in

Pengelola Kampung Wisata Talun Kacang Kemas Potensi Alam jadi Ladang Pendapatan

SEMARANG (jatengtoday.com) – Di tengah hiruk-pikuk kota yang selalu sibuk, suasana desa menjadi sebuah wahana idaman. Memanjakan hidung dengan udara segar khas pedesaan, hingga memandang hamparan hijaunya daun, atau pegunungan yang tampak kebiru-biruan.

Tak jarang, ketika akhir pekan datang, mereka yang selalu sibuk mencari uang di kota, rela menghabiskannya di desa. Mengunjungi desa yang punya potensi wisata. Sekadar refreshing, atau membuat quality time bareng keluarga.

Fenomena itulah yang ditangkap warga Kampung Talun Kacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Mereka mencari potensi-potensi alam yang bisa ditonjolkan. Hingga akhirnya muncul 15 spot foto unik di lima titik lokasi kampung setempat. Ada juga wisata perahu mengintari Waduk Jatibarang yang tak pernah sepi penumpang saban tanggal merah.

Bagi warga, menjual potensi kampung tidak begitu sulit. Berada di kawasan wisata Goa Kreo Semarang, Kampung Wisata Talun Kacang hanya perlu menarik perhatian wisatawan yang melintas. Aksesnya gampang, dilapisi aspal yang masih mulus. Tepatnya di kiri jalan jalur menuju wisata Goa Kreo. Sangat mudah ditemukan karena ada tulisan besar sebagai petunjuk pusat spot foto unik.

Di sana, pengunjung diberi kesempatan berfoto di 15 spot tematik. Ada spot awan, spot salju, spot sakura, spot balon udara, dan lain sebagainya. Tempatnya nangkring di bukit. Disediakan akses seperti jembatan dari bambu.

Tak hanya tematiknya saja yang bisa mempercantik, latar belakang hijaunya hutan, birunya Waduk Jatibarang, hingga lamat-lamat Gunung Ungaran, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing juga mempermanis foto.

Spot awan sempat menjadi idola wisatawan. Spot foto ini kerap nongol di akun Instagram. Bahkan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi juga kepincut dan foto di sana. Meski begitu, 14 spot foto lain juga tak kalah Instagramable.

Bagi yang ingin foto di sana, harap bersabar. Sebab jika cuaca sedang cerah, pasti antre. Di hari biasa, ada sekitar 50 wisatawan yang ingin foto. Kalau pas hari libur, malah lebih banyak. Bisa dua kali lipat, atau sekitar 100 orang. Karena itu, tidak heran jika pengelola terpaksa menolak wisatawan yang ingin ikut foto dengan alasan kenyamanan.

Untuk bisa nebeng jeprat-jepret di spot foto unik ini, pengunjung ditawari tiga paket foto. Rp 5 ribu untuk 3 kali foto, Rp 10 ribu untuk 6 kali foto, dan yang paling mahal, Rp 50 ribu untuk 30 foto. Memang dihitung per jepretan karena nanti pihak pengelola yang motret. Pengunjung cukup menyerahkan kartu memori untuk dimasukkan ke kamera profesional milik petugas. Hasil foto berupa soft copy, akan disimpan di kartu memori tersebut. Dengan begitu, hasil jepretan bisa langsung diedit dan diunggah ke media sosial.

Untuk menambah gimmick saat berfoto, disediakan sejumlah properti tambahan yang bisa disewa. Sebut saja boneka berukuran jumbo, gitar, dan lain sebagainya dengan harga Rp 5 ribu. Disediakan juga pernik lain seperti mahkota, bando, topi, dan lain sebagainya. Pernak-pernik kecil ini bisa disewa dengan merogoh kocek Rp 5 ribu untuk 3 macam item.

Ketua Karang Taruna sekaligus Pengelola Wisata Talun Kacang, Muhammad Taufik menjelaskan, hasil dari biaya jasa sewa spot dan foto itu masuk ke kantong pengelola. Terhitung ada 10 remaja di kampung setempat yang intens menggarap spot-spot foto tersebut.

Diceritakan, spot foto yang baru dirinis Agustus 2017 silam ini sudah menjadi ladang rupiah bagi remaja setempat. Di hari biasa, satu spot foto bisa menghasilkan sekitar 800 ribu per hari. Saat weekend, bisa tembus Rp 1,8 juta per hari. Pemasukan yang sangat menggiurkan ketimbang merantau ke kota. Itu belum termasuk ongkos parkir wisatawan Rp 2 ribu untuk kendaraan roda dua dan empat.

“Semua yang mengelola kampung wisata ini remaja. Rata-rata lulusan SMA. Daripada mereka merantau, meninggalkan kampung, mending menggarap potensi wisata ini. Toh hasilnya lebih baik daripada jadi buruh pabrik di kota,” terangnya ketika ditemui jatengtoday.com, Jumat (12/10/2018).

Meski begitu, Taufik mengakui, ladang rupiah dari kampung wisata ini tidak bisa bertahan tanpa ada kreasi dan inovasi. Jika yang disuguhkan hanya itu-itu saja, bukan mustahil jika nantinya tak lagi dilirik wisatawan.

Gagasan-gagasan segar biasanya didapat dari obrolan sesama remaja di kampung tersebut. Kadang, ada masukan dari wisatawan. Sesekali, mereka bertandang ke desa wisata lain untuk mencari inspirasi. “Intinya, kami terus mencari hal-hal baru agar tempat kami tidak membosankan,” jelasnya.

Dalam waktu dekat ini, pihaknya akan membuka spot foto baru yang bisa dinikmati saat malam hari. “Ini baru gagasan yang sedang dimatangkan. Soal realisasinya seperti apa, tunggu tanggal mainnya,” bebernya.

Memang tak melulu mengandalkan spot foto unik. Salah satu warga Kampung Wisata Talun Kacang, Khofidotul Rofiah punya ide simpel, tapi cukup efektif menarik wisatawan. Yakni menyediakan sepotong kebun kenikir. Warna-warni bunga kenikir saat merekah, sangat menarik untuk swafoto.

Kebun itu berada di belakang rumah Rofiah di RT 5 RW 3 Kampung Wista Talun Kacang. Bagi yang ingin menikmati hamparan bunga kenikir itu, pengunjung hanya perlu merogoh kocek Rp 3 ribu per kepala. Kebun ini dibuka untuk umum setiap hari pukul 08.00-17.00. “Kalau pas kenikirnya nggak lagi ngembang, ditutup sementara,” jelasnya.

Memanfaatkan potensi wisata di kebun sendiri ini cukup untuk menambah penghasilan. Rata-rata, ada 5 hingga 7 pengunjung yang datang per hari. Saat akhir pekan, bisa melonjak hingga dua kali lipat. “Bisa untuk beli bumbu dapur sama perawatan kebun,” bebernya.

Geliat pariwisata untuk sumber ekonomi warga Kampung Wisata Talun Kacang tak hanya memanfaatkan potensi alam. Taufik menjelaskan, banyak warga yang menjajakan kuliner di kawasan Waduk Jatibarang.

Diceritakan, awal pembangunan waduk merupakan kabar tak sedap bagi para petani setempat yang tergabung dalam Kelompok Tani Suko Makmur. Pasalnya, pemerintah mengusir nyaris seluruh lahan garapan yang menjadi sumber penghasilan Kelompok Tani Suko Makmur.

Tak mau berontak, para petani justru memanfaatkan peluang yang ada. 2015 silam, Ketua Kelompok Tani Suko Makmur, Majuri coba memanfatkan waduk menjadi wahana wisata. Yakni menyiapkan sebanyak 22 perahu untuk dijadikan wisata keliling waduk. Untuk satu perahu berkapasitas 4 penumpang, dibanderol Rp 100 ribu.

“Membuat perahu itu modal pribadi dari Pak Majuri. Kabarnya sampai ‘menyekolahkan’ sertifikat tanah untuk modal membuat perahu,” jelasnya.

Banyaknya wisatawan yang datang ke waduk sekaligus berkunjung ke Goa Kreo, juga menjadi peluang tempat istirahat. Nyaris seluruh rumah di kawasan tersebut, dikemas menjadi homestay yang murah meriah. Hanya Rp 100 ribu untuk satu kamar berkapasitas dua orang. Meski murah, fasilitasnya sangat nyaman. Disediakan AC sebagai penyejuk ruangan, televisi, dan sarapan di pagi hari.

“Yang sangat terkenal itu homestay Krincing. Kerap jadi rujukan pelancong dari luar kota. Rp 450 dapat satu rumah semalam. Ada tiga kamar di sana,” bebernya.

Homestay tersebut ‘panen raya’ ketika tahun baru. Pasalnya, pengelola Kampung Wisata Talun Kacang sengaja membuat pesta kembang api untuk memeriahkan pergantian tahun. “Sudah dua kali kami adakan pesta kembang api. Biasanya, pengunjung pada nginap di homestay,” terangnya.

Dilindungi dari Investor Asing

Melihat geliat desa wisata yang bisa menjadi ‘lapangan pekerjaan’ bagi warga setempat, Pemprov Jateng punya jurus untuk mengembangkannya.
DPRD Jateng tengah menggodok Raperda tentang Desa Wisata. Nantinya, akan ada regulasi untuk mendorong masyarakat mengembangkan desa wisata, sekaligus melindungi dicaploknya wilayah desa dari investor besar.

Ketua Komisi B DPRD Jateng, Chamim M Irfani menjelaskan, Raperda ini untuk membantu perekonomian di desa-desa, lewat sektor pariwisata. Pengelolaan desa wisata, bisa lewat pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), atau koperasi. “Jadi desa-desa wisata itu ya dikelola masyarakat setempat, bukan untuk investor-investor besar. Masyarakatlah yang jadi investor,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jateng, Urip Sihabudin menjelaskan, hingga pertengahan tahun ini total ada sekitar 238 desa wisata di Jateng. Dari angka itu, yang aktif dan telah memperoleh surat keputusan dari para pimpinan daerahnya ada sekitar 147 desa wisata.

“Di satu sisi, semakin banyaknya desa wisata semakin menggembirakan bagi kami. Tetapi di sisi lain memprihatinkan. Itu dikarenakan rata-rata potensi yang ditunjukkan oleh desa wisata itu hampir sama atau sejenis,” tuturnya.

Urip khawatir, ketika mayoritas potensinya sama atau sejenis, berpeluang bisa saling mematikan. Terlebih ketika antardesa wisata jaraknya saling berdekatan. Hal itu menurutnya yang perlu menjadi perhatian serius di tengah bermunculan desa-desa wisata.

“Kami sudah ada rencana dan ini sedang kami siapkan suatu peraturan daerah khusus tentang desa wisata. Nanti melalui Perda Provinsi Jawa Tengah tersebut, akan diatur baik itu konsep pengembangan potensi-potensi di tiap daerah. Termasuk juga mungkin syarat suatu desa menjadi desa wisata,” tegasnya. (*)

editor : ricky fitriyanto