in

Pergantian Majelis Hakim Perkara Pemalsuan Rekening Dipertanyakan

Kasus pemalsuan rekening ini melibatkan dua pengusaha gesek tunai dan oknum karyawan bank.

Whina Whiniyati bersama kuasa hukumnya memantau sidang pemalsuan rekening dengan terdakwa dua pengusaha gestun dan oknum karyawan bank. (baihaqi/jatengtoday.com)
Whina Whiniyati bersama kuasa hukumnya memantau sidang pemalsuan rekening dengan terdakwa dua pengusaha gestun dan oknum karyawan bank. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Whina Whiniyati mempertanyakan pergantian majelis hakim dalam sidang perkara dugaan pemalsuan rekening di Pengadilan Negeri (PN) Semarang.

Whina menaruh perhatian khusus pada kasus tersebut karena ia merupakan pelapor sekaligus korban yang namanya dicatut tanpa izin untuk pembuatan rekening.

Pada Selasa (28/11/2023) pekan lalu, Whina mendapat informasi adanya pergantian majelis hakim dalam sidang dengan terdakwa Yohannes Sugiyanto, Sujoko Liem, dan Danika Yusmansyah.

Pada sidang tersebut, dua hakim tidak hadir, termasuk ketua majelisnya hakim Kukuh Kalinggo Yuwono. Akhirnya hakim anggota Emanuel Ari Budiharjo memimpin sidang. Ada pula hakim lain yang menggantikan posisi anggota majelis.

“Kenapa ada pergantian majelis hakim secara mendadak? Ada apa ini?” tanya Whina memalui penasihat hukumnya Walden Van Houten Sipahutar di pengadilan, Selasa (5/12/2023).

Sisi lain, Walden mengkritik sikap majelis hakim yang terkesan membiarkan pembahasan di sidang keluar dari konteks dakwaan. Saksi justru dicecar pertanyaan mengenai kasus lain.

Juru Bicara PN Semarang Haruno Patriadi tidak menampik adanya pergantian majelis hakim pada perkara pemalsuan rekening. Namun, pergantian tersebut karena hakim yang lama pindah tugas ke tempat lain.

“Bukan karena apa-apa, ini karena penempatan karir,” jelasnya. Kukuh Kalinggo Yuwono yang tadinya ketua majelis, dimutasi menjadi hakim tinggi.

Haruno menegaskan, pergantian majelis hakim murni ranah institusi pengadilan, tidak memerlukan kesepakatan dengan jaksa, penasihat hukum, maupun pihak korban. Pengadilan berkewajiban memastikan semua perkara tidak stagnan.

Ada 4 Pelaku

Kasus pemalsuan rekening ini awalnya dilaporkan pemilik nama rekening, Whina Whiniyati bersama tim kuasa hukumnya dari Law Firm Dr Hendra Wijaya & Partners pada 4 November 2021.

Setelah diusut, ada empat orang yang menjadi tersangka. Terdiri dari dua oknum karyawan bank dan dua pengusaha gesek tunai (gestun) Semarang.

Oknum karyawan BRI Cabang Pattimura Semarang, Danika Yusmansyah dan Seno Aji Nuswantoro berperan membuat rekening atas nama korban tanpa izin. Rekening tersebut digunakan untuk pengajuan mesin EDC atau gesek tunai.

Selanjutnya, mesin EDC diberikan kepada pengusaha gestun yang berkantor pusat di Jalan Erlangga Raya Semarang, Yohannes Sugianto dan pengusaha gesek tunai di Tlogosari Semarang, Sujoko Liem untuk transaksi jual beli di toko masing-masing.

Terdakwa Yohannes Sugianto dan Sujoko Liem dijerat Pasal 46 ayat (1) Jo Pasal 30 ayat (1) UU No.19 tahun 2016 tentang ITE.

Sementara, terdakwa Danika Yusmansyah dan Seno Aji Nuswantoro, disangkakan Pasal 49 ayat (1) huruf a UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan atau Pasal 51 ayat (1) UU No.19 tahun 2016 tentang ITE Jo Pasal 55 ayat (1) KUHP.

Khusus tersangka Seno Aji Nuswantoro belum diadili. Ia sempat menjadi menjadi buron, tetapi kini sudah ditangkap dan sedang menjalani penahanan sementara di rutan. (*)

editor : tri wuryono 

Baihaqi Annizar