in

Bedhaya Pesisiran Wolu Likur, Kisah Perjalanan Sanggar Greget Semarang Hingga 28 Tahun

SEMARANG (jatengtoday.com) – Menginjak tahun ke-28, Sanggar Greget Semarang semakin gencar memproduksi karya-karya tari.

Pada usia yang sudah bukan baru lagi, Sanggar Greget Semarang juga kian menancapkan karakter pesisiran sebagai dasar filosofis dalam berkarya.

Pengasuh Sanggar Greget, Yoyok Bambang Priyambodo mengatakan semangat yang terus dibawa oleh pihaknya adalah menguatkan mental dan karakter dalam berkarya.

Baca juga: Sambut Tahun Baru, Sanggar Greget Suguhkan Tari Nusantara Virtual

“Maka itu, dasar filosofis bagi kami sangat penting. Dengan semangat pesisiran, kami terus melakukan riset dan penciptaan karya untuk memperkaya khasanah kesenian kami di kota yang terletak di pesisiran ini,” kata Yoyok, Senin (26/4/2021).

Pada perayaan tahun ke-28 itu, Yoyok menyajikan karya tari bertajuk ‘Bedhaya Pesisiran Wolu Likur’. Selain itu, Sanggar Greget Semarang juga menyuguhkan ‘Tari Mina’ dalam pentas yang dihelat secara virtual.

Menurut Yoyok, ‘Bedhaya Pesisiran Wolu Likur’ merupakan karya tari yang diciptakan untuk ulang tahun Sanggar Greget ke-28 ini.

Selain itu, tari tersebut juga berisi doa-doa serta harapan yang baik untuk Sanggar Greget Semarang dan seluruh orang yang terlibat di dalamnya.

“Istilah wolu likur, atau angka 28 memang kami samakan dengan tahun Sanggar Greget saat ini. Dan yang jelas, ini merupakan doa bagi kita semua tentang hal-hal baik di tahun mendatang,” tambahnya.

Baca juga: Fokus Kembangkan Budaya, Sanggar Greget dan ISI Surakarta Tandatangani MoU

Selain itu, Yoyok juga menegaskan bahwa Sanggar Greget Semarang akan terus melakukan kajian mengenai budaya pesisiran di Kota Semarang.

Hal itu, menurutnya, merupakan kewajiban secara moral untuk terus memproduksi karya sesuai dengan konteks wilayah dan kebudayaan masyarakat setempat.

“Kami akan terus melakukan riset dan siapkan karya-karya mengenai budaya pesisiran. Hal ini menarik bagi kami. Apalagi, kami telah bekerjasama dengan ISI Surakarta, sehingga kami juga merasa wajib memproduksi karya sebagai kajian akademik,” tandasnya. (*)

 

editor: ricky fitriyanto