in

Menuju World Heritage, Plan Kota Lama Agar Bisa Dinikmati Anak Cucu

SEMARANG (jatengtoday.com) – Hanya ramai menjadi tempat wisata saja tidak cukup. Selain memuat nilai historis berskala dunia, Kota Lama Semarang untuk menjadi warisan budaya dunia harus mampu menghidupkan aktivitas budaya, edukasi, pengetahuan, dan pariwisata.

Hingga saat ini, masih banyak pekerjaan rumah (PR) bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk menggarap Kota Lama Semarang menuju world heritage atau warisan budaya dunia hingga 2020.

Sebanyak 116 gedung cagar budaya di Kota Lama, baru sebagian yang telah direstorasi dan memiliki aktivitas baru. Aktivitas baru inipun perlu dievaluasi untuk disesuaikan dengan persyaratan yang ditetapkan UNESCO. Yakni menghidupkan aktivitas budaya, edukasi, pengetahuan, dan pariwisata.

Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, saat ini sedang menyiapkan draf dossier atau dokumen Kota Lama untuk dikirim ke UNESCO Perancis.

Dossier ini sebagai salah satu persyaratan untuk mengajukan Kota Lama menjadi warisan budaya dunia. “September, draft kasar dokumen dossier harus sudah jadi. Paling lambat November, dossier itu sudah dikirimkan,” ujarnya, Rabu (25/7).

Dikatakan, penilaian world heritage tidak hanya dilihat dari sejarah dan masa kini. Tapi juga rencana ke depan menjadi seperti apa.
Menurutnya, perbaikan infrastruktur yang dilakukan Kementerian PUPR saat ini adalah komitmen untuk melestarikan kawasan tersebut. Termasuk untuk mengatasi banjir dan rob.

“Salah satunya pembangunan rumah pompa dan polder. Meski saat ini kawasan tersebut sudah bisa dibilang terbebas dari genangan. Berbeda ketika dua- tiga tahun lalu,” katanya di sela-sela acara Experience Sharing Workshop on DisarterRisk Reduction Strategy in There Heritage Cities in Sout East Asia and the Pacific” di Gedung Oudetrap, Kota Lama.

Kepala Bidang Tata Ruang pada Dinas Penataan Ruang Kota Semarang, Nik Suryani mengatakan dossier Kota Lama memuat sejumlah kata kunci. Diantaranya nilai signifikansi historis berskala dunia. “Kota Lama terdiri atas multietnis, terbagi wilayah Pecinan, Kampung Melayu dan Kauman,” katanya.

Memuat sejarah perdagangan dalam skala global dibuktikan dengan adanya pelabuhan.
“Kawasan Kota Lama merupakan area yang lengkap. Terdapat Kali Semarang yang memiliki segmen keterkaitan secara historis,” katanya.

Dulunya, lanjut Nik, ada benteng di Kota Lama. Namun Belanda, di era kolonial, merobohkan benteng tersebut karena mereka ingin Kota Lama menjadi lebih berkembang. “Dossier yang dibuat mencakup Kota Lama dan atributnya secara lengkap,” katanya.

Tidak hanya itu, lanjut Nik, saat ini unsur yang harus dipenuhi sesuai standar UNESCO adalah aspek budaya, edukasi, pengetahuan, dan pariwisata. “Unsur tersebut harus terpenuhi seluruhnya. Jika hanya wisata tidak komplit.
Yang terakhir yakni manajemen plan atau komitmen pemerintah kota melestarikan kawasan tersebut,” katanya.

Dikatakan Nik, kawasan Kota Lama disiapkan agar bisa dinikmati anak cucu di kemudian hari. “UNESCO menginginkan anak cucu kita bisa menikmati Kota Lama agar tidak sampai hilang, tidak menjadi semakin buruk,” katanya.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, Kota Lama masih bertahan menjadi salah satu kota yang menjadi perhatian untuk bisa masuk dalam daftar warisan budaya dunia.

“Ini menjadi kebanggaan, dulu kita hanya melihat kawasan cagar budaya di Malaysia, Malaka, dan Fiji. Semoga nantinya Kota Lama menjadi salah satunya yang menambah daya tarik wisatawan,” tuturnya. (abdul mughis)