in

Menjajal Akuaponik Pertanian di Tengah Kota Metropolitan

SEMARANG – Menjadi Kota Metropolitan, lahan-lahan kian habis digunakan untuk pusat bisnis dan berjubal perumahan. Tetapi agar tetap produktif dalam ketahanan pangan, tata ruang kota tersebut didesain sedemikian rupa agar bidang pertanian tetap lestari di tengah kota.

Salah satunya Kota Semarang. Saat ini sedang dilakukan eksperimen pertanian menggunakan metode akuaponik. Saat ini telah berjalan pilot project di sejumlah titik untuk pengembangan pertanian menggunakan sistem akuaponik ini.

Konsepnya memanfaatkan lahan sempit agar tetap dilakukan penanaman berbagai jenis tanaman kebutuhan pangan seperti lombok, terong, sawi, kangkung, seledri, tomat, cabai rawit, cabai merah, bayam dan beraneka ragam sayur mayur lain.

Salah satunya ada di Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati Semarang. Sejak dirintis Februari 2016 hingga September 2017, ada sebanyak 83 Kepala Keluarga (KK) mengembangkan budidaya tanaman sayuran menggunakan sistem akuaponik berbasis rumah tangga di Kampung Kandri. Kampung ini kemudian disebut sebagai landmark ‘Desa Wisata Akuaponik’.

Tidak hanya itu, direncanakan program besar menggarap pertanian di tengah kota dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong milik Pemkot Semarang, misalnya bantaran sungai, tepi trotoar, hingga tanah-tanah warga yang selama ini tidak produktif.

“Pengembangan akuaponik ini menjadi salah satu bagian dari program urban farming menggunakan teknologi tepat guna. Konsepnya tetap memerhatikan aspek estetika, fungsi, dan sistem sirkulasi budidaya pertanian serta perikanan secara optimal dan berkelanjutan,” kata Kepala Bidang Perencanaan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Bappeda Kota Semarang, Budi Prakosa, Selasa (21/11/2017).

Dikatakannya, Semarang adalah kota metropolitan, pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan sarana prasarana infrastruktur berkembang pesat. Sehingga mengakibatkan lahan pertanian berkurang. “Bagaimana fungsi-fungsi perkotaan ini agar bisa diinisiasikan untuk kontribusi terhadap ketahanan pangan di Kota Semarang,” katanya.

Saat ini, kata dia, Kota Semarang masuk dalam kategori 100 Resilient Cities, dari berbagai kota di dunia, yakni sebuah kota yang dikategorikan memiliki daya tahan kuat dan tangguh menghadapi tantangan. Perwujudan kota tangguh itu di antaranya melalui penyediaan pangan berkelanjutan, baik berupa budidaya darat maupun air di lahan yang terbatas.

Dalam pertanian akuaponik, warga menggunakan konsep kolam budidaya ikan berukuran kurang lebih 2 x 4 meter dengan kedalaman air kurang lebih setengah meter, kemudian digabungkan dengan jalur instalasi akuaponik dari pipa paralon maupun netpot dan polibag.

“Sebetulnya ini bukan konsep baru. Dalam konsep teoritik ada istilah urban farming, yakni praktik budidaya, pemrosesan, dan distribusi bahan pangan di perkotaan. Urban farming ini nanti akan dikembangkan di Kota Semarang. Dengan adanya kondisi lahan sempit akan kami kembangkan dan meningkatkan produktivitas pertanian di Kota Semarang,” katanya.

“Bentuknya bisa memanfaatkan lahan publik, vertical garden, roof garden maupun top garden, nantinya akan ditingkatkan,” imbuhnya. (Abdul Mughis)

Editor: Ismu Puruhito