in

Guru Besar UGM jadi Ahli Sidang Sengketa Tanah Genuksari Semarang

Persidangan yang berlangsung di PN Semarang ini mempersoalkan tumpang tindih sertifikat tanah antara milik dr. Setiawan dengan Ir. Daniel Budi Setiawan.

dan tergugat mengikuti sidang sengketa tanah Genuksari Semarang. (istimewa)
Saksi ahli, penggugat, dan tergugat mengikuti sidang sengketa tanah Genuksari Semarang. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga ahli hukum agraria, Prof Nurhasan Ismail menjadi saksi ahli dalam sidang sengketa tanah Genuksari Semarang.

Nurhasan menjelaskan tentang proses penerbitan suatu sertifikat tanah. Sebab, persidangan yang berlangsung di PN Semarang ini mempersoalkan tumpang tindih sertifikat tanah antara milik dr. Setiawan dengan Ir. Daniel Budi Setiawan.

Setiawan selaku penggugat dan Daniel Budi selaku tergugat, sama-sama memiliki sertifikat sebagai bukti kepemilikan tanah. Sertifikat tersebut hasil dari konversi dari Leter C.

Menurut Nurhasan, konversi Leter C menjadi sertifikat seharusnya tidak mengubah luas tanah. Hal itu diatur dalam Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) sebagai induk program landreform di Indonesia.

“Konversi hanya sekadar penyesuaian, jadi tidak mungkin ada perbedaan luas tanah, kalaupun ada wajarnya hanya beda 1 atau dua meter,” ujarnya di persidangan, Kamis (25/1/2023).

Penasihat hukum dr. Setiawan, Michael Deo menyebut, luas tanah milik Daniel Budi tidak sesuai dengan luas awal.

Berdasarkan asal-usul tanah yasan C No.715 Persil No.54 kelas SIII, luas lahannya hanya 2.080 meter persegi. Namun, ketika dikonversi menjadi Sertifikat Hak Milik (SHM) No.388/Genuksari, luasnya melebar jadi 5.724 meter persegi.

“Padahal menurut ahli tadi, suatu sertifikat itu data fisiknya harus sama dengan asal-usulnya, jadi tidak dimungkinkan ada penambahan luas mencapai ribuan meter persegi,” ujarnya usai sidang.

 

Penasihat hukum Daniel Budi, Sandy Christanto. (baihaqi/jatengtoday.com)
Penasihat hukum Daniel Budi, Sandy Christanto. (baihaqi/jatengtoday.com)


Tergugat Beri Bantahan


Sementara itu penasihat hukum Daniel Budi, Sandy Christanto tidak kaget mendengar keterangan saksi ahli. Menurutnya, ahli yang didatangkan penggugat memang dimaksudkan untuk menguntungkan kepentingan penggugat.

Sisi lain, ia mengkritik karena penggugat kukuh mempersoalkan Leter C, padahal sekarang sudah ada sertifikat hak milik sebagai produk undang-undang baru yang mengatur dasar kepemilikan tanah.

“Kalau sudah jadi SHM, Leter C itu sudah tidak bisa dijadikan sebagai dasar,” kritik Sandy usai sidang.

Terkait tuduhan penggelembungan luas tanah, Sandy tegas membantah. Sebab, sejak 1982 kliennya membeli tanah di Genuksari Semarang luasnya memang 5.724 meter persegi. Hal itu dikuatkan dengan bukti lunas tagihan pajak hingga peta bidang.

Dalam persidangan, Sandy sempat menanyakan kepada ahli tentang Buku C Desa Kelurahan Genuksari yang daftarnya tidak lengkap. Sebab, asal usul tanah milik kliennya yakni C desa nomor 715 lembarnya tidak ada, diganti dengan keterangan yang ditulis dalam halaman bawah nomor 714.

“Yang kami tanyakan ini penting karena kasusnya tidak biasa. Sangat disayangkan ahli tidak bisa menjawab, padahal sejak awal beliau berbicara tentang asal usul tanah,” tutur Sandy.

Ahli hukum agraria dari UGM tersebut menganggap pertanyaannya terlalu teknis sehingga tidak masuk ranah kajiannya. (*)

editor : tri wuryono 

Baihaqi Annizar