in

Kasus Pembobolan BRI Kendal, Mantan Pegawai Dihukum 6 Tahun dan Wajib Bayar Rp 1,7 M

SEMARANG (jatengtoday.com) – Sidang dugaan kasus pembobolan BRI Kendal, Jawa Tengah, memasuki agenda vonis. Majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang menghukum terdakwa Yana Yanuar dengan pidana penjara selama 6 tahun.

Terdakwa Yana yang merupakan mantan pegawai Marketing dan Analisis Mikro (Mantri) BRI Kendal Unit Kaliwungu tersebut juga dihukum pidana denda sebesar Rp 100 juta.

Kemudian, karena terdakwa terbukti bersalah melakukan korupsi serta telah merugikan keuangan negara, maka majelis hakim juga membebani supaya membayar uang pengganti.

“Menghukum terdakwa Yana untuk membayar uang pengganti kepada negara sebesar Rp 1,743 miliar,” tegas Ketua Majelis Hakim Bakri saat membacakan amar tuntutan secara online, Rabu (22/4/2020).

Jika terdakwa tidak sanggup membayar maka harta bendanya akan disita dan dilelang. Apabila harta bendanya masih tidak mencukupi, maka diganti dengan pidana penjara 2 tahun.

Besaran uang pengganti tersebut dihitung berdasarkan total kerugian negara dikurangi dengan uang yang berhasil dikembalikan.

Pada sidang sebelumnya terungkap, akibat pembobolan BRI dengan modus kredit fiktif, BRI Kendal Unit Kaliwungu mengalami kerugian hingg Rp 1,965 miliar.

Pihak bank lantas melakukan recovery dengan menyita aset dan harta terdakwa. Kemudian terkumpul Rp 220,8 juta. Sehingga masih menyisakan kerugian negara senilai Rp 1,743 miliar.

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim tersebut sama dengan tuntutan jaksa Kejati Jateng.

Baca juga: Eks Pegawai BRI Kendal Dituntut 6 Tahun dan Bayar Uang Pengganti Rp 1,743 Miliar

Ajukan Kredit Fiktif

Jaksa menilai, terdakwa Yana Yanuar terbukti bersalah melanggar Pasal 3 jo pasal 18 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Terdakwa menjadi otak dalam kasus pengajuan kredit fiktif di BRI Unit Kaliwungu. Untuk melancarkan aksinya, terdakwa meminta bantuan Supriyono alias Jefry selaku orang yang sudah biasa jadi broker nasabah. Keduanya saling berbagi peran.

Secara rinci, Jefri bertugas mencari orang yang bisa dipinjam namanya, kemudian melengkapi persyaratan administratif dan mem-briefing nasabah (fiktif) sebelum melakukan pencairan kredit.

Sementara terdakwa Yana selaku pihak BRI yang seharusnya melakukan survei ke rumah calon nasabah, tetapi tidak dilakukan. Terdakwa juga yang mempersiapkan agunan nasabah fiktif.

Total ada sekitar 49 nasabah fiktif yang berhasil diajukan. Nilai kredit atau pinjamannya rata-rata Rp 50 juta per nasabah.

Selain itu, terdakwa Yana juga melakukan penyelewengan dengan modus menggelapkan angsuran nasabah. Ada 5 nasabah yang sudah mengangsur kredit ke Yana tetapi tidak dimasukkan di pembukuan BRI.

Hasil dari aksinya itu sebagian besar digunakan terdakwa untuk bersenang-senang. Termasuk untuk membayar PSK dan menebusnya dari muncikari.

Untuk diketahui, Jefry yang menjadi terdakwa kedua dalam kasus ini juga sudah menjalani sidang vonis. Sidang digelar secara terpisah. (*)

 

editor: ricky fitriyanto