in

Survei Online: Mayoritas Masyarakat di Jateng sudah Mulai Kesulitan Penuhi Bahan Pangan

SEMARANG (jatengtoday.com) – Koalisi Rakyat Bantu Rakyat (Kobar) melakukan survei online secara acak terhadap masyarakat di Jawa Tengah terkait kondisi ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

Juru bicara Kobar Jateng, Cornelius Gea mengungkapkan, dari 570 responden, 79,7 persen yang mayoritas ibu rumah tangga mengaku sudah mulai kesulitan mengadakan kebutuhan pangan. Penyebabnya karena barang susah didapat serta harganya naik.

“Hanya 13,1 persen responden yang mengatakan tidak mengalami kesulitan membeli bahan pangan untuk kebutuhan rumah tangga,” jelas Cornel, Minggu (19/4/2020).

Soal ketersediaan bahan pangan di pasaran, survei menunjukkan bahwa tempe dan tahu sudah mulai sulit diperoleh di pasaran. Begitu juga dengan minyak goreng.

Sedangkan barang yang lain seperti sayur mayur, beras, cabai, gas, gula, serta bawang merah dan putih, masih mudah didapat. Namun, harganya naik.

Pada unsur yang lain, soal kemampuan daya beli masyarakat menunjukkan bahwa 75,1 persen responden mengaku kesulitan keuangan untuk membeli bahan pangan sejak pandemi Covid-19 terjadi.

Kesulitan keuangan itu disebabkan beberapa ha. Diantaranya karena penghasilan usaha turun, ada yang gulung tikar sehingga tidak ada pendapatan, gaji dari perusahaan dipotong, serta dipecat dari tempat kerjanya (PHK).

Dari responden yang ada, hanya 24,9 persen yang mengaku tidak mengalami kesulitan keuangan. Survei ini dilakukan pada 14-16 April 2020.

Pemerintah Diminta Lebih Sigap

Cornel meminta agar pemerintah bersikap lebih tegas. Bahkan secara tegas ia mendesak pemerintah pusat segera memberlakukan karantina wilayah berdasarkan aturan karantina kesehatan yang menjamin pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Menurutnya, tren penularan Covid-19 yang makin tinggi memiliki hubungan sebab-akibat langsung terhadap kemampuan warga mengadakan bahan pangan.

“Makin tinggi penduduk yang terinfeksi maka kemampuan penduduk mengadakan bahan pangan akan makin rendah,” jelasnya. (*)

 

editor: ricky fitriyanto