in

Puluhan Penari Polesan Sanggar Greget Semarang Manggung di Museum Ranggawarsita

SEMARANG (jatengtoday.com) – Puluhan anak didik Sanggar Greget Semarang tampil menawan di panggung Museum Ranggawarsita Semarang, Jumat (16/12/2023) malam. Padahal, sebagian dari penari tersebut baru dipoles Sanggar Greget selama satu semester, Juli-Desember 2023.

Gelaran Greget Festival Tari ini dimuali dengan Sajian Tari Gunungan oleh Siswa Kelompok Anak kelas D.

Ketua Sanggar Greget sekaligus Penanggung Jawab Kegiatan, Sangghita Anjali mengatakan, Festival Tari ini merupakan ajang kreatifitas penampilkan bakat, minat para anggota, pelatih dalam melestarikan dan mengembangkan sekaligus sebagai sosialisasi pembentukan Karakter jiwa NKRI untuk mencintai Keseniannya sendiri dalam  perlindungan Tari dan Karawitan.

Kegiatan ini merupakan Penyajian dan Apresiasi Seni yang dilaksanakan  setiap tahun 2 kali dari hasil Siswa setelah mengikuti Pelatihan selama 1 Semester yaitu 6 bulan dengan menempuh Ujian Tengah Semester aerta Ujian Akhir Semester.

Greget Festival Tari ke 62 ini disamping menampilkan Tari dari para siswa Sanggar Greget Semarang juga Wisuda Siswa 7 Kelompok Anak, 3 Kelompok Dewasa dengan pemwisuda Yoyok Bambang Priyambodo, Tri Narimastuti, Sangghita Anjali,  dan Sekar Arum serta  puluhan penari partisipati dari beberapa Sanggar.

Ada dari Sanggar Tanah Putih, Citra Dewi dan Daya Prestasi Jakarta serta di hadiri dari Kota Surakarta, Pemalang, Kebumen, Kudus, Batang dan Semarang.

“Ini untuk menjalin kerjasama dalam penggalian karya tari yang ada di berbagai daerah sebagai Khasanah dan pendokumentasian,” kata Sekar sebagai Pimpinan Produksi bersama Hasya Alvinki, Maria Benita, Jihan Azhari, Adinda Salsabila, Annastasya, Darsono, Canadian Mahendra, Billy, Deva Amelia, Fairuz Salma, Elvaretha Anggun, Takim, Arifin.

Sajian ditutup dengan Tari Terompet dan menari bersama oleh siswa Sanggar Greget, orang tua Siswa dan hadirin sejumlah 150 an orang dengan menggunakan properti terompet, balon, pom-pom, rontek, dan lain-lain.

Sementara itu, pengasuh Sanggar Greget, Yoyok Bambang Priyambodo menjelaskan, hingga kini sudah sudah nyaris 2.000 murid yang dilahirkan dalam Sanggar Greget. Mereka ada yang menempuh Pendidikan secara formal maupun non formal melalui pelatihan-pelatihan yang digelar di beberapa tempat.

“Mereka itu seperti benih yang tersebar dan bertumbuhan di mana-mana menghasilkan buah. Banyak mereka yang kemudian melatih dan mendirikan sanggar tari memiliki banyak murid. Kondisi ini lah yang kita ciptakan untuk mempertahankan eksistensi tari di tengah masyarakat,” paparnya.

Maestro Tari Indonesia ini juga mengungkapkan betapa pentingnya upaya menjaga eksistensi tari melalui Gerakan pelestarian dengan memasukkan unsur-unsur inovasi dalam tarian yang kemudian disebut tarian tradisional modern.

Yakni memadukan unsur gerak tradisional dengan muatan kekinian yang tak melenceng dari nilai-nilai filosofi kepada generasi milineal.

“Kita lihat dari Greget Festival Tari ke-62 kali ini, bagaimana antusiasnya para murid bahkan orang tua yang pada akhirnya ikut menari dalam flashmob. Ini menjawab rasa skeptis masyarakat bahwa tari-tarian tradisional sudah tak ada lagi peminatnya. Maka Greget sudah menjawab setiap saat dengan menunjukkan di setiap acara tari yang digelar selalu banyak yang hadir dan berminat untuk menari,” tandasnya. (*)

Ajie MH.