in

MCK Plus Mengatasi Masalah Sanitasi di Kampung Bustaman

MCK Plus Kampung Bustaman dulu kerap masuk nominasi dan beberapa kali menerima penghargaan.

SEMARANG (jatengtoday.com) – Permukiman padat penduduk tidak bisa menjadi alasan untuk mengesampingkan sanitasi. Buktinya, Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Kota Semarang bisa mengelola sanitasi dengan baik lewat fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK).

Bustaman merupakan salah satu kampung padat di pinggir Jalan MT Haryono. Saking padatnya, permukiman ini tidak bisa dilalui mobil. Gangnya sangat sempit. Motor pun kesulitan jika harus berpapasan. Total hampir ada 100 KK yang bermukim di kampung dengan 2 RT tersebut.

Rumah-rumah di sana tidak begitu luas. Rata-rata tidak ada yang melebihi 40 meter persegi. Jadi maklum jika tidak semua rumah punya sumur dan tangki septik. Berangkat dari kesadaran itu, warga Kampung Bustaman ingin punya sanitasi yang baik.

Keterbatasan lahan tidak membuat semangat warga jadi sempit. Mereka pun membangun MCK untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sekretaris RW III Kelurahan Purwodinatan, Slamet Wahyudi menjelaskan, sebenarnya MCK ini sudah ada sejak zaman Belanda. Kemudian direnovasi agar lebih nyaman digunakan warga.

Dikatakan, nyaris seluruh warga Kampung Bustaman buang air di sana. Jika dihitung, ada sekitar 200 orang yang menggunakan MCK tersebut. Praktis, tangki septik yang dipendam di lahan tak begitu luas itu pun jadi cepat penuh.

Memanfaatkan Limbah untuk Biogas

Sebagai solusi, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sanimas Pangrukti Luhur kemudian menggagas untuk mengolah limbah dari MCK untuk dijadikan biogas lewat program pembangunan Sanitasi berbasis Masyarakat (Sanimas).

Gagasan brilian tersebut tidak hanya menarik perhatian Pemkot Semarang. LSM asal Jerman pun tertarik. Pembangunan MCK di Bustaman itu dibantu Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan Decentralized Wastewater Treatment System (LPTP-Dewats) dan Bremen Overseas and Development Association (Borda).

Sanimas dibangun pada 2005 dan diresmikan 2006 tersebut masuk kategori MCK plus, karena tidak hanya dibangun sanitasi komunal yang bersih, tetapi juga mampu mengolah limbah toilet menjadi biogas.

MCK Plus Kampung Bustaman dulu kerap masuk nominasi dan beberapa kali menerima penghargaan. Pada 2009 mendapat penghargaan dari Pemerintah Kota Semarang dalam lomba pengelolaan air bersih dan limbah sanitasi. Pada 2009 juga menjuarai Sanimas Award yang diselenggarakan Dewats-LPTP; serta pada 2011 meraih penghargaan dari Kementerian Pekerjaan Umum atas partisipasinya dalam pengelolaan Sanimas secara berkelanjutan.

Biogas tersebut dimanfaatkan bersama oleh warga. Pada saat baru dibangun, keberadaan biogas sangat membantu karena digunakan untuk memasak ketika ada acara perkumpulan warga atau hajatan pernikahan. Sampai saat ini, kompor biogas masih bisa menyala. Setiap orang yang memanfaatkan kompor cukup mengisi kas lima ratus rupiah.

Sempat ada wacana, biogas akan disalurkan dengan selang ke rumah-rumah warga. Namun, rencana itu urung direalisasi karena biogas yang dihasilkan masih terbatas, baru mampu menghidupkan satu kompor. (*)

editor : tri wuryono

Ajie MH.