in

Pengusaha Gestun Pemalsu Rekening Hanya Dituntut 2 Tahun, Korban Kecewa

Menurut Hendra, tuntutan pidana kedua pengusaha gestun tidak mencerminkan keadilan.

Pengacara Dr. Hendra Wijaya, ST, SH, MH. (istimewa)
Kuasa hukum korban pemalsuan rekening, Dr. Hendra Wijaya, ST, SH, MH. (istimewa)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Korban pemalsuan dan penggunaan rekening tanpa izin merasa kecewa atas rendahnya tuntutan hukuman dua pengusaha gesek tunai (gestun) di Semarang.

Meski dinilai bersalah, pengusaha gestun bernama Y Sugiyanto dan Sujoko Liem masing-masing hanya dituntut 2 tahun penjara dan denda Rp100 juta.

Whina Whiniati selaku korban dalam perkara ini, melalui kuasa hukumnya Dr. Hendra Wijaya, ST, SH, MH, menilai tuntutan pidana terhadap kedua terdakwa tidak mencerminkan keadilan.

Sebab, ada terdakwa lain yang tuntutan hukumannya jauh lebih tinggi meski dalam rangkaian kasus yang sama. Ia adalah mantan pegawai bank, dituntut 6 tahun dan denda Rp10 miliar.

“Tentu ini tidak mencerminkan keadilan. Alasannya, terdakwa pengusaha gestun itu yang menikmati dan menyalahgunakan rekening, justru dituntut rendah dibanding mantan pegawai bank,” kata Hendra yang juga ahli pidana perbankan, Selasa (2/1/2023).

Terlebih, katanya, ada diskriminasi antara para terdakwa. Di mana kedua terdakwa mantan pegawai bank ditahan selama proses persidangan, sementara kedua terdakwa pengusaha gestun ditangguhkan penahanannya.

“Dua pengusaha gestun sampai saat ini melenggang berkeliaran di luar sana dan masih menjalankan bisnisnya dengan leluasa. Apakah ini yang dinamakan keadilan?” herannya.

Hendra meminta Ketua PN Semarang untuk segera menahan para terdakwa di dalam ruang tahanan di Lapas Kelas I Kedungpane Semarang sebagaimana mestinya.

“Kami kuasa hukum korban meminta diputus seadil-adilnya dan seberat-beratnya untuk pembelajaran agar terdakwa tidak mengulangi perbuatannya lagi,” pintanya.

Perlu diketahui, kasus dugaan penggunaan rekening tanpa izin dilaporkan Whina Whiniyati melalui tim kuasa hukumnya dari Law Firm Dr. Hendra Wijaya & Partners, yang beralamat di Jalan Erlangga Raya No. 41 B-C, Kota Semarang, pada 4 November 2021.

Kuasa hukum Whina, Walden Van Houten Sipahutar, S.Kom, SH, MH mengungkap, penggunaan data dan akun rekening kliennya tersebut merupakan bentuk pencurian data, penyalahgunaan dokumen untuk penerbitan buku rekening yang di sebuah bank. (*)

editor : tri wuryono 

Baihaqi Annizar