in

Mengapa Mudik Dilarang, Piknik Diperbolehkan? Begini Penjelasan Disbudpar

SEMARANG (jatengtoday.com) – Pemerintah mengeluarkan kebijakan yang kontradiktif mengenai pelarangan mudik pada Hari Raya Idul Fitri 2021. Sebab di lain sisi, pemerintah memperbolehkan tempat wisata tetap beroperasi. Hal ini membuat sebagian warga bertanya-tanya mengapa mudik dilarang, sedangkan piknik diperbolehkan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Indriyasari menjelaskan, aturan larangan mudik tersebut bertujuan untuk mengantisipasi agar tidak terjadi gelombang penyebaran virus covid-19 pasca fenomena mudik lebaran.

“Pemerintah memprioritaskan kesehatan. Tentunya kita tidak ingin ada gelombang Covid-19 di kemudian hari. Sehingga larangan mudik kita ikuti bersama,” katanya, Rabu (28/4/2021).

Di sisi lain, terkait wisata tetap akan dibuka oleh pemerintah. Alasan dibukanya tempat wisata agar roda ekonomi tetap berjalan dengan diberlakukan pembatasan ketat.

“Kunjungan wisata, tetap buka dengan aturan pembatasan pengunjung dan protokol kesehatan. Pembatasan dilakukan untuk jam operasional, maupun jumlah batasan orang yang mengunjungi tempat wisata,” katanya.

Selain itu, aturan diperbolehkan piknik atau mengunjungi tempat wisata di Kota Semarang ini khusus diberikan untuk warga Kota Semarang. “Untuk kali ini tidak mengakomodasi pengunjung dari luar kota. Tetapi lebih memprioritaskan pengunjung dalam kota. Terutama masyarakat Kota Semarang yang tidak bisa mudik, bisa refreshing di tempat wisata,” beber dia.

Namun demikian, lanjut I’in sapaan akrabnya, pengelola maupun pengunjung tempat wisata harius tetap mematuhi  aturan protokol kesehatan. “Pengunjung harus menghindari kerumunan. Pada lebaran hari pertama tentunya tempat wisata tidak buka, tapi lebaran hari berikutnya atau ke berapa gitu nanti kami buka. Kalau tempat hiburan tutup dari tanggal 11-16 Mei,” katanya.

Dia menggarisbawahi, bahwa kunjungan wisata diutamakan bagi warga dalam kota. “Kami akan melakukan sosialisasi kepada pengelola tempat wisata, baik wisata yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta. Kami juga akan mengeluarkan surat edaran,” katanya.

Untuk aturan pembatasan, lanjut dia, diatur berdasarkan kapasitas dan pengaturan waktu. “Misalnya kapasitas 1000 pengunjung per hari, pada jam tertentu misalnya terdapat 200 pengunjung, ini akan dibatasi tidak boleh menerima pengunjung lagi. Jadi bukan dihitung pengunjung dalam sehari. Tetap memperhatikan intensitas pengunjung pada jam ramai,” katanya.

Kepada Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang Endro Pudyo Martantono mengatakan, pihaknya akan melakukan pantauan untuk melakukan penyekatan pengendara dari luar kota. “Pada saat pengendara dihentikan, nanti akan ada pemeriksaan identitas. Misalnya ber-KTP Semarang bisa saja diminta tetap jalan. Sanksinya diminta putar balik,” katanya.

Prinsip saat ini, lanjut dia, yang diterapkan di Kota Semarang adalah pembatasan aktivitas. “Termasuk kunjungan wisatawan. Artinya, kunjungan wisata dalam kondisi tertentu masih diperbolehkan dengan diberlakukan pembatasan jumlah pengunjung. Itu artinya sama, yang tidak diperbolehkan adalah kerumunan orang. Saya tidak melihat terlalu jauh, acuan aturan khususnya di Kota Semarang adalah SK Wali Kota Semarang. Tugas kami di perbatasan saja untuk melakukan penyekatan,” ujarnya. (*)

 

editor: ricky fitriyanto

Abdul Mughis