in

Tugas Sangat Berat, Delapan Petugas TPS Meninggal

SEMARANG (jatengtoday.com) – Terhitung ada delapan petugas TPS di Jateng yang meninggal setelah perhitungan suara. Ada yang stroke, hingga keguguran. Disinyalir, kesehatan mereka menurun lantaran harus bekerjakeras menyukseskan Pemilu 2019. Mulai dari menyiapkan TPS sejak tanggal 16 April, hingga perhitungan suara hingga 18 April dini hari.

“Beban kerja mereka luar biasa besar. Kalau ada kesalahan nanti dipanggil, jadi psikis juga,” kata Komisioner KPU Jateng, Paulus Widiyantoro, Sabtu (20/4/2019).

Dari datanya, delapan petugas TPS yang meninggal, yakni Sopiah, KPPS 09 Banjarsari Kidul, Sokaraja, Kabupaten Banyumas yang meninggal akibat kecelakaan. Pirno, anggota Linmas di Kabupaten Pemalang yang meninggal dunia karena kelelahan. Slamet Mulyono, petugas keamanan TPS 11 Kelurahan Proyonangan Selatan, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang yang meninggal saat bertugas 17 April. Yuli Anisah, petugas TPS 10 Wirun Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, meninggal setelah dirawat 2 hari. Sugiharjo KPPS Desa Pingit Lor Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara meninggal dunia tanggal 18 April akibat kelelahan. Suharto, petugas ketertiban TPS 17, Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar meninggal dunia karena terjatuh di tempat tugas pada tgl 17 April 2019. Subagyo, anggota KPPS di Kabupaten Demak, meninggal saat bertugas membagikan C6 tanggal 16 April 2019. Nurul Hidayati, Anggota KPPS Desa Landoh, TPS 7, Kabupaten Rembang tewas akibat kecelakaan usai penghitungan suara diduga karena kelelahan dan tidak konsentrasi saat mengemudi.

“Yang kecelakaan itu akibat kelelahan sehingga hilang konsentrasi saat mengemudi,” terangnya.

Selain itu, tercatat ada 7 petugas lain yang harus dirawat di rumah sakit. Tiga diantaranya mengalami keguguran. Yakni Wiwid Wijayanti, Anggota PPK Jatinom Kabupaten Klaten yang sedang hamil 6 bulan. Di Kebumen, ada dua anggota KPPS yang keguguran. Yakni Umi Rojanah dan Siti Mungawanah.

“Tujuh orang ada yang jatuh di TPS saat proses sampai patah tulang tangan, yang pingsan sampai berapa jam gitu ada, ada yang keguguran, yang stroke ada, yang di rawat di ICU sampai hari ini juga ada,” jelasnya.

Paulus juga menjelaskan saat ini sedang diusahakan untuk santunan kepada para petugas penyelenggara pemilu yang meninggal atau sakit.

Terkait penyelenggaraan pemilu yang meninggal dan sakit, kami komisioner KPU berpikir cara santuni mereka, dari asuransi memang tidak ada, secara anggaran memang tidak ada, tapi sudah dibahas nasional akan kolektif dari dana sosial,” jelasnya. (ajie mh)

Editor: Ismu Puruhito