in

Kisah Kesabaran Wahyu Merawat Anak dan Istri Korban Kecelakaan yang Kakinya Diamputasi

SEMARANG (jatengtoday.com) – Usai menjadi korban kecelakaan di Simpang Hanoman pada akhir Januari 2018 lalu, Indra Wati (53) dan anaknya Oky Yudi Satriyo (8) kakinya terpaksa diamputasi. Sehari-hari mereka dirawat Wahyu Dwi Ono (43) yang merupakan kepala keluarga.

Indra Wati (53) bersama keluarganya. (baihaqi/jatengtoday.com).

Wahyu menceritakan kisah pilu merawat anggota keluarganya yang sudah tidak memiliki anggota tubuh sempurna laiknya orang pada umumnya. Sang istri diamputasi kaki kanannya sedangkan sang anak kedua kakinya.

Menurut Wahyu, rasanya antara senang dan susah. Senang karena istri dan anak satu-satunya masih bisa selamat meski pernah terlindas dan terjepit truk trailer yang menabraknya sewaktu berhenti di traffic light.

“Istilahnya saya senang karena masih bisa ngrumati Indra sama Oky sampai sekarang. Padahal kalau lihat proses evakuasinya, ngeri,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di Kampung Sidorejo RT 3 RW III, Kelurahan Tambangan, Mijen, Semarang, Senin (4/2/2019).

Di samping itu, Wahyu merasa susah melihat kondisi keluarganya yang tidak mempunyai kaki. “Terutama Oky, nanti masa depannya bagaimana. Terus ibunya, biasanya kan membantu saya untuk masalah ekonomi juga,” imbuhnya.

Dia kadang merasa bingung. Di samping memiliki tanggung jawab untuk mencukupi semua kebutuhan dengan cara bekerja, tetapi di sisi lain Wahyu juga harus mengurus dan menjaga keluarganya di rumah.

“Sekarang kan vakum di rumah, sedangkan kebutuhan terus jalan terus. Soalnya kan nggak bisa ditinggal,” beber Wahyu.

Dulu, pekerjaan Wahyu adalah membuat sumur bor. Meskipun hanya karyawan (bukan bos), tetapi penghasilannya terbilang lumayan. Namun, hal itu sekarang sudah tidak bisa dilakukannya lagi mengingat proses pengerjaan sumur bor memakan waktu lama.

“Sekarang nggak bisa. Sehari-hari ya ngrumati anak istri ini. Ya njemput sekolah kalau dia pulang, nganter kalau berangkat. Ya gitu lah,” cerita Wahyu.

Sembari merawat keluarganya, kini sedikit demi sedikit Wahyu sudah bisa nyambi bekerja, walaupun hanya serabutan. “Kadang mbantu orang memperbaiki listrik, memperbaiki pam air, kadang juga nyambi bisnis rental mobil,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, dengan segala keterbatasan, kondisi keluarga mulai pulih. Bantuan juga berdatangan. Seperti kursi roda untuk istri dan anaknya juga hasil pemberian. “Ada yang dari Dinsos, ada juga yang dari relawan biasa,” jelas Wahyu.

Yang terbaru, katanya, bantuan kaki palsu. Satu dari Dinas Pendidikan, dan satunya dari TNI AD Watugong Semarang. Kepala Satlantas Polrestabes Sematang, belum lama ini juga memberi laptop untuk anaknya.

Namun, untuk saat ini bantuan kaki palsu belum dipakai karena kondisinya belum memungkinkan. Kaki kanan Indra (yang tidak diamputasi) masih perlu waktu untuk dijadikan tumpuan jika kaki kirinya diberi kaki palsu. Sedangkan kedua kaki Oky memang belum sembuh seutuhnya sehingga jika dikenakan kaki palsu terasa sakit.

“Sini (sambil menunjuk kaki sebelah kanan) masih sakit kalau dipakai. Biasanya ya cuma pakai kursi roda. Pas di rumah, pas ngaji, sama pas sekolah ya pakai kursi roda. Di sekolah kan ada satu kursi roda yang ditinggal,” kata Oky, siswa SDN Purwosari 01.

Oky mengaku, saat ini sudah mulai terbiasa. Berbeda dengan dulu saat awal-awal masuk sekolah (pasca dirawat). “Dulu malu sama temen-temen. Sekarang sudah biasa. Sudah pada ngerti. Biasanya malah dibantuin ndorong (kursi roda) sama teman-teman,” tandasnya. (*)

editor : ricky fitriyanto