in

I Nyoman Adi Rimbawan yang Laporkan Penganiayaan Ternyata Dinyatakan Sehat oleh Dokter

SEMARANG (jatengtoday.com) – I Nyoman Adi Rimbawan, oknum advokat yang divonis bersalah melakukan pemerkosaan terhadap seorang perempuan muda berinisial S, kembali berurusan dengan hukum. Namun, kali ini ia tidak jadi terdakwa, melainkan jadi korban.

I Nyoman melaporkan kasus penganiayaan yang menimpanya, yakni dipukul oleh Soko Wardono yang kini menjadi terdakwa. Soko adalah orang dekat dari perempuan berinisial S tadi.

Pemukulan tersebut diduga akibat terdakwa emosi ketika pertama kali mengetahui kabar bahwa orang dekatnya telah disetubuhi oleh I Nyoman (korban).

Saat ini, kasus tersebut sudah disidangkan dan memasuki tahap pemanggilan saksi fakta dan saksi ahli di Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Pada Selasa (3/12/2019), jaksa menghadirkan saksi dari Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama, yakni dokter Apriany Darma W yang melakukan visum terhadap I Nyoman.

Menurut keterangan Apriany, hasil visum menunjukkan bahwa ternyata tidak ada luka robek atau luka iris pada korban. “Saat itu juga tidak ada indikasi yang mengharuskan pihak rumah sakit melakukan rawat inap, makanya saya sarankan untuk segera pulang,” jelasnya.

Di samping itu, saat ke rumah sakit I Nyoman juga tampak sehat, datang sendiri dengan mengendarai mobilnya. “Sehingga dapat disimpulkan kalau pasien masih bisa beraktifitas,” jelas dokter rumah sakit yang berada di bawah naungan Kesdam IV/Diponegoro tersebut.

Pihak rumah sakit kemudian membuat hasil visum atas permintaan pasien (I Nyoman). Dia juga sudah menandatangani hasilnya. Dari hasil visum kemudian diberi obat, salah satunya obat antibiotik biasa. Pasien juga tidak diberi resep khusus.

Pada saat masa penyidikan, pihak Polrestabes Semarang meminta hasil visum pemeriksaan medis pada 14 April 2018.

Dalam persidangan, dokter Apriany dicecar soal pendarahan dan mata yang memerah. Namun, ia menjelaskan bahwa hal tersebut tidak bisa di pastikan kebenarannya. Pasalnya, Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama tidak memiliki spesialis forensik.

“Kebetulan waktu itu saya sendiri yang di IGD. Kalau pemukulan berulang kali juga kurang mengerti, saya cuma lihat ada titik lebam yang disebabkan benda tumpul,” imbuhnya.

Sebagaimana dalam dakwaan, penuntut umum Kejaksaan Negeri Kota Semarang menyebutkan bahwa penganiayaan terhadap korban terjadi di rumah milik Jane Margareta Handayani di Perumahan Graha Estetika.

Penganiayaan itu bermula ketika terdakwa Soko bersama saksi Aryo mendatangi rumah Jane pada 13 April 2018 untuk menanyakan kebenaran mengenai dugaan asusila yang dilakukan oleh I Nyoman Adi Rimbawan.

Sesampainya di rumah itu, terdakwa dan korban sempat berbincang. Namun karena tidak bisa menahan emosi, akhirnya terjadi pemukulan ke arah wajah I Nyoman. Terdakwa melakukan pemukulan dengan cara menampar dengan tangan kanan sebanyak tiga kali. Sedangkan tamparan itu mengenai wajah kiri korban.

Setelah pemukulan terdakwa pulang meninggalkan lokasi kejadian. Dalam dakwaan, akibat perbuatan itu, korban mengalami luka pada mata kiri, nyeri tekan di pelipis, bengkak pada pelipis sebelah kiri, telinga kiri bengkak merah, rahang kiri nyeri, dan leher kiri nyeri. (*)

 

editor : ricky fitriyanto

Baihaqi Annizar