in

Terhimpit Ekonomi, Warga Deliksari Terpaksa Bertahan di Zona Rawan Longsor

SEMARANG (jatengtoday.com) – Keterbatasan ekonomi membuat warga Kampung Deliksari, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang terpaksa bertahan tinggal di wilayahnya yang rawan longsor.

Kampung tersebut berada di jalur patahan dengan fenomena tanah bergerak. Daerah terdampak di kampung yang dihuni 300 keluarga ini utamanya RW VI. Hampir setiap rumah di RW tersebut retak-retak. Bahkan pantauan di lapangan, beberapa bangunan di perumahan yang belum selesai dibangun juga sudah retak.

Rumah yang retak akibat pergerakan tanah.

Khusus di RT 3, 4, dan 6 masuk ke dalam zona merah yang tergolong daerah terparah. Dari ketiga RT tersebut, RT 6 yang paling memprihatinkan. Kerusakannya terbilang sangat berat.

Sedikitnya ada empat rumah yang tak bisa dihuni. Dua diantaranya sudah rata dengan tanah. Sedangkan puluhan rumah lainnya retak-retak.

Meskipun semua warga sudah mengetahui lingkungannya rawan longsor, tetapi belum ada satu pun warga yang pindah dari lokasi tersebut. Terkecuali yang rumahnya sudah ambruk. Tercatat ada 28 Kepala Keluarga (KK) yang berada di RT 6.

Menurut Ketua RT 6, Purwadi, warga tidak pindah karena terhimpit faktor ekonomi. “Sebetulnya ndak mau ya tinggal di sini, tapi berhubung keadaan, harga tanah dan rumah mahal, makanya milih disini. Jadi yang disini itu rata-rata kurang mampu,” ujar Purwadi, Kamis (8/11/2018).

Alat pendeteksi pergerakan tanah di Kampung Deliksari.

Dulu, kata Purwadi, sempat ada solusi dari pemerintah untuk memindahkan Kampung Deliksari ke wilayah Patemon, Kecamatan Mijen. Namun rencana “bedhol desa” itu urung dilakukan, Purwadi tak tahu alasan jelasnya.

Kini warga di Kampung Deliksari hanya berharap agar kemungkinan-kemungkinan buruk tidak terjadi. Apalagi sekarang telah memasuki musim penghujan, tentu kekhawatiran itu semakin kentara. Yang dilakukan sekarang, warga diedukasi untuk sadar bencana.
“Kalau hujan kami memang siap siaga bencana. semua warga saling membantu,” jelas Purwadi.

Pada pertengahan Agustus 2018 lalu, tim Kampung Siaga Bencana (KSB) telah memasang sejumlah alat pendeteksi di titik rawan bencana.

Di wilayah RT 6 dipasang alat pendeteksi longsor. Adapun di RT 4 dipasang alat pendeteksi curah hujan. Sedangkan di RT 2 dan 3 dipasang alat pendeteksi pergerakan tanah.

Beberapa jalur evakuasi juga telah disediakan untuk berjaga-jaga ketika bencana datang. Terdapat lima jalur di lima gang yang berpusat di Balai RW. Sedangkan di wilayah RT 6 memiliki pos evakuasi sendiri.

Ada pun langkah teknis yang kini dilakukan, warga biasanya memasang bambu serta barang lainnya di tempat yang rawan longsor. “Kami juga melakukan pengurukan untuk antisipasi, dan itu pakai dana kas RT” tukasnya.

Purwadi berharap, pemerintah bisa memberikan solusi terbaik secapatnya. Minimal, pemerintah memberikan bantuan berupa material untuk perbaikan agar kerawanan bencana bisa berkurang. (*)

editor : ricky fitriyanto