in

Soal Larangan Mudik, Politisi PPP Mengajak Berfikir Kaidah Ushul Fiqh

SEMARANG (jatengtoday.com) – Pemerintah dengan tegas mengeluarkan kebijakan mengenai larangan mudik demi menekan risiko penyebaran Covid-19. Meski begitu, sudah ada ribuan pemudik lolos masuk ke Jateng.

Masyarakat masih nekat mudik pada Lebaran 2021. Mereka punya cara sendiri untuk lolos dari penyekatan yang dilakukan petugas di perbatasan provinsi.

Politisi PPP yang duduk di Komisi A DPRD Jateng, Masruhan Samsurie meminta masyarakat untuk menerima kebijakan pemerintah terkait larangan mudik.

Baca juga: Penyekatan Pemudik di Kota Semarang, Sudah Banyak Kendaraan yang Disuruh Putar Balik

Dia pun mengajak berfikir dengan kaidah ushul fiqh. Dikatakan, Al-Syathibi seorang ahli fiqh yang masyhur menyebut menghindari kerusakan itu berkaitan dengan keamanan jiwa dan raga. “Dan persis dengan ancaman Covid-19 yang sudah terbukti memakan korban jiwa sedemikian banyak di seluruh dunia,” ucapnya, Jumat (7/5/2021).

Dengan cara berfikir dengan kaidah ushul fiqh, Masruhan berpendapat, menolak dengan membatasi berkembangnya Covid-19 yang tengah berlangsung harus didahulukan ketimbang mencari kebaikan baru dari silaturahmi.

“Hal ini harus dipahami sebagai upaya membatasi penularan Covid-19. Kesehatan dan keselatan jiwa diri sendiri dan orang lain harus diutamakan ketimbang mudik untuk bertemu keluarga dan sanak saudara,” terangnya.

Sebagai anggota DPRD Jateng, Masruhan mengaku juga ikut melakukan pantauan arus mudik di beberapa titik keluar masuk lalu lintas antar provinsi dan antar kota.

“Saya memohon kesadaran masyarakat atas kebijakan ini, dan pemerintah baik melalui media publik maupun lewat aparatnya sampai tingkat RT untuk terus menerus memberikan penjelasan kepada warga,” harapnya.

Baca juga: Dibela-belain Naik Truk Sayur, Sejumlah Pemudik Terpaksa Gigit Jari

Dia juga mengimbau kepada para aktivis medsos, baik yang mendukung atau menolak kebijakan larangan mudik, untuk bersikap bijak.

“Ini tentang semangat menyelamatkan bangsa ini dari bahaya Covid-19 yang masih terus mengancam, bahkan kini muncul varian baru yang lebih ganas,” tegasnya.

Lebih lanjut, mengenai salat Idul Fitri, Masruhan menghimbau agar dilaksanakan di masjid dengan tetap memperhatikan prokes. Jika daerah tersebut termasuk kategori besar potensi berkembangnya Covid-19, maka tidak harus melakukan salat Ied berjamaah di masjid.

“Mungkin bisa di lapangan terbuka, atau tidak melakukan salat Ied, karena itu sebagai ibadah yang disunahkan,” tandasnya. (*)

 

editor: ricky fitriyanto