘Sekar Cemani’. Spontan peserta ikut gerak bersama dan hanyut dalam olah gerak tari Greget yang energik.

Sementara Gusman, pimpinan sekaligus pendiri Sanggar Tari Brahmastra mengaku sangat berterima kasih atas kehadiran Maestro Tari Prof Dr Yoyok Bambang Priyambodo di Pendopo Kutowinangun Lor.

“Sudah lama kami mengharap kehadiran beliau untuk memberi kontribusi pencerahan ilmu pada sanggar kami. Jujur sanggar kami ini berdiri hanya karena niat ingin menggiatkan, menggalakkan dan nguri-uri seni budaya tari khususnya pada generasi muda. Dengan bekal pengalaman yang seadanya dari pendidikan non formal, kami bentuk dan berani mengajak anak-anak untuk belajar menari,” ungkap Gusman.

Sanggar Tari Brahmastra dirintis pertengahan tahun 2018 oleh Gusman dan istrinya bernama Anik dibantu Yayuk yang lulusan Universitas Wilatikta Surabaya.

“Saya sendiri sebenarnya penggiat karawitan dan istri kebetulan juga pegiat tari. Sewaktu bertemu mbak Yayuk yang memang paling mumpuni diantara kami untuk hal menari, maka muncul tekat untuk mendirikan sanggar dan difasilitasi Kelurahan untuk menggunakan pendopo sebagai tempat latihan. Awalnya kami melatih 6 anak hingga vakum karena Covid. Namun setelah Covid lewat, kami justru kebanjiran murid hingga mencapai 200 orang, terdiri dari anak dan remaja,” tandas Gusman.

4 Tahun berjalan, Gusman ingin menata sanggarnya dengan mengharap perhatian dari Sanggar Greget Semarang untuk menjadi pembimbingnya.

“Kami ingin seperti Sanggar Greget Semarang yang dikelola secara profesional. Oleh karena itu sejak sekarang kami belajar dari Greget, baik dari aspek kualitas tarian, juga manajemen atau pengelolaan sanggar,” lanjut Gusman.

Kabid Kebudayaan Disbudpar Kota Salatiga, Luluk menyambut baik kehadiran Maestro Tari Tradisional Indonesia Prof Dr Yoyok Bambang Priyambodo di Kota Salatiga untuk memberikan bimbingan tari dan sanggar di Sanggar Tari Bramastra Kutowinangun Lor Salatiga.

“Ini akan sangat berarti untuk mengangkat seni budaya, khususnya tari di Kota Salatiga. Kami berharap anak-anak dan para guru tari yang ada disini bisa menyerap ilmu dari Prof Yoyok,” ujar Kabid Kebudayaan Disbudpar Kota Salatiga.

Hal sama juga diungkapkan oleh Arief, Wakil Ketua Dewan Kesenian Salatiga. Arief berharap kehadiran Maestro Tari Prof Dr Yoyok Bambang Priyambodo ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menimba pengalaman dan mengoreksi diri.

“Kami berharap masukan dari Prof Yoyok, khususnya untuk meningkatkan performan karya seni budaya kami agar dalam setiap event bisa menjadi perhatian. Bahkan bila ada lomba dapat dipastikan meraih juara. Oleh karena itu kami butuh bimbingan,” ujar Arief. (*)

Ajie MH.