in

Perangkat Desa Mlatiharjo Setor Uang ke ‘Polisi’ untuk Urus Kasus Suap UIN Walisongo

Veruka menyerahkan Rp150 juta untuk suap pelolosan perangkat desa dan Rp100 juta untuk mengondisikan pengusutan kasus suap itu.

Kaur TU dan Umum Desa Mlatiharjo Veruka Priseptasari (kerudung oranye) keluar ruang sidang usai bersaksi kasus suap seleksi perangkat desa di demak yang libatkan dosen UIN Walisongo. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Perangkat Desa Mlatiharjo Kabupaten Demak mengaku dimintai uang untuk mengurus penghentian penyelidikan dugaan suap yang sedang ditangani pihak kepolisian.

Saat itu polisi sedang mengusut kasus suap pelolosan seleksi perangkat desa di Kecamatan Gajah yang tesnya dilaksanakan di UIN Walisongo Semarang.

Veruka Priseptasari menurut saja disuruh menyetor uang pengondisian karena sebelumnya telanjur menyerahkan suap senilai Rp150 juta demi bisa lolos menjadi perangkat desa.

Baca Juga: Kades di Demak Setor Uang ke Broker, Berharap Kasus Suap Perangkat Desa Tidak Diusut

“Rp150 juta untuk biar lolos. Lalu diminta uang tambahan (secara bertahap) untuk mengurus kepolisian, total Rp100 juta,” ujarnya saat bersaksi di sidang Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (3/10/2022).

Veruka sebenarnya hanya terima bersih, bahkan ia tidak tahu siapa nama polisi yang diberi uang. Semuanya diwakili oleh Kades Mlatiharjo yang berkoordinasi langsung dengan makelar.

“Semua saya serahkan ke Pak Lurah. Yang Rp100 juta kurang tahu, intinya untuk pengondisian,” imbuhnya.

Baca Juga: Kades Banjarsari Demak Naikkan Tarif Suap jadi Rp750 Juta

Kades Mlatiharjo Moh Junaedi tidak bisa mengelak keterangan Veruka. Namun, ia mengaku hanya menyerahkan Rp70 juta dari Rp100 juta uang pengondisian.

“Yang Rp30 juta untuk operasional,” akunya.

Selain Veruka, ada belasan perangkat desa lain dari Kecamatan Gajah yang turut dimintai uang tambahan untuk mengurus penyelesaian kasus suap. Meskipun begitu, kasus tersebut tetap diusut.

Saat ini, dugaan suap seleksi perangkat desa sudah naik ke persidangan. Dalam kasus ini ada empat terdakwa, yakni Saroni dan Imam Jaswadi (makelar), serta Amin Farih dan Adib (dosen UIN Walisongo). (*)

editor : tri wuryono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *