in

Bawakan Tri Narendra, Yoyok Harap Pemimpin Berikutnya Punya Sifat Hasta Brata

Seorang pemimpin harus memiliki sifat api sebagai lambang keberanian dan keadilan.

SEMARANG (jatengtoday.com) – Penari kawakan asal Semarang, Yoyok Bambang Priyambodo, mengharap sosok pemimpin di masa mendatang mampu membawa Indonesia kepada kemakmuran. Sebagai penari, harapan tersebut dituangkan melalui karya tari bertajuk “Tri Narendra”.

Tarian tersebut disajikan dalam Greget Festival Tari Jateng 2022 pekan lalu. Bersama dengan S. Pamardi, dan Darmawan Dadijono, Yoyok membawakan tari Tri Narendra menggunakan topeng. Menurutnya, topeng menjadi simbol karakteristik seseorang yang dibawakan oleh penari.

“Narendra, dalam bahasa sansekerta memiliki arti Orang sekuat dewa, atau raja. Indonesia membutuhkan Narendra untuk membawa kembali kejayaan pada negeri kita. Tentunya, Indonesia akan menghadapi banyak tantangan di masa mendatang,” kata Yoyok, Jumat (2/12/2022).

Yoyok menambahkan, sosok pemimpin baiknya ngugemi falsafah yang telah diwariskan nenek moyang. Menurutnya, seorang Narendra, harus memahami Hasta Brata (delapan perilaku). Hasta Brata mengandung delapan unsur alam sebagai lambang karakteristik seorang pemimpin. 

Dijelaskan, seorang pemimpin harus bisa menjadis bumi, yakni tempat kehidupan yang menyediakan kebutuhan masyarakat. Pemimpin harus menjadi Matahari yang memberi energi serta visi yang jelas bagi negeri ini.

Seorang pemimpin juga harus memiliki sifat api sebagai lambang keberanian dan keadilan. Yoyok memaparkan, bahwa api menjadi simbol ketegasan dalam mengelola negara serta kemampuan menghancurkan masalah yang muncul. Selain itu, pemimpin juga harus memiliki sifat samudera yang menerima semua kritikan dan saran pada kedalaman hatinya. 

“Semua masukan, pendapat tidak ditelan mentah-mentah. Namun diendapkan dulu sehingga saat seorang pemimpin bertindak sudah jernih pikirannya. Pemimpin juga perlu menjadi cakrawala sebagai simbol pengetahuan dan wawasan yang luas,” tandasnya.

Lebih jauh, Yoyok mengatakan pemimpin harus bisa menjadi angin, yang peka terhadap segala kondisi. Saat ada masalah, lanjutnya, keberadaannya harus bisa memberi dampak dan solusi kepada masyarakat.

Selain cakap dalam mengelola negara, Yoyok berpendapat bahwa pemimpin harus bisa memberikan kedamaian seperti bulan. Rasa nyaman yang diciptakan pemimpin memberikan kesempatan masyarakat untuk mendekat dan berkeluh kesah. 

“Selain damai seperti bulan, pemimpin juga harus bisa seperti bintang yang mampu memberikan arah tujuan. Menjadi inspirasi kepada masyarakat untuk bersama-sama membangun negara,” tandas Yoyok. (*)

Ajie MH.