in

Feeder BRT Sepi Penumpang, Warga Sebut Jarak Antar Haltenya Kejauhan

SEMARANG (jatengtoday.com) – Sarana transportasi umum Feeder Trans Semarang milik Pemkot Semarang diharap bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Namun, kendaraan yang beroperasi di jalan-jalan kampung tersebut terbilang sepi penumpang.

Seperti halnya Feeder Rute 1 dengan trayek Jalan Raya Ngaliyan, Gatot Subroto, Graha Padma, Hanoman, Madukoro, Bojong Salaman, Jalan Suratmo, dan seterusnya.

Berdasarkan pantauan di Halte Feeder Graha Padma, Jumat (14/2/2020), banyak kendaraan Feeder yang hanya berlalu lalang tanpa membawa penumpang. Padahal masih jam pulang kerja.

Menurut warga setempat, Fadlul Fikri (32), pemandangan semacam itu memang sudah kerap terjadi. “Biasanya juga gitu, nggak pernah rame kaya di halte BRT (Trans Semarang),” ucapnya.

Fadlul menyebut, tetangga-tetangganya jarang ada yang menggunakan Feeder. “Malah biasanya anak-anak sekolah yang naik. Setahu saya kalau warga jarang. Ya tetap ada sih, cuma nggak banyak,” imbuhnya.

Hal serupa juga diungkapkan Ahmadi (40), warga Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan. Menurutnya, dua halte Feeder yang ada di Jalan Gatot Subroto lebih sering kosong.

“Ini saya di sini dari tadi juga nggak ada orang di halte. Bus (Feeder)-nya juga kebanyakan kosong nggak bawa penumpang,” ucapnya.

Jarak Antar Halte Feeder Terlalu Jauh

Di antara sepinya peminat Feeder, Rahmawati (38) adalah salah satu pelanggan setianya. Setiap hari ia mengaku menggunakan moda transportasi Feeder dari tempat kerja ke rumahnya.

“Rutin, soalnya kan murah, sama kayak BRT (Trans Semarang). Ya intinya kalau bagi saya cukup membantu lah,” ujarnya.

Namun, ia berharap agar halte Feeder bisa diperbanyak. Sebab, saat ini halte terbilang terlalu minim. Bahkan ia menerka bahwa sepinya penumpang Feeder juga karena masalah ini.

“Kadang ngobrol sama orang (saat di dalam Feeder), banyak yang ngeluh itu, jarak haltenya jauh banget. Padahal kan kita nggak bisa turun kalau nggak di halte,” ungkap Rahmawati.

“Saya sendiri setelah turun dari halte terdekat juga masih jalan 300-an meter untuk sampai di rumah. Kadang kalau pas capek ya mending naik ojek online,” imbuhnya.

Penumpang lain, Nur Cahyo (50) juga mengeluhkan hal serupa. Ia berharap agar pemerintah melalui BLU Trans Semarang selaku pengelola Feeder bisa segera menindaklanjutinya.

“Kalau harapannya sih dibuatin lagi halte-haltenya. Paling nggak jaraknya 600 meter atau berapa. Kalau sekarang ada yang jauh banget lebih dari 2 KM, kan susah,” kritiknya.

Butuh Sosialisasi Rute Feeder

Meskipun Feeder sudah resmi dioperasikan sejak akhir 2019 lalu, tetapi banyak masyarakat yang belum mengetahui secara jelas jalur mana saja yang dilewati Feeder.

Sesuai pengamatan di lapangan, halte-halte yang ada di jalur Feeder Rute 1 mayoritas ternyata tidak dilengkapi dengan petunjuk rute. Wajar jika banyak yang tidak memahaminya.

Zakariya A (26), warga Kelurahan Krapyak, Kecamatan Semarang Barat mengamini hal tersebut. “Kalau yang muda-muda mungkin bisa pada cari tahu jalur Feeder di internet, tapi kalau yang gaptek kan kasihan,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan halte seharusnya satu paket dengan pengadaan papan petunjuk. “Kalau kayak gini gimana bisa maksimal Feedernya. Nanti malah hanya boros anggaran untuk wira-wiri kendaraannya,” tambah Zakariya.

Sebagaimana tujuan kehadiran Feeder, sudah selaiknya dioptimalkan untuk menjadi transportasi umum alternatif yang bisa menjangkau kawasan permukiman yang tidak bisa dilalui armada BRT Trans Semarang. (*)

 

editor: ricky fitriyanto

 

in

Feeder BRT Sepi Penumpang, Warga Sebut Jarak Antar Haltenya Kejauhan

SEMARANG (jatengtoday.com) – Sarana transportasi umum Feeder Trans Semarang milik Pemkot Semarang diharap bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Namun, kendaraan yang beroperasi di jalan-jalan kampung tersebut terbilang sepi penumpang.

Seperti halnya Feeder Rute 1 dengan trayek Jalan Raya Ngaliyan, Gatot Subroto, Graha Padma, Hanoman, Madukoro, Bojong Salaman, Jalan Suratmo, dan seterusnya.

Berdasarkan pantauan di Halte Feeder Graha Padma, Jumat (14/2/2020), banyak kendaraan Feeder yang hanya berlalu lalang tanpa membawa penumpang. Padahal masih jam pulang kerja.

Menurut warga setempat, Fadlul Fikri (32), pemandangan semacam itu memang sudah kerap terjadi. “Biasanya juga gitu, nggak pernah rame kaya di halte BRT (Trans Semarang),” ucapnya.

Fadlul menyebut, tetangga-tetangganya jarang ada yang menggunakan Feeder. “Malah biasanya anak-anak sekolah yang naik. Setahu saya kalau warga jarang. Ya tetap ada sih, cuma nggak banyak,” imbuhnya.

Hal serupa juga diungkapkan Ahmadi (40), warga Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan. Menurutnya, dua halte Feeder yang ada di Jalan Gatot Subroto lebih sering kosong.

“Ini saya di sini dari tadi juga nggak ada orang di halte. Bus (Feeder)-nya juga kebanyakan kosong nggak bawa penumpang,” ucapnya.

Jarak Antar Halte Feeder Terlalu Jauh

Di antara sepinya peminat Feeder, Rahmawati (38) adalah salah satu pelanggan setianya. Setiap hari ia mengaku menggunakan moda transportasi Feeder dari tempat kerja ke rumahnya.

“Rutin, soalnya kan murah, sama kayak BRT (Trans Semarang). Ya intinya kalau bagi saya cukup membantu lah,” ujarnya.

Namun, ia berharap agar halte Feeder bisa diperbanyak. Sebab, saat ini halte terbilang terlalu minim. Bahkan ia menerka bahwa sepinya penumpang Feeder juga karena masalah ini.

“Kadang ngobrol sama orang (saat di dalam Feeder), banyak yang ngeluh itu, jarak haltenya jauh banget. Padahal kan kita nggak bisa turun kalau nggak di halte,” ungkap Rahmawati.

“Saya sendiri setelah turun dari halte terdekat juga masih jalan 300-an meter untuk sampai di rumah. Kadang kalau pas capek ya mending naik ojek online,” imbuhnya.

Penumpang lain, Nur Cahyo (50) juga mengeluhkan hal serupa. Ia berharap agar pemerintah melalui BLU Trans Semarang selaku pengelola Feeder bisa segera menindaklanjutinya.

“Kalau harapannya sih dibuatin lagi halte-haltenya. Paling nggak jaraknya 600 meter atau berapa. Kalau sekarang ada yang jauh banget lebih dari 2 KM, kan susah,” kritiknya.

Butuh Sosialisasi Rute Feeder

Meskipun Feeder sudah resmi dioperasikan sejak akhir 2019 lalu, tetapi banyak masyarakat yang belum mengetahui secara jelas jalur mana saja yang dilewati Feeder.

Sesuai pengamatan di lapangan, halte-halte yang ada di jalur Feeder Rute 1 mayoritas ternyata tidak dilengkapi dengan petunjuk rute. Wajar jika banyak yang tidak memahaminya.

Zakariya A (26), warga Kelurahan Krapyak, Kecamatan Semarang Barat mengamini hal tersebut. “Kalau yang muda-muda mungkin bisa pada cari tahu jalur Feeder di internet, tapi kalau yang gaptek kan kasihan,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan halte seharusnya satu paket dengan pengadaan papan petunjuk. “Kalau kayak gini gimana bisa maksimal Feedernya. Nanti malah hanya boros anggaran untuk wira-wiri kendaraannya,” tambah Zakariya.

Sebagaimana tujuan kehadiran Feeder, sudah selaiknya dioptimalkan untuk menjadi transportasi umum alternatif yang bisa menjangkau kawasan permukiman yang tidak bisa dilalui armada BRT Trans Semarang. (*)

 

editor: ricky fitriyanto