in

Tidak Rugikan Pelapor, Pengusaha Gestun Semarang Minta Dibebaskan

Dua pengusaha ini sebenarnya tidak berniat menggunakan mesin EDC atau gestun milik orang lain.

Tim kuasa hukum terdakwa Sujoko Liem dan Yohannes Sugiyanto (pengusaha pengguna mesin gestun) menunjukkan berkas pembelaan. (baihaqi/jatengtoday.com)
Tim kuasa hukum terdakwa Sujoko Liem dan Yohannes Sugiyanto (pengusaha pengguna mesin gestun) menunjukkan berkas pembelaan. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Pengusaha pengguna mesin gesek tunai (gestun) atau EDC meminta majelis hakim Pengadilan Negeri Semarang untuk membebaskannya dari dakwaan dan tuntutan hukuman. 

Pengusaha bernama Sujoko Liem dan Yohannes Sugiyanto tersebut mengakui telah menggunakan mesin EDC milik orang lain atas saran dari pihak bank.

Namun, dua terdakwa itu membantah tindakannya menyebabkan pelapor selaku pemilik akun rekening mesin EDC menderita kerugian materiel.

“Fakta persidangan menunjukkan pelapor tidak mengalami kerugian, termasuk tidak ada bukti tentang tagihan pajak miliaran rupiah yang pernah pelapor klaim,” jelas kuasa hukum para terdakwa, Bayu Arief Anas, Jumat (12/1/2024).

Jaksa penuntut umum dalam dakwaan maupun tuntutannya juga tidak pernah menyebutkan adanya kerugian akibat penggunaan mesin gestun oleh kedua terdakwa.

Bahkan, dalam persidangan jaksa tidak pernah menghadirkan bukti buku rekening dan ATM pelapor, meskipun itu merupakan suatu bagian tidak terpisahkan dalam kasus ini.


Terpaksa Pinjam Mesin Gestun Orang Lain

Bayu menjelaskan, kedua kliennya sebenarnya tidak berniat menggunakan mesin EDC atau gestun milik orang lain. Namun, mereka melakukan perbuatan itu atas saran pegawai satgas mersam BRI.

Sujoko Liem mempunyai usaha jual beli handphone dan Yohannes Sugiyanto memiliki usaha biro perjalanan di Semarang. Ketika pandemi, keduanya ingin mempermudah transkasi dengan menggunakan mesin EDC.

Mereka sudah berupaya mengajukan pembuatan mesin EDC ke bank tetapi prosesnya lama. Kemudian, karyawan bank bernama Danika (dituntut dalam berkas terpisah) menawari pinjaman EDC.

“Danika yang menawari pinjaman EDC milik nasabahnya, katanya sudah ada izin pinjam. Awalnya klien kami menolak, tapi karena butuh segera, akhirnya mengiyakan, pinjam sampai EDC punya sendiri jadi,” cerita Bayu.


Tak Terlibat Pencurian Data untuk Membuat Mesin EDC

Sujoko Liem dan Yohannes Sugiyanto mengklaim tak terlibat dalam proses pembuatan mesin EDC. Termasuk ia tidak tahu-menahu tentang dugaan pencurian data elektronik milik Whina Whiniati (pelapor kasus ini).

Keduanya menggunakan mesin EDC sudah dalam keadaan siap pakai. Proses pembuatannya adalah kewenangan pihak bank.

“Klien kami tak pernah memesan atau mengetahui proses terbitnya mesin EDC,” tegas Bayu, kuasa hukum kedua terdakwa dari Kantor Advokat Saksono SH MH.

Fakta persidangan menunjukkan, pembuatan mesin EDC memang tidak atas persetujuan Whina Whiniyati selaku pemilik akun rekening. Namun, pihak bank bisa mendapatkan data-data Whina karena diberi oleh Andi Kurniawan (suami Whina).

Kini, kuasa hukum Sujoko Liem dan Yohannes Sugiyanto berharap majelis hakim bisa membuka mata. “Kami meminta klien kami dibebaskan dari semua tuntutan atau setidaknya lepas demi hukum,” harapnya.

Sebelumnya, Sujoko Liem dan Yohannes Sugiyanto masing-masing dituntut pidana penjara 2 tahun dan denda Rp100 juta karena melanggar Pasal 46 ayat (1) Jo Pasal 30 ayat (1) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sementara itu, Danika Yusmansyah karyawan bank yang terlibat dalam rangkaian kasus ini dituntut 6 tahun penjara dan denda Rp10 miliar. (*)

editor : tri wuryono 

Baihaqi Annizar