in ,

Produsen Kue Keranjang Tertatih Bertarung dengan Harga Bahan Baku

SEMARANG – Tidak ada perayaan Tahun Baru Imlek tanpa kue keranjang. Tidak terkecuali saat memasuki Tahun Anjing mendatang. Meski bahan baku pembuatannya mengalami pelonjakan harga hingga nyaris dua kali lipat, produsen kue keranjang tetap memproduksinya. Tertatih, sudah jelas. Tapi Kue keranjang tetap harus menjadi kudapan memeriahkan Tahun Baru Imlek.

Tahun ini bisa dibilang tahun yang berat bagi produsen kue keranjang. Harga kebutuhan pokok yang terus melejit telah mengakibatkan penjualan makanan khas Imlek menurun dibanding tahun lalu. Salah satu produsen ke keranjang di bilangan Kampung Kentangan Tengah, Kecamatan Semarang Tengah, Ong Eng Hwat mengaku sangat merasakan dampaknya.

Ong mengeluh tentang mahalnya harga ragam bahan baku utama kue keranjang. Harga beras ketan kini melonjak nyaris 100 persen. Dari Rp 14 ribu menjadi Rp 25 ribu per kilogram. “Ini membuat pesanan kue keranjang jadi agak sepi,” jelasnya, Kamis (8/2/2108).

Meski begitu, dia mengaku sudah mendapat pesanan sejak sepekan terakhir. Saban hari Ong membuat kurang lebih 100 kue keranjang. Dari pesanan itu, ada sejumlah rasa yang diproduksi. Dari panili, cokelat, prambors, pandan, kacang, dan rasa baru, durian juga. Dia membanderol Rp 5.500 untuk satu kue keranjang.

“Kalau tahun ini permintaan paling banyak dari pelanggan asal Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Solo dan beberapa daerah sekitar Semarang. Mereka suka pesan kemari karena kue keranjang saya tanpa bahan pengawet. Jadi yang makan biar tetap sehat,” bebernya.

Ong merupakan menjadi generasi ketiga penerus usaha kue keranjang. Dia mendapatkan resep kue keranjang dari warisan sang nenek. Usahanya sudah dimulai sejak 60 tahun silam. (ajie mh)

Editor: Ismu Puruhito