in

Ini Kemiripan Tradisi dalam Imlek dengan Idul Fitri

SEMARANG (jatengtoday.com) – Tradisi dalam perayaan Imlek tak jauh berbeda dengan tradisi umat Islam saat hari raya Idul Fitri. Setidaknya ada beberapa hal yang memiliki kemiripan dan masih dilakukan sampai saat ini.

Menurut budayawan peranakan Tionghoa Semarang, Jongkie Tio, sejak dulu perayaan Imlek hampir sama seperti saat perayaan Idul Fitri. Seminggu sebelum tahun baru Imlek, orang-orang sudah mulai sibuk.

Jongkie Tio (baihaqi/jatengtoday.com).

Menurut dia, semua rumah dicat atau minimal dibersihkan. Sejumlah tempat peribadatan, seperti kelenteng dan vihara juga tak luput dibersihkan. Bahkan, tradisi bersih-bersih patung dewa dalam kelenteng menjadi agenda wajib.

Ada juga istilah mudik. Tak ubahnya sebelum hari raya Idul Fitri, tradisi mudik juga dilakukan etnis Tionghoa yang sedang merantau. Dikatakan Jongkie, kerabat-kerabat yang bertempat tinggal berbeda dengan keluarga besarnya juga akan mudik.

“Biasanya H-7 atau H-5, kerabat-kerabat yang merantau atau tinggal jauh, pada pulang. Sama plek dengan tradisi lebaran,” ujarnya saat ditemui di Restoran Semarang, Jumat (1/2/2019).

Setelah mudik, katanya, orang-orang akan berkumpul. Pada hari pertama Imlek, umat Tionghoa akan berkunjung ke tempat saudaranya, selain di malam hari sebelumnya mereka bersembahyang.

“Pagi-pagi orang sudah pakai pakaian baru, lalu sembahyang lagi. Terus pergi ke keluarga yang paling tua. Jika masih ada yang mbah-mbah, ya ke situ dulu,” terangnya.

Jongkie menambahkan, pada zaman dulu masih ada tradisi main petasan atau mercon. Biasanya yang dimainkan adalah mercon sreng yang bisa digunakan untuk serang-serangan. “Dulu boleh, sebelum ada larangan karena berpotensi menyebabkan kebakaran,” imbuhnya.

Selain itu, tradisi bagi-bagi angpau juga biasa dilakukan. Esensinya sama yakni saling berbagi rezeki.

Biasanya bagi-bagi angpau akan dilakukan orang-orang tua kepada anaknya yang masih kecil. Kalau anak-anaknya sudah bekerja dan berkeluarga, mereka yang memberi ke orang tuanya.

“Itu kan sama saja saat masa lebaran, ngasih-ngasih uang ke kerabat,” ucap Jongkie.

Bahkan, katanya, munculnya Lontong Cap Go Meh tak bisa lepas dari ketupat opor ayam yang menjadi makanan khas muslim di Jawa saat merayakan lebaran. (*)

editor : ricky fitriyanto

Baihaqi Annizar